Valenciennes Januari 2026 H7

Meski Minggu, kami tetap bangun pagi. Jadwalnya Butet ice skating. Mulanya saya dan Paksu berencana ikut mengantar sampai tujuan lalu balik ke hotel jalan kaki. Cuma 2,5 km. Namun kemudian Paksu urung. Sepertinya terlalu dingin untuk berjalan kaki. Masih Subuh juga. Dan kami akan terburu-buru salat kalau harus bersiap keluar rumah mengejar tramway nomor 1 terpagi di hari Minggu.

Paksu pun hanya mengantar Butet sampai halte tramway. Teman Butet yang kadang naik tram tak terlihat. Kami pikir mungkin dia naik sepeda. Kami dapati kemudian kalau dia absen hari ini.

Pulang dari ice skating, Butet langsung mandi. Memanfaatkan keberadaan air panas yang melimpah. Tak perlu "berebut" dengan penghuni asrama seperti biasanya.

Usai mandi, Butet istirahat. Saya dan Paksu juga santai-santai menunggu waktu makan siang. Kami sudah memesan tempat di restoran dekat hotel. Kebetulan, baru saja Kamis lalu ibu Brigitte Macron makan siang di sana tuh!

Restorannya kecil saja. Sederhana. Bukan yang mewah dengan protokol strict. Harganya pun normal, terjangkau. Menyesal saya urung mengambil foto saat restoran masih sepi.

Kami memesan tempat pas jam 12, jam mulai buka. Butet harus ke kampus jam 2 untuk memindai gambar-gambar pengisi portofolionya. Kami pikir, kami yang tercepat. Ternyata sudah ada pelanggan lain yang duduk manis di sana.

Kami sengaja tak mengambil hidangan pembuka untuk menyingkat waktu. Pelayanannya cukup cepat. Butet bisa mengejar tram sebelum jam 1. Dia bisa mampir ke asrama dengan tenang untuk mengambil bahan-bahan yang hendak dipindai.

Saya dan Paksu melanjutkan makan. Kami mengambil dessert. Tidak ada yang spesial, tapi kami ingin bersantai saja. Personil restoran juga sibuk mengurusi pelanggan lain. Namun kemudian kami memutuskan pergi saat ada konsumen yang datang untuk ke sekian kalinya tanpa memesan tempat. Sudah ada beberapa yang ditolak selama kami makan.

Kami tak langsung kembali ke hotel. Tadinya ingin membeli permen sotisse khas Valenciennes. Ternyata tokonya tutup Minggu siang dan Senin. 

Rumah kayu dibangun abad XVI

Lalu kami menuju rumah yang katanya paling tua di Valenciennes. Ternyata dekat sekali. Kami pun balik kanan dan berganti jalur, menyusuri jalan yang belum pernah kami lewati.

Tak ada hal khusus yang kami cari. Berputar-putar saja sambil mencerna. Sempat melewati toko kue yang sudah saya idamkan sejak lama. Sayangnya kami tentu saja masih sangat kenyang. Kami berniat membelinya daam perjalanan pulang. Sayangnya tak kesampaian karena jalur pulang berbeda! 

Valenciennes sepi di hari Minggu. Pusat perbelanjaan Place d'Armes tutup. Kebanyakan restoran juga tutup. Tempat kami makan siang tak buka untuk makan malam. Mereka juga tutup hari Senin. Terlihat rumah makan yang buka dipenuhi pelanggan.

Butet tak kembali ke hotel. Dia kelelahan dan perlu mengerjakan tugas dengan tenang. Saya dan Paksu pun makan di luar lagi. Ternyata malam berhujan!

Tujuan kami adalah bistrot yang kami lewati saat jalan-jalan siang. Kami pergi tanpa memesan. Berharap masih ada tempat, mengingat rumah makan yang buka di Minggu malam lebih sedikit lagi. Dan dapat!

Saat kami datang sudah lewat jam 7 malam, bistrot masih terlihat luang. Sedikit demi sedikit, orang berdatangan. Ada yang sudah memesan tempat, ada yang mengadu untung seperti kami. Akhirnya bistrot penuh juga.

Saat kami pulang, hujan masih turun kecil. Saya merasa beruntung karena prakiraan cuaca sebelumnya meramalkan hujan sepanjang akhir pekan. Ternyata Sabtu dan Minggu kami cukup cerah. Semoga saja hujan malam ini membersihkan awan-awan sehingga hari terakhir kami di Valenciennes besok pagi juga cerah. 


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi