Posts

Senyapkan Notifikasi demi Kewarasan

Image
Saat tema  Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September 2026 diumumkan tanggal 5 lalu, saya mengerutkan kening. Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup ? Apa ya? Rasanya perubahan dalam hidup saya terjadi karena keputusan-keputusan besar, deh. Lalu dipikir-pikir lagi, semua keputusan yang kita ambil bukannya mengubah hidup ya!? Soal kita makan atau tidak makan dan apa yang kita makan pun berefek ke dalam tubuh dan hidup kita. Kita bangkit dari duduk atau memilih tetap baringan pun ada pengaruhnya. Meski memang mungkin tak langsung terasa tepat sesudah aksi kita. Seperti efek kupu-kupu lah ya. Semoga nggak sampai mendatangkan badai saja! Namun kedua pemikiran itu tak menyelesaikan masalah saya: apa yang akan saya tulis untuk tantangan? Heu .... Seusai menulis soal penyelundupan kemarin, barulah saya mendapat ide. Agak jauh sih, kalau dilihat permukaannya saja. Tapi nyambung dengan kondisi di mana saya tidak bisa berbohong. Jadi begini.... Pernah nggak, menerima pesan ...

Lanjutan Kasus Novel AI

Menjelang akhir Oktober begini, saatnya saya mencari ide mau beli buku apa. Iyes, untuk menghadiahi diri sendiri. Sementara ini sudah ada buku Indonesia yang rencananya mau dibeli di Google Books. Semoga lancar, bisa bayarnya. Bukan karena dana tak sampai. Itungannya, buku Indonesia di Google Books itu murah-murah. Yang pengin saya beli nanti cuma setengah dari harga buku di Prancis, versi poche (pocket, saku)! Masalahnya, saya sering kesulitan membeli online dari Indonesia karena portal yang tak menerima kartu kredit dari luar. Karena alasan ini juga saya tak menginstal Gramedia Digital, misalnya. Karena untuk membeli pulsa demi mempertahankan masa aktif SIM card Indonesia saya saja kadang lolos kadang tidak. Begitu pula saat mau memesankan makanan untuk keluarga di Indonesia. Kalau Tokopedia sih wassalam, kecuali kalau sedang ada dana GoPay yang mencukupi. Yang itu tak bisa di-top up dari rantau juga. Hicks. Tapi ini kan Google Books ya. Mustinya lancar sih. Aamiin. Biasanya, saya me...

Tahun Kedua di Level 3 Kursus Bahasa Jepang

Minggu ini adalah minggu kedua periode libur sekolah musim gugur. Tapi hari ini ada jadwal kursus bahasa Jepang yang biasanya juga ikut libur. Kursus kali ini diadakan untuk mengantisipasi absennya Sensei di bulan Desember nanti untuk pulang kampung ke Tokyo. Rabu lalu sih tak ada kursus. Kebetulan. Di jam yang sama, saya mengikuti pertemuan orang tua mahasiswa dari kampus si Butet. Kalaupun ada kursus, saya bakalan absen juga. Tak terasa sudah masuk tahun kelima saya kursus bahasa Jepang. Tetap, JANGAN ajak saya berbincang dengan bahasa Jepang! Saya masih belum bisa. Hicks. Ini adalah tahun kedua saya di level 3 (B1) . Level paripurna kursus bahasa Jepang di Cannes Université. Tak ada level lain lagi. Akibatnya, pesertanya di level 3 ini campur-campur, profilnya: ada yang baru naik dari level 2, ada yang sudah entah berapa tahun di level yang sama. Tahun lalu, saya adalah satu dari dua peserta level 2 yang berani mencoba naik ke level 3. Hanya saya yang bertahan. Teman saya memilih tu...

Seminggu setelah UM ITB 2026

Image
Senin pagi, saat membuka Whatsapp, saya melihat ada tanda tagging di grup runners keluarga. Ah, paling "tag all", pikir saya. Saya tak langsung membuka pesan di grup. Saat kemudian membukanya, ternyata tag-nya untuk saya. Tag terima kasih atas peran saya dalam Ultra Marathon ITB 2026 yang baru seminggu berlalu. Eits tunggu dulu! Saya tidak mudik diam-diam. Apalagi ikut ultra marathon. Yang R16 sekalipun. Dengan jalan kaki pun! Dan saya masuk ke dalam grup runners keluarga itu bukan sebagai pelari. Lutut sudah tak mengizinkan, sodara-sodaraaa.... Saya dimasukkan ke dalam grup karena menyanggupi untuk membantu grup runners keluarga yang mengirimkan dua tim  dalam UM ITB 2026. Saya mendapatkan tugas sebagai controller , mencatat pewaktuan tiap pelari, secara daring. Controller khusus untuk tim keluarga besar anak-cucu eyang dari pihak Paksu. Ya! Memang di keluarga besar dari jalur ibu mertua ada banyak alumni ITB. Ibu mertua saya sendiri 11 bersaudara. Dua di antaranya alumni I...

Marche Solidaire Octobre Rose 2026 06110

Image
Minggu 25 Oktober pagi kemarin, saya dan Paksu mengikuti Marche Solidaire dalam rangka Octobre Rose. Semacam jalan sehat lah. Dalam rangka memeriahkan Pink October, bulan kesadaran kanker payudara. Tadinya saya ragu mau ikut atau tidak. Alasannya adalah flyer-nya yang saya curigai dibuat menggunakan AI. Saya memang tim yang menolak mengikuti kegiatan yang promosinya menggunakan AI generatif. Apalagi untuk even pemerintahan. Apalagi pemerintahan kota yang cukup besar yang memiliki banyak sumber daya. Kalau akhirnya ikut, selain pengen "dipaksa" jalan, itu banyak didorong oleh promo personil dinas pariwisata.  Ceritanya saya ke toko dinas pariwisata untuk ikut menyumbang dalam pengumpulan dana untuk asosiasi yang aktivitasnya berhubungan dengan kanker payudara. Caranya adalah dengan membeli kaus pink seharga 5 euro saja. Saya membelinya untuk si Butet. Saat membeli itu, personil toko bertanya apakah saya sudah mendaftar jalan santai. Yang saya jawab belum. Mereka—ada dua person...

Lebih Dikenal karena Bencana

Image
Lebih dari seperempat abad merantau, banyak perubahan yang terjadi, baik itu di tanah air, maupun di tanah rantau. Bukan... bukan soal pembangunan insfrastruktur atau perkembangan teknologi. Dan jelas, saya tak mau membicarakan tentang politik—sensitif — atau ekonomi  yang tak saya kuasai. Saya lebih mengkhususkan pada budaya. Kultur. Ada kesamaan soal kultur, baik di tanah air dan tanah rantau: dua-duanya semakin terbuka saja. Semakin terbuka dalam menerima kultur lain. Dilihat dari sisi positif maupun negatifnya. Menurut sudut pandang saya pribadi, tentunya ya! Tapi tahukah Anda, 25 tahun yang lalu, Indonesia tak begitu dikenal oleh penduduk tanah rantau saya? Dan sebaliknya, tak banyak orang Indonesia yang mengenal kota rantau saya?  Dan tahukah Anda, bahwa dua bencana lah yang membuat tanah air dan kota rantau saya makin dikenal? Tsunami Aceh 2004 Awal berita tsunami Desember 2004 masuk ke Prancis, yang diberitakan adalah Thailand. Memang Thailand saat itu saya tangkap mer...

Demonstrasi Gabungan 17 Oktober

Minggu pagi, saat buka Whatsapp saya lihat ada yang menge-tag saya di grup alumni kuliah. Rupanya ada seorang kawan yang menanyakan tentang kerusuhan yang terjadi Sabtu, 17 Oktober 2026 akibat demonstrasi di Prancis. Alhamdulillah Cannes aman. Butet di Valenciennes juga aman. Yah, relatif.... Sabtu malam ada kabar terjadinya kebakaran di sebuah tempat permainan anak-anak.  Lokasinya ini sebenarnya jauh dari tempat tinggal Butet. Namun satu lingkungan dengan icerink tempat Butet biasa ice skating.  Saat Minggu pagi ke sana, Butet melihat suasana masih cukup mencekam. Entah karena sepi awal periode libur sekolah musim gugur, atau karena pemandangan gedung dan bau hangus yang masih menguar kuat. Kebakaran terjadi malam hari. Jauh sesudah demonstrasi berakhir. Sampai saat menulis ini, masih belum jelas pelakunya dan apa alasannya. Demonstrasi di Valenciennes sendiri berjalan aman dan lancar Sabtu siang. Dan daerah itu tidak termasuk jalur demonstran. Namun memang, daerah itu diken...

Polemik Novel AI

Kemarin, ada pembicaraan mengenai penggunaan AI di sebuah wag yang saya ikuti, yang tak perlu saya sebutkan karena toh sebagian besar pembaca blog saya ini—yang jumlahnya hanya hitungan jari — berasal dari komunitas tersebut! Hihihihi.  Tapi tentu saja saya tak mau membahas diskusi kami di sana. Privilese anggota wag lah yaaa.... Kemarin, saya ikut nimbrung menceritakan tentang skandal novel yang dinominasikan dalam berbagai penghargaan sastra Prancis tahun ini. Novel tersebut dilaporkan oleh seorang jurnalis (yang mula-mula anonim) dideteksi oleh Pangram dibuat dengan menggunakan AI. Level tinggi. Beberapa bagian bahkan sampai 100%! Tentu saja ini menimbulkan kehebohan besar! Bagaimana mungkin tim juri yang terdiri dari tokoh-tokoh sastra itu kecolongan? Apakah semua buku yang masuk nominasi juga dites muatan AI-nya? Apakah Pangram, yang memang sudah sempat menimbulkan polemik karena mendeteksi karya Victor Hugo sebagai karya AI, bisa dipercaya?  Efek rasisme kah? Kebetulan p...