Posts

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Image
Akhirnya Rabu sore ini saya memilih absen ke kursus bahasa Jepang lagi. Saya absen tadarus dan menyimak kajian Rabu pagi sambil baringan. Makan siang pun kembali memanfaatkan layanan pesan antar. Rasanya terlalu maksa kalau saya malah tetap pergi kursus.  Meski sudah jauh lebih enak, nafas saya masih berat. Badan masih lekas lelah. Narasi kyō, musume ga ie ni kaerimashita  dari Rabu lalu yang sudah saya siapkan adaptasinya dengan mengganti kyō menjadi senshū no suiyōbi  pun batal saya presentasikan.  Cukup berat untuk absen lagi. Mengingat bahwa Rabu ini merupakan kursus terakhir sebelum masuk periode libur musim semi selama dua minggu ke depan. Total, saya tidak kursus 4 minggu berturut-turut sebelum masuk lagi 29 April nanti. Insya Allah. Semoga sehat, aamiin. Sambil memasak ayam oven untuk makan malam, saya membuka-buka bahan pelajaran sebelumnya. Bukan, bukan untuk belajar. Saya ingin menyusun kertas-kertas fotokopian dan catatan yang masih lepas ke dalam binde...

Agenda yang Terlaksana

Banyak agenda tak terlaksana pada periode mudik kemarin. Agenda, berarti yang dianggap penting untuk dilaksanakan. Itu di luar bertemu dengan teman dan keluarga sangat besar. Bukan berarti mereka tak penting ya. Apa daya waktu yang memang tak memungkinkan saja. Entah berapa "maaf" yang saya sampaikan selama dua minggu ini karenanya. Maaf tak bisa bertemu, juga maaf tak mengabari. Mengabari, untuk beberapa orang membawa tuntutan untuk bertemu.  Saya memilih mengabari mereka yang lain. Mereka yang menanyakan apakah sempat dan meminta saling mengontak jika kebetulan sama-sama berada di suatu tempat. Mereka ini terbukti bisa memahami saat akhirnya kami belum berjodoh untuk bersua. Ah, sudah lah. Sekarang mikirin yang positif saja. Mari kita mencatat hal-hal yang bisa saya capai selama liburan saja! Singgah di Jakarta  Dua tahun yang lalu, kami singgah di Jakarta sebelum bertemu dengan keluarga. Dan kami merasakan manfaatnya: kami sempat sedikit-banyak menghilangkan jetlag, plus s...

Mengapa Pulkam Pendek?

Kenapa mudiknya pendek sekali? Begitu pertanyaan yang sering saya terima pada periode pulang kampung kali ini. Memang, biasanya, paling tidak saya berada di Indonesia tiga minggu penuh. Kali ini, tiga minggunya masih dipotong waktu perjalanan, yang pulang pergi memakan praktis total 2 hari 2 malam. Tentu saja itu bukan yang kami inginkan. Standar 3 minggu diambil berdasar jatah cuti Paksu, yang meskipun total ada 5 minggu per tahun, hanya boleh digunakan secara berturut-turut 3x5 hari kerja. Biasanya kami akali dengan mencari tanggal yang melewati akhir pekan dan/atau libur nasional. Nasionalnya Prancis, tentu saja. Dengan demikian, kami bisa mendapatkan "bonus" liburan tambahan dari 15 hari kerja tadi. Kali ini ada faktor eksternal yang tak terduga.... Karena Butet sudah libur sejak April dan Butet mendapat undangan mengikuti 3 Days in Cannes di bulan Mei, kami berencana ke Indonesia bulan Juni. Harga tiket bulan Juni masih cukup murah. Belum masuk periode harga melonjak di ...

Kembali ke Tanah Rantau

Dan kami pun kembali ke rumah susun kami di rantau, setelah 19 hari meninggalkannya. Kami berangkat 5 Agustus pagi. Sampai di Jakarta keesokan harinya di malam hari. Kami meninggalkan Jakarta 25 Agustus sore dan sampai di Nice 26 Agustus pagi. Singkat, kepulangan kami kali ini. Memang niatnya daripada tidak sama sekali. Mengingat tahun lalu kami tidak ke tanah air karena kesibukan persiapan si Butet yang memulai masa perantauan dan perkuliahannya. Dari 19 hari, kami singgah di Jakarta 4 hari. Niatnya untuk istirahat, menghilangkan jetlag. Menghimpun tenaga untuk bertemu dengan keluarga, yang sering kali membutuhkan stok kesabaran seluas samudera. Heu.... Kali ini kami ke Solo dulu, ke kampung halaman saya. Tidak seperti biasa yang selalu mendahulukan ke Bandung, ke rumah mertua, setiap kali pulkam. Sampai-sampai banyak orang mengira saya orang Bandung! Kebetulan bapak dan ibu berulang tahun masing-masing 11 dan 12 Agustus. Kami bukan tipe yang merayakan ulang tahun secara istimewa. Nam...

KBBI dan EYD Daring: Dua Situs Andalan

Image
Pernah baca-baca tulisan awal-awal saya di blog ini? Duh, maafkan ya, masih banyak sekali salah-salahnya. Entah itu ejaan, tata bahasa, penggunaan huruf besar, miring, tanda baca, .... Belum lagi hobi saya menebar elipsis. Wah, saya pun kalau baca-baca lagi suka jadi jengah sendiri, tuh! Hehehe. Sebagai yang masih baru banget belajar menulis, jelas tulisan saya jauh dari sempurna. Kalau dibaca ulang, rasanya ada saja yang harus diperbaiki dan dikoreksi. Tak hanya tulisan lama. Sampai tulisan yang belakangan pun masih begitu. Meski niat utama menulis adalah untuk membuat catatan pribadi—alias alasan "itu gaya saya" dan menggunakan dalih selingkung di berbagai suasana, tetap saja ada rasa mengganjal saat mendapati kesalahan-kesalahan yang kadang sebenarnya receh saja itu.  Untuk itulah, saya perlu panduan yang tepercaya. Referensi apa lagi yang lebih sahih ketimbang Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Ejaan yang Disempurnakan kan!? KBBI dan EYD: Referensi Wajib dalam Menulis Tentu...

Paris Juli 2026 – 2

Tadinya saya berniat menyelesaikan catatan dua perjalanan sebelum mulai perjalanan ketiga. Tapi apa daya. Antara kelelahan dari dua perjalanan itu sendiri dan mau tak mau kepikiran perjalanan Butet, ditambah suhu panas yang menguras tenaga, saya tak mampu melakukannya. Ya sudahlah. Mari lanjutkan catatan perjalanan ke Paris dulu. Hari ketiga: Selasa 28 Juli Selasa itu saya berjanji temu dengan kawan yang paling sering saya temui di Paris. Saya ke rumahnya pada perjalanan ke Paris sebelumnya. Tadinya sempat terlontar ide untuk kami bertemu di rumahnya. Namun melihat jarak dan repotnya perjalanan dari hotel saya kali ini, kami memilih bertemu di kota saja. Tentu saja, kawan saya itu membawa kedua putranya. Anak-anak cerdas nan soleh yang saya anggap sebagai keponakan saya di Prancis itu memanggil saya dengan sebutan Tata Alfi. Si sulung langsung bercerita panjang lebar begitu kami bertemu. Dari soal mobil, kereta api, antariksa, ... mengingatkan saya pada Ucok saat seusianya. Sementara s...

Paris Juli 2026 — 1

Perjalanan kedua saya adalah ke Paris. Paris lagi? Yak! Kali ini, tujuan utamanya lagi-lagi bukan untuk jalan-jalan. Saya ke Paris karena mengintil Paksu yang harus ngantor. Butet sedang keliling Eropa. Ucok nggak pulang. Daripada sendirian, saya ikut saja! Hehehe. Perjalanan ke Paris kali ini juga mengandung misi yang tidak terselubung, sih. Yaitu survey kota-kota yang prospektif jadi calon tempat tinggal kalau kami harus pindah ke Paris. Kota-kota sekitaran Paris, tentunya. Kalau Parisnya sendiri, masih kemahalan untuk kami! Karenanya, Paksu mengambil hotel di Achères. Sebuah kota kecil di barat Paris yang bahkan teman-teman yang saya ceritai tak mengenalnya. Yang jelas kota ini bisa diraih dengan sekali RER untuk ke kantor Paksu! Hari 1: Minggu 26 Juli Kami berangkat Minggu pagi. Kami langsung ke hotel yang dengan baiknya langsung mempersilakan kami masuk kamar meski baru lewat tengah hari. Padahal kami berniat menitipkan bawaan saja dan langsung ke pusat kota untuk makan siang. Sel...

Budapest Juli 2026

Agustus datang. KLIP semester 2 dimulai. Seperti yang sudah sempat saya singgung di pengantar karya tulis, sudah ada 2 perjalanan ke luar kota yang terealisasi. Kali ini, saya ingin mencatat yang pertama dulu. Discover EU Perjalanan ke Budapest ini berlatar belakang cukup unik.  Ceritanya, Butet mengikuti kompetisi Discover EU. Seperti namanya, kompetisi ini diadakan oleh komite Uni Eropa, khusus untuk pemuda-pemudi usia 18 tahun yang tinggal di negara-negara yang berpartisipasi dalam Erasmus+. Lengkapnya, silakan baca sendiri di website European Youth Portal ya! Singkatnya, Butet menjadi salah satu pemenang kompetisi dan memeroleh hadiah berupa travel pass, yang dalam kasus Butet adalah Pass Eurorail dan tiket pp dari Eropa daratan ke Islandia yang tak bisa diakses dengan kereta api. Mulanya, kami mengizinkan Butet mengikuti kompetisi ini karena dia mendaftar bersama seorang teman kuliahnya. Ternyata menjelang pengumuman, temannya itu menyatakan mundur. Setelah berdiskusi panjang...