Posts

Senyapkan Notifikasi demi Kewarasan

Image
Saat tema  Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September 2026 diumumkan tanggal 5 lalu, saya mengerutkan kening. Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup ? Apa ya? Rasanya perubahan dalam hidup saya terjadi karena keputusan-keputusan besar, deh. Lalu dipikir-pikir lagi, semua keputusan yang kita ambil bukannya mengubah hidup ya!? Soal kita makan atau tidak makan dan apa yang kita makan pun berefek ke dalam tubuh dan hidup kita. Kita bangkit dari duduk atau memilih tetap baringan pun ada pengaruhnya. Meski memang mungkin tak langsung terasa tepat sesudah aksi kita. Seperti efek kupu-kupu lah ya. Semoga nggak sampai mendatangkan badai saja! Namun kedua pemikiran itu tak menyelesaikan masalah saya: apa yang akan saya tulis untuk tantangan? Heu .... Seusai menulis soal penyelundupan kemarin, barulah saya mendapat ide. Agak jauh sih, kalau dilihat permukaannya saja. Tapi nyambung dengan kondisi di mana saya tidak bisa berbohong. Jadi begini.... Pernah nggak, menerima pesan ...

Strasbourg November 2026

Strasbourg merupakan ibukota dari Region Grand-Est (dulu: Alsace). Kota ini berbatasan dengan Luksemburg di utara, Jerman di timur, dan Swiss di selatan.  Strasbourg terkenal dengan pasar Natalnya. Namun kami tak menunggu periode Natal.  Natal adalah satu-satunya periode di mana Butet bisa pulang. Di luar itu tak bisa menjamin kelonggaran waktunya. Begitu pula si Ucok. Karenanya, kami lebih ingin berkumpul di rumah meski kami tak merayakan Natal. Pun tahun baru. Kami hanya 3 malam di Strasbourg. Datang Kamis sore, Minggu sudah pulang. Apalagi Butet yang harus berkereta jam 6 pagi. Memang dia yang waktunya paling terbatas. Saya yang ibu rumah tangga relatif fleksibel, Paksu bisa WFH dari segala penjuru Prancis. Kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak sekitar sebulan yang lalu. Tak menyangka akan ada demo besar-besaran yang dijadwalkan 31 Oktober. Kami pun berpikir untuk ke Colmar saja hari itu. Tapi itu ceritanya nanti saja.  Kali ini, saya ingin mencatat periode kami...

Kado Dua Buku

Image
Dan keraguan saya untuk akhirnya "nekat" tetap membeli buku fisik pun terjadi. Belum 24 jam, tekad untuk menahan diri itu runtuh. Banyak alasan yang mendukung. Heu.... Pertama tentunya menjaga tradisi "buku baru saat ultah". Butet saja sampai menagih papanya. Tapi papanya keukeuh nggak mau beliin. One in, one out, katanya. Dengan beralasan bahwa ada satu buku yang keluar rumah karena saya bawa untuk Butet sekalipun. Padahal emang itu buku milik Butet yang saya baca duluan, sekalian bekal perjalanan. Hihihi. Alasan kedua adalah "suvenir perjalanan". Ya, Kamis hingga Minggu kemarin kami ke Strasbourg, sebuah kota di arah timur laut Prancis. Ceritanya, seminggu kemarin ini Butet libur. Ya hanya satu minggu. Tidak seperti libur standar anak sekolah. Sudah mahasiswa kali ya? Meski nggak semua begitu juga. Butet tidak mau mudik. Banyak tugas, katanya. Dan memang saat kami ketemu kemarin, dia membawa pekerjaan rumahnya. Saya sempat menemaninya mengerjakan tugasny...

Lanjutan Kasus Novel AI

Menjelang akhir Oktober begini, saatnya saya mencari ide mau beli buku apa. Iyes, untuk menghadiahi diri sendiri. Sementara ini sudah ada buku Indonesia yang rencananya mau dibeli di Google Books. Semoga lancar, bisa bayarnya. Bukan karena dana tak sampai. Itungannya, buku Indonesia di Google Books itu murah-murah. Yang pengin saya beli nanti cuma setengah dari harga buku di Prancis, versi poche (pocket, saku)! Masalahnya, saya sering kesulitan membeli online dari Indonesia karena portal yang tak menerima kartu kredit dari luar. Karena alasan ini juga saya tak menginstal Gramedia Digital, misalnya. Karena untuk membeli pulsa demi mempertahankan masa aktif SIM card Indonesia saya saja kadang lolos kadang tidak. Begitu pula saat mau memesankan makanan untuk keluarga di Indonesia. Kalau Tokopedia sih wassalam, kecuali kalau sedang ada dana GoPay yang mencukupi. Yang itu tak bisa di-top up dari rantau juga. Hicks. Tapi ini kan Google Books ya. Mustinya lancar sih. Aamiin. Biasanya, saya me...

Tahun Kedua di Level 3 Kursus Bahasa Jepang

Image
Minggu ini adalah minggu kedua periode libur sekolah musim gugur. Tapi hari ini ada jadwal kursus bahasa Jepang yang biasanya juga ikut libur. Kursus kali ini diadakan untuk mengantisipasi absennya Sensei di bulan Desember nanti untuk pulang kampung ke Tokyo. Rabu lalu sih tak ada kursus. Kebetulan. Di jam yang sama, saya mengikuti pertemuan orang tua mahasiswa dari kampus si Butet. Kalaupun ada kursus, saya bakalan absen juga. Tak terasa sudah masuk tahun kelima saya kursus bahasa Jepang. Tetap, JANGAN ajak saya berbincang dengan bahasa Jepang! Saya masih belum bisa. Hicks. Ini adalah tahun kedua saya di level 3 (B1) . Level paripurna kursus bahasa Jepang di Cannes Université. Tak ada level lain lagi. Akibatnya, pesertanya di level 3 ini campur-campur, profilnya: ada yang baru naik dari level 2, ada yang sudah entah berapa tahun di level yang sama. Tahun lalu, saya adalah satu dari dua peserta level 2 yang berani mencoba naik ke level 3. Hanya saya yang bertahan. Teman saya memilih tu...

Seminggu setelah UM ITB 2026

Image
Senin pagi, saat membuka Whatsapp, saya melihat ada tanda tagging di grup runners keluarga. Ah, paling "tag all", pikir saya. Saya tak langsung membuka pesan di grup. Saat kemudian membukanya, ternyata tag-nya untuk saya. Tag terima kasih atas peran saya dalam Ultra Marathon ITB 2026 yang baru seminggu berlalu. Eits tunggu dulu! Saya tidak mudik diam-diam. Apalagi ikut ultra marathon. Yang R16 sekalipun. Dengan jalan kaki pun! Dan saya masuk ke dalam grup runners keluarga itu bukan sebagai pelari. Lutut sudah tak mengizinkan, sodara-sodaraaa.... Saya dimasukkan ke dalam grup karena menyanggupi untuk membantu grup runners keluarga yang mengirimkan dua tim  dalam UM ITB 2026. Saya mendapatkan tugas sebagai controller , mencatat pewaktuan tiap pelari, secara daring. Controller khusus untuk tim keluarga besar anak-cucu eyang dari pihak Paksu. Ya! Memang di keluarga besar dari jalur ibu mertua ada banyak alumni ITB. Ibu mertua saya sendiri 11 bersaudara. Dua di antaranya alumni I...

Marche Solidaire Octobre Rose 2026 06110

Image
Minggu 25 Oktober pagi kemarin, saya dan Paksu mengikuti Marche Solidaire dalam rangka Octobre Rose. Semacam jalan sehat lah. Dalam rangka memeriahkan Pink October, bulan kesadaran kanker payudara. Tadinya saya ragu mau ikut atau tidak. Alasannya adalah flyer-nya yang saya curigai dibuat menggunakan AI. Saya memang tim yang menolak mengikuti kegiatan yang promosinya menggunakan AI generatif. Apalagi untuk even pemerintahan. Apalagi pemerintahan kota yang cukup besar yang memiliki banyak sumber daya. Kalau akhirnya ikut, selain pengen "dipaksa" jalan, itu banyak didorong oleh promo personil dinas pariwisata.  Ceritanya saya ke toko dinas pariwisata untuk ikut menyumbang dalam pengumpulan dana untuk asosiasi yang aktivitasnya berhubungan dengan kanker payudara. Caranya adalah dengan membeli kaus pink seharga 5 euro saja. Saya membelinya untuk si Butet. Saat membeli itu, personil toko bertanya apakah saya sudah mendaftar jalan santai. Yang saya jawab belum. Mereka—ada dua person...

Lebih Dikenal karena Bencana

Image
Lebih dari seperempat abad merantau, banyak perubahan yang terjadi, baik itu di tanah air, maupun di tanah rantau. Bukan... bukan soal pembangunan insfrastruktur atau perkembangan teknologi. Dan jelas, saya tak mau membicarakan tentang politik—sensitif — atau ekonomi  yang tak saya kuasai. Saya lebih mengkhususkan pada budaya. Kultur. Ada kesamaan soal kultur, baik di tanah air dan tanah rantau: dua-duanya semakin terbuka saja. Semakin terbuka dalam menerima kultur lain. Dilihat dari sisi positif maupun negatifnya. Menurut sudut pandang saya pribadi, tentunya ya! Tapi tahukah Anda, 25 tahun yang lalu, Indonesia tak begitu dikenal oleh penduduk tanah rantau saya? Dan sebaliknya, tak banyak orang Indonesia yang mengenal kota rantau saya?  Dan tahukah Anda, bahwa dua bencana lah yang membuat tanah air dan kota rantau saya makin dikenal? Tsunami Aceh 2004 Awal berita tsunami Desember 2004 masuk ke Prancis, yang diberitakan adalah Thailand. Memang Thailand saat itu saya tangkap mer...