Brussels Februari 2026 H2
Hari kedua di Brussels, kami mulai dengan ... sahur, tentu saja! Sahur ayam goreng tepung yang dingin, ditemani kentang goreng dingin yang tentu saja tidak enak. Kentangnya. Ayamnya sih alhamdulillah enak-enak saja.
Sesampai hotel malam sebelumnya, kami mengecek Uber Eats dan tak menemukan rumah makan yang buka sampai pagi. Padahal room service hanya menyediakan pizza margherita seharga 20 euros yang tentu saja tak kami minati. Karenanya, kami memilih pesan makanan malam-malam sebelum tidur saja. Daripada malah tidak ada sahur, kan!?
Herannya, Sabtu malamnya kami menemukan beberapa rumah makan yang buka sampai jam 5 pagi. Entah kurang cermat mencari, entah memang pada tutup Jumat malam saja. Tidak banyak. Tapi paling tidak kami bisa sahur dengan makanan hangat Minggu pagi.
Usai Subuh, saya mengejar setoran terakhir KLIP bulan Februari yang sudah mepet. Terlewat saja niat menyelesaikan draft yang sebenarnya sudah dirintis sebelum berangkat. Sambil menunggu terbitnya matahari. Sayang, ternyata langit berawan. Pemandangan sunrise pun harus dilupakan.
Entah karena lega sudah menggenapi 10 setoran, entah karena memang baru merasakan lelahnya perjalanan, saya sempat tertidur. Hanya terbangun sesekali saat Butet mandi, tak terganggu oleh suara ketikan di laptopnya mengerjakan tugas di atas kasur yang sama dengan yang saya tiduri.
Sabtu pagi kami berniat jalan-jalan. Tak bisa lama. Musti menghemat tenaga untuk berjaga sampai malam menonton konser, kan!? Tapi rasanya sayang kalau tak jalan-jalan sama sekali juga kan!?
Niatnya sih sekalian memanfaatkan waktu untuk mencari makan siang Butet. Namun Butet merasa tak lapar setelah makan ayam sisa sahur saya dan Paksu. Sudah brunch, katanya.
Usulan Paksu untuk ke Parc du Cinquantenaire (Jubelpark) saya tolak. Jauh sih sudah tahu. Tapi ternyata tak bisa diraih dengan sekali jalan. Harus berganti moda transportasi.
Kami pun sepakat untuk ... shopping!
Hahaha. Nggak juga siiih. Tepatnya, kami hanya berniat membeli cardigan untuk Butet. Tapi akhirnya malah benar-benar shopping! Eh? Hihihi.
Kami ke kita berjalan kaki. Ada rintik halus seperti yang sering terjadi di Lille dan Valenciennes. Memang dekat sih ya!? Wajar kalau iklimnya sama. Angin kencang mendorong kami. Kami bersyukur, berjalan searah angin! Hihihi.
Butet, sebagai yang mau ditraktir, kami minta untuk memilih jalur perjalanan. Dia membelokkan sedikit ke sebuah toko buku (hadeuh!). Saat sampai di depannya, kami sempat ragu. Tokonya terlihat tua dan bertuliskan librairie technique, toko buku teknis. Apa maksudnya ya?
Saat kami masuk, penjaga toko ternyata masih muda dan modis. Bukan orang tua, seperti yang saya bayangkan. Tokonya kecil saja. Tak banyak buku fiksi di dalamnya, meski saya melihat banyak buku anak.
Butet menemukan sebuah buku yang disusun oleh salah satu dosennya yang sulit ditemukan. Kami pun luluh, membelikannya sebagai hadiah diterima di bachelor animasi 3D (alasan). Penjaga toko langsung menebak apakah dia mahasiswa film animasi.
Kami melanjutkan perjalanan. Jalurnya relatif sama dengan jalur perjalanan kami Jumat malam. Bedanya: kami memilih trotoar di sisi satunya lagi. Tak harus memutar jauh!
Brussels Sabtu pagi lebih sepi ketimbang Jumat malam. Lebih ribet, lebih berantakan. Kemacetan, perbaikan jalan, parkir sembarangan, pengemis, ... Kota besar lah ya. Ibukota negara, pula.
Kami langsung menuju Uniqlo. Setelah mencoba-coba, Butet mengambil cardigan yang disarankan papanya ... yang ternyata barang promo. Pinter, paksu ya? Hahaha. Tapi bagus kok. Dan sesuai yang diinginkan anaknya juga.
Kami sempat menelusuri Flying Tiger sebelum memutuskan untuk pulang. Usulan Paksu untuk keukeuh ke Parc de Cinquantenaire dipatahkan oleh angin yang kencang. Plus niatnya membeli patisserie orientale yang sempat dilihatnya di perjalanan. Heu.... Ke Belgia bukannya beli coklat, kok malah beli kue Magribi ya?
Kami berjalan santai. Kali ini melawan arah angin, dan rintik hujan yang mengikutinya. Tak ada gunanya mengelap kaca mata. Biarkan saja, asal masih bisa melihat, tentunya!
Di tengah perjalanan, Butet memutuskan untuk masuk ke salah satu toko komik. Kami melihat ada banyak toko komik di pusat kota Brussels. Pikir-pikir, mosok ke Belgia nggak ke toko komik, ya!?
Sepertinya kami memilih toko yang tepat. Ada banyak ragam koleksi komik di toko itu. Belakangan kami dapati toko sebelah adalah toko yang sama, tapi khusus untuk manga.
Setelah melihat-lihat dan menimbang-nimbang, Butet keluar menenteng satu karya komikus Inggris. Lah??? Yang jelas kali ini dia membayar dengan uang sakunya sendiri!
Kami melanjutkan perjalanan pulang di tengah rintik yang datang dan pergi. Tak lupa mampir ke toko roti dan kue Tunisia, Le Star de Tunis idaman Paksu. Kali ini, tokonya rame. Meski kecil, diberlakukan sistem antrian.
Saya dan Butet memilih menunggu di luar. Orang-orang yang belanja di sana sepertinya sudah langganan. Mereka tak masuk. Hanya menjulurkan tangan meraih tiket antrian. Mereka yang keluar dari toko membawa tas besar berisi tumpukan kotak kue yang besar-besar.
Saat Paksu keluar dengan tas plastik kecil berisi satu kotak kue kecil, kami menertawainya. Kami bilang memalukan, dibanding pembeli lain. Bercanda, tentunya. Karena pada dasarnya kami cenderung tak suka patisserie oriental. Terlalu manis.
Ternyata yang ini beda! Manisnya pas. Kuenya pun enak sekali. Pantas saja banyak yang mengantri begitu. Tetap saja kami tak berhasil menghabiskannya dan harus membawanya kembali ke Cannes, dengan tidak merasa terpaksa! Hahaha.
Jadi, kalau ditanya apa oleh-oleh dari Brussels, jawabannya adalah buku, komik, dan patisserie orientale!
Sesampai di hotel, saya kelelahan. Bagaimanapun juga, kami sudah berjalan 5 km. Belum termasuk saat di dalam pertokoan. Saya pun sukses tidur sampai waktunya harus memesan makanan untuk berbuka.
--- bersambung lagi, insya Allah ---

Comments
Post a Comment