Paris Maret 2026 H1
Dari sebelum Ramadan, saya dan Paksu sudah menghitung, kapan perkiraan Lebaran? Dan Paksu mengusulkan, bagaimana kalau kami berlebaran di Paris saja. Sekalian dia ke kantor, yang dijadwalkan sekali sebulan.
Tadinya, saya sempat berpikir apakah berlebaran di Valenciennes saja. Namun, dengan perkiraan 19 atau 20 Maret yang jatuh pada Kamis dan Jumat, Butet tak bisa ikut salat Id. 20 Maret praktis adalah hari terakhirnya kuliah sebelum memasuki periode wawancara seleksi masuk jenjang bachelor di Rubika ... untuk teman-temannya yang belum dipanggil pada periode awal, seperti dirinya akhir Februari lalu.
Kami pun memutuskan berangkat Kamis (19 Maret) pagi agar Paksu bisa langsung ke kantor, lalu salat Id Jumat. Sabtu siang Butet menyusul bergabung. Kami punya hari Minggu seharian untuk ke Museum Louvre, permintaan Butet. Senin siang bubaran: saya dan Paksu ke Cannes dan Butet kembali ke Valenciennes.
Kalau ternyata Idulfitri jatuh Kamis? Ya ke kantornya Jumatnya. Nggak masalah! Kebetulan tak ada agenda rapat penting. Hanya menggugurkan kewajiban ke kantor saja.
Kami ingin merasakan salat Id di kedutaan Indonesia di Paris. Entah di kantor kedutaan, entah di wisma dinas duta. Seperempat abad merantau di Prancis, kami memang belum pernah merasakannya!
Saya dan Paksu menggunakan pesawat Air France dari Nice ke bandara Orly jam 7 pagi. Kami berangkat sesudah sahur dan salat Subuh. Rencananya, kami naik bus bandara. Namun melihat harga Uber Drive yang sama dengan 2x tiket bus, kami pun memilih memanggil Uber.
Dari bandara Orly, kami berpisah. Paksu mengambil metro nomor 14 untuk ke kota dan saya ke terminal bus untuk mengirit biaya. Rasanya berat, membayar 14 euro (harga spesial tiket M14 dari/ke bandara) hanya untuk 2 stasiun saja.
Setelah menimbang dan berpikir panjang, saya memutuskan untuk mengunjungi seorang sahabat Indonesia, sesama anggota MPP, di kota Creteil, pinggiran Paris. Dengan izin kawan saya itu, tentunya ya! Mulanya agak keder karena menurut Google Map, perjalanan memakan waktu 40 menit hingga 1 jam. Namun kata suami, 1 jam di Paris itu dekat! Duh!
Dan saya memang orang kampung. Merasakan bus kota besar adalah suatu pengalaman yang spesial untuk saya. Hiruk-pikuk kota, orang-orang yang tergesa, membuat saya pusing dan merasakan mual mulai datang mendera. Saya menarik nafas menenangkan diri. Sepertinya ditambah kondisi duduk membelakangi arah kendaraan yang melaju kencang, berguncang-guncang di jalan aspal yang sepertinya tak rata.
Sampai di halte yang ditunjukkan kawan saya, saya turun dan langsung bernafas lega. Udara segaaar. Tak hanya memang suhu yang sedang menyenangkan. Namun juga lokasi yang merupakan bagian dari Parc Interdepartementale. Saat berjalan menuju alamat tujuan, kawan saya terlihat datang menjemput.
Kemarin itu adalah ketiga kalinya kami bertemu. Kami jarang berkontak online. Namun itu tak menghalangi keakraban dan keseruan kami berbincang. Meski tanpa kudapan. Kan masih Ramadan, tuh!
Saya ikut dengannya menjemput dua putranya dari sekolah saat jam makan siang. Kami datang terlambat karena jalan memutar, melewati masjid Creteil yang masya Allah keren sekali! Alhamdulillah sekolahnya baik, menjaga dua anak saleh yang juga sabar menanti mamanya.
Setiap kali bertemu kawan saya, dia selalu mengajak kedua anaknya. Mereka masih mengenali saya sebagai Tata Alfi, teman Indonesia mama yang bisa berbahasa Prancis dan bisa diajak ngobrol soal film dan teknologi. Apasih ya? Hahaha.
Kalau saya memilih mengontak kawan saya itu, selain bahwa dia tidak bekerja, tinggal di sekitaran Paris dan mudah diakses, saya juga memiliki misi menyampaikan titipan Butet untuk duo saleh: dua buku gambar yang diilustrasi sampulnya.
Ceritanya, saat kami bertemu hampir setahun yang lalu, dua jagoan sedang gandrung dengan Sonic. Mereka ingin membeli buku gambar berilustrasi Sonic. Butet yang sempat bertemu sekilas mengatakan kalau pasti sulit. Dan memang mereka tak menemukannya.
Butet mengusulkan diri untuk mengilustrasi buku gambar untuk mereka. Tentu saja saya senang dengan inisiatifnya. Bisa buat kado Lebaran. Namun karena kesibukan ujian akhir dan pendaftaran kuliah, kado Lebaran diundur jadi kado libur panjang. Lalu kado kembali ke sekolah. Dan tak terkirim hingga kemarin itu. Padahal sudah selesai. Hanya karena cari momen, agar tak jadi beban penerima.
Namun saya tak menyerahkan langsung titipannya kepada kedua anak cerdas itu. Pasalnya, mereka makan siang di taman yang tak jauh dari sekolah. Mumpung cuaca cerah. Dan untuk menghemat waktu juga. Titipan saya titipkan lagi pada kawan saya. Anggap saja sebagai kado Lebaran. Tepat seperti tujuan asalnya. Hihihi.
Seusai mengantarkan anak-anak kembali sekolah, kami pulang dengan melewati masjid lagi. Kali ini dengan lebih santai. Masjid terlihat sibuk persiapan Idulfitri. Ada polisi-polisi yang mulai menutup tempat parkir, ada jualan makanan, ada stand gambar dengan henne, ... Kami masuk ke toko buku yang masya Allah lengkap dan terang. Berbeda dengan toko buku Islam yang pernah saya lihat sebelumnya yang cenderung muram.
Di samping toko buku ada toko pakaian muslim. Cenderung ke budaya magrib: abaya, kerudung panjang, ... Tak berniat belanja juga sih.
Kami mengelilingi masjid sebelum melanjutkan perjalanan menjelajahi taman kota yang berbukit. Dari salah satu puncaknya, terlihat danau luas. Cantik dan adem. Sebuah oasis di tengah hiruk-pikuk kota yang sibuk. Kami bertemu beberapa pelari dan pejalan kaki.
Tak terasa, sudah jam 3 lebih. Tadinya saya berniat hanya tinggal sampai anak-anak kembali sekolah. Akhirnya saya baru pamit bersamaan dengan saat menjemput sekolah! Hehehe.
Kami berpisah di halte bus karena mengambil dua arah berbeda. Seperti yang saya khawatirkan, sudah mulai masuk jam sibuk kendaraan umum. Saya sempat membiarkan satu bus lewat saking sesaknya. Tapi saya memaksa masuk ke bus berikutnya dengan koper kabin saya.
Tak ada tempat duduk sampai saya harus berganti moda. Bersyukur masih bisa bediri berpegangan. Saya menyambung dengan tram, yang alhamdulillah sempat mendapat kursi sebelum memasuki daerah banyak penumpang. Tenang hingga halte tujuan.
Dari halte, saya masih harus berjalan 700 meter lagi. Saat check in, baru saya ketahui bahwa Paksu salah pesan hotel. Bukannya hanya untuk berdua, Paksu memesan kamar untuk bertiga. Sudah terlalu terbiasa. Pantas saja kok harganya terasa sama dengan biasanya!
Saya salat dan istirahat sejenak sambil menunggu isi daya ponsel yang sudah merah. Lelah menerpa. Paha mulai terasa kaku. Saya jalan banyak juga, hari itu. Tapi harus keluar untuk membeli pasta gigi dan air minum, secara hotel kami minimalis dalam servis. Sekalian melihat-lihat lingkungan Kremlin Bicetre yang tak kami kenal sebelumnya.
Saat saya baru masuk kamar hotel, Paksu berkabar kalau sudah keluar metro. Ah, sayang sekali tidak pas. Paksu pun memutuskan untuk mampir membeli makanan. Sementara menunggu, saya berbuka dengan sisa ayam yang saya bawa dari rumah.
Kami pun berbuka puasa hari terakhir Ramadan 1447 H di kamar hotel dengan menu masakan Asia halal. Sebuah kenikmatan tersendiri dari kota besar, menemukan banyak tempat untuk makan halal.
Usai mandi dan salat, kami istirahat. Tak lupa bertelepon dengan Butet tentunya. Lelah, dan esoknya kami harus melakukan perjalanan panjang menuju Wisma Indonesia di Neuilly sur Seine. Perlu 1 jam dengan berganti metro dari hotel kami di selatan Paris.

Comments
Post a Comment