Paris Maret 2026 H2

Saat suami mengusulkan untuk berlebaran di perwakilan Paris, saya langsung deg-degan. Deg-degan semangat, bakal salat Id di Paris untuk pertama kalinya setelah 25 tahun tinggal di Prancis, sekaligus deg-degan karena salat Id di Kedutaan Paris tidak semudah itu.

Untuk bisa berlebaran di kedutaan, kita harus mendaftarkan diri terlebih dahulu. Tahun lalu, saya banyak mendengar keluhan tentang sudah habisnya tempat hanya beberapa jam sesudah pengumuman. Kami harus memesan tiket plus akomodasi tanpa ada kepastian mendapatkan tempat berlebaran.

Saya memasang notifikasi untuk memantau update dari akun Instagram KBRI Paris @indonesiainparis. Tiap sempat, saya cek ponsel. Sampai seminggu menjelang Lebaran belum ada kabar, saya mulai mengontak kawan di Paris, yang ternyata malah belum pernah berlebaran di kedutaan juga. Dia memilih berlebaran di lingkungannya saja.

Sehari sebelum sidang isbat dan belum ada kabar, saya mengontak teman lain. Dia juga tak biasa berlebaran di kedutaan. Tapi dia memiliki kontak dengan yang mengurus kegiatan Ramadan. Tunggu pengumuman saja. Si pengurus bahkan memasang status di Whatsapp-nya, saking banyaknya yang menanyakan.

Saya sudah dalam perjalanan ke kursus bahasa Jepang saat pengumuman 1 Syawal keluar. Teman saya yang kedua menelepon saat kelas sudah berjalan. Saya menolak teleponnya. Namun saya jadi melihat bahwa dia sudah mengirim pesan sebelumnya, berisi informasi mengenai pendaftaran salat Idulfitri yang diadakan di Wisma, rumah dinas duta besar Indonesia di Paris.

Saya langsung mengirimkan informasi tersebut ke Paksu, memintanya segera mendaftar. Tak ada tanggapan, saya minta izin keluar untuk menelepon. Tak diangkat. Saya pun pasrah. Melanjutkan kursus dengan pikiran terbagi. Tak tenang.

Keluar dari kelas usai kursus, saya menelepon Paksu lagi. Dia sudah mendaftar dan mendapatkan 2 tempat untuk kami. Alhamdulillah. Sesampai di rumah, saya mengirim pesan berterima kasih kepada teman tadi. Dia ikut lega. Katanya, 500 tiket yang disediakan sudah ludes tanpa sisa!

Jumat, 20 Maret 2026 pun tiba. Saya dan Paksu berangkat jam 7 pagi. Kami harus berjalan kaki 1 km menuju stasiun metro pertama. Ganti metro, lalu jalan kaki 2 km lagi! Bismillah. Insya Allah menambah pahala.

Kami sampai di wisma pukul 8.15-an. Sudah banyak warga di halaman Wisma, tempat diadakannya salat Id. Seorang muslimah memanggil nama saya. Rupanya seorang anggota MPP yang tak pernah memunculkan wajahnya saat kajian. Saya pun duduk di sebelahnya.

Pagi itu Neuilly sur Seine dingin. Begitupun lantai beton yang hanya dialasi plastik terpal. Sajadah batik tak cukup melindungi. Paksu beruntung diarahkan ke shaf paling depan—entah kenapa masih ada tempat padahal sudah cukup ramai—yang berkarpet. Tapi ya tetap saja dingin.

Sambil bertakbir saya menerima pesan. Rupanya seorang sahabat MPP melihat saya dari jauh dan tak yakin itu saya. Sepertinya dia tak terlalu memperhatikan pesan yang saya kirim di wag.

Ustaz Rizki Hegia Sampurna dari Dompet Dhuafa menjadi imam dan khatib pada salat id di Wisma tahun ini. Beliau mengingatkan bahwa salat Id di mana pun sama saja. Sama-sama di bumi Allah. Meski tak semeriah di tanah air.

Saya sendiri sempat tak bisa menahan air mata, bukan saat khutbah, melainkan di rakaat kedua. Di rakaat pertama, imam melafalkan Al-A'la untuk surat pendeknya. Di rakaat kedua imam memilih Al-Ghasiyah. Kombinasi surat pendek favorit almarhum ayahanda di masa akhir hidupnya.

Ya, saya tidak khusyu'. Lekas saya berusaha kembali konsentrasi. Eh malah di ayat-ayat terakhir Al-Ghasiyah bendungan air mata saya jebol. Saya merasa ditegur. Padahal sebenarnya saat itu saya tak langsung teringat artinya yang memang relate sekali dengan yang saya hadapi saat-saat ini. Astaghfirullahalazhiim.

Tapi itu cerita lain lagi.

Usai khutbah, pembawa acara mengarahkan untuk bersalaman. Namun, banyaknya jamaah menyulitkan proses. Beberapa orang bahkan sudah mulai mengantri makan. Seorang kawan bilang, kalau tak cepat, tak kebagian bakso! 

Saya tak tau apakah benar ada bakso. Yang jelas saya mencari Paksu dulu. Saya juga bertemu dengan teman lama di selatan yang pindah ke Paris. Sambil menganntri, kami menyempatkan mabal berfoto bersama bapak dan ibu dubes. Iseng lah, pokoknya! Hahaha. 

Saya dan Paksu memilih mengantri soto mi yang antriannya lebih pendek. Lalu setelah selesai kembali mengantri untuk lontong opor karena sudah berkurang antriannya. Tak lupa mampir mengambil es buah. Hehehe. Mumpung!

Usai makan, Paksu jalan-jalan ke Parc des Buttes Chaumont. Padahal saya sudah mengeluh sakit kaki dan sepertinya agak kena pilek akibat duduk di lantai dingin. Cuaca yang mulai hangat menyemangati saya. Plus janji Paksu untuk jalan pelan saja.

Tadinya kami berpikir untuk makan siang sekalian di daerah taman itu. Tapi kami masih kenyang. Perut masih ukuran Ramadan. Dan kami cukup makan juga di Wisma, kan!? Meski dijatah, per porsinya cukup kok! 

Kami berjalan-jalan hampir 2 jam. Diselingi duduk menikmati matahari Paris. Tak lupa kami sempatkan menelepon keluarga di Indonesia.

Kami kembali ke hotel untuk salat dan istirahat. Dan isi daya ponsel! Kami dibangunkan jam 4 sore oleh ketukan pintu petugas kebersihan. Padahal kami sudah gantung tanda jangan diganggu di depan pintu! Tentu saja kami tak bisa tidur lagi. 

Jam 6 kami bersiap keluar makan malam. Paksu ingin makan masakan Yaman di daerah Champs Elysée. Dia sudah pernah mencoba melalui Uber Eats. Dia ingin makan langsung di tempat.

Rupanya restoran sudah ramai sekali. Padahal baru setengah 7 malam. Belum waktunya makan malam. Belum masuk Magrib juga kalau mau dibilang terbiasa dengan waktu puasa.

Kami sempat mengantri 30 menit. Di dalam, restoran memang penuh. Dan kami lihat dari jendela, antrian masih panjang saja. Bahkan sampai saat kami selesai makan!

Tapi saya tidak menyesal. Makanannya enak. Porsinya agak terlalu besar. Kalau saya makan siang, sepertinya akan menyisakan lebih banyak dari 3-4 suap nasi yang tak mampu saya habiskan.

Mumpung tak jauh dari Arc de Triomphe, kami pun berjalan mendekat. Ada banyak sekali manusia malam itu. Memang Jumat malam dan cuaca sangat mendukung.

Kami kembali ke hotel dengan metro dari stasiun yang terletak di depan butik Louis Vuitton. Saat salat, saya merasakan otot paha yang makin sakit saja untuk duduk di antara dua sujud dan tahiyat awal. Pikir saya, setelah diistirahatkan Sabtu pagi, sakit akan hilang sehingga siangnya siap jalan-jalan lagi. Kali ini bertiga Butet!


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi

Tanpa Internet? Bisakah?