Paris Maret 2026 H5

Akhir pekan bertiga di Paris pun usai. Saatnya kami kembali ke rutinitas. Saya dan Paksu kembali ke Cannes, Butet ke Valenciennes menyelesaikan minggu terakhir kelas persiapannya. Ya, tak terasa masa persiapan sudah usai dan Butet akan memasuki masa libur sangat panjang sebelum mulai tahun ajaran baru September nanti.

Tapi itu cerita lain lagi.

Senin pagi di Paris kami isi dengan bersantai. Tubuh minta diistirahatkan setelah seharian mengelilingi museum terbesar di dunia (sumber: Google Arts and Culture) hari Minggu. Jam 9 baru mulai benar-benar bergerak. Bersamaan dengan Paksu yang mulai meeting. Padahal kantornya hanya selemparan batu! Hahaha.

Saya dan Butet keluar hotel jam 10an. Kami berniat melihat-lihat pusat perbelanjaan yang belum sempat kami eksplorasi. Selain agar Paksu bisa tenang bekerja, kami termotivasi juga dengan suara berisik pengerjaan segala proyek bangunan dan pengembangan kompleks yang terhenti selama akhir pekan.

Kami berniat makan siang bersama sampai Paksu menyusul jam 1 seusai jadwal meetingnya untuk lalu bersama-sama ke Gare du Nord menemani Butet, sebelum kemudian ke bandara Orly untuk ke Nice. Rencananya Paksu makan siang belakangan saja. Entah di mana. Sesudah mengantar Butet.

Sejak sebelum ke Paris, Butet sudah minta dibelikan pain au chocolat yang enak. Bukan karena pain au chocolat sebegitu mahalnya untuk kantung mahasiswa. Tapi memang daerah asrama Butet tak ada boulangerie juga. Dia tak tertarik pada viennoiserie di swalayan Lidl. Atau di kantin Crous. Padahal muffin-nya kan viral dan terkenal seantero dunia pada masa Olimpiade Paris ya!?

Jadilah agenda pertama Senin itu mencari pain au chocolat. Kami menemukannya di pusat perbelanjaan. Tak pilih-pilih. Di boulangerie pertama yang kami temui saja. Pain au chocolat-nya cukup enak, kata Butet. Coklat panasnya kurang. Saya sendiri tak memesan. Sudah hampir jam 11. Kalau sarapan, saya tak akan bisa makan siang.

Usai Butet sarapan, kami lanjut berkeliling. Jalan santai saja. Baru kami sadari bahwa pintu masuk yang sejajar dengan Parvis de la Defense adalah ke lantai 1 pusat perbelanjaan. Bukan ke lantai 0 (lantai dasar) yang memang sejajar dengan pintu keluar metro.

Kami pun menyempatkan melihat-lihat Pop Mart Store yang saat itu sepi. Tak seperti biasa yang selalu ramai, bahkan mengantri. Kami masuk sebentar ke Uniqlo yang berada tepat di seberangnya. Lalu mencari Cultura di lantai 0, ide tujuan Butet menghabiskan waktu.

Kami sempat tersasar, turun ke satu sudut lantai 0 yang tak tersambung dengan lainnya. Hanya locker pengiriman barang dan tempat parkir. Saat naik lagi ke lantai 1, Butet melihat Miniso di lantai 2. Kami pun ke sana. Di luar rencana.

Di Miniso Butet menemukan bantalan leher Mofusand yang sudah lama diidamkannya. Tadinya saya janjikan untuk membayari dengan uang kontan. Ternyata sepertinya kami pembeli pertama, kasir belum punya kembalian. Akhirnya Butet membayar sendiri dengan kartunya.

Namun akhirnya saya tetap mentraktirnya. Saat di Cultura, Butet menemukan buku tentang menggambar yang sudah lama dicarinya. Dia juga menemukan kumpulan cerpen dalam bahasa Jerman. Untuk mengasah kemampuan berbahasa Jermannya, katanya. Baiklah.

Sudah menjelang tengah hari saat kami keluar dari Cultura. Agak meleset dari rencana untuk makan siang lebih awal. Kami pun segera naik lagi ke lantai 2, ke bagian food court sebelum masuk jam sibuk makan siang.

Seperti yang kami duga, sudah ada banyak pengunjung di sana. Berbagai tempat makan sudah mulai terisi. Sudah ada yang mulai makan juga. Kami sepakat memilih Chicken Bang yang menyajikan ayam goreng ala Korea.

Servisnya cepat. Masakannya enak. Karenanya, saat Paksu mengontak, mengabarkan bahwa meeting-nya bisa selesai lebih awal, saya tawarkan padanya untuk bergabung dengan kami saja. Dan dia sepakat cocok dengan cita rasanya, meski bukannya memesan ayam goreng, dia memilih burger ayam.

Pukul 13, kami sudah beranjak menuju stasiun RER. Kami sempat melihat RER sebelumnya bergerak saat kami dengan santainya berjalan menuju lajur keberangkatan. Belum lama menunggu, ada pengumuman insiden di jalur RER kami! Wah!

Saat akhirnya datang dan para menumpang sudah masuk, kereta tak langsung bergerak. Menunggu sinyal katanya. Waduuuh. Kami memang menyisakan waktu luang sebelum jadwal keberangkatan Butet pukul 14.28. Namun tetap saja perasaan tidak tenang.

Harap-harap cemas, ada pengumuman bahwa kereta tak akan bisa normal dan hanya akan melayani jalur hingga Gare du Nord! Tepat di mana tujuan kami! Alhamdulillah.

Kelegaan baru benar-benar datang saat kereta mulai bergerak. Saya lupa tepatnya berapa lama kami menunggu dan akhirnya sampai jam berapa, yang jelas kami tak lama di Gare du Nord. Tak sempat duduk hingga TGV Butet siap menerima penumpang.

Saya dan Paksu beranjak saat Butet sudah masuk TGV dan mengabarkan sudah duduk. Kami lekas membeli tiket khusus metro 14 untuk ke bandara Orly. Aneh, tak ada opsi isi ulang kartu Navigo+. Kami jadi harus menambah ekstra 2€ untuk kartu Navigo baru.

Tentu, kami tiba di bandara jauh lebih awal. Kami memilih langsung masuk dan menunggu di gate sesudah pemeriksaan sekuriti. Untung saja! Karena ternyata antrian sekuriti khusus untuk Air France panjang sekali! Heran, karena bukan jam ideal untuk bepergian kan!?

Kami menghabiskan waktu dengan membaca. Sambil memantau perjalanan Butet yang alhamdulillah lancar saja. Dia sudah sampai Valenciennes saat prosedur boarding kami baru dimulai dan sudah sampai kamar asramanya sebelum kami tinggal landas.

Saya dan Paksu tiba di rumah sekitar pukul 8 malam, setelah naik tram, TER, dan bus dari bandara Nice yang alhamdulillah sinkron beriringan, tak perlu menunggu lama. Paksu mampir ke swalayan membeli mi cup. Namun saya sudah kelelahan hingga tak berminat makan malam. Usai berbincang sebentar dengan Butet, saya tertidur di sofa hingga menjelang Subuh. Bahkan tanpa berganti pakaian.

Setelah 3 hari 2 malam berkumpul di Paris, jarak 1000 km kembali terbentang di antara saya dan Butet. Insya Allah tak lama. Karena Butet akan mudik bulan beberapa hari lagi untuk melewatkan masa liburnya di Cannes.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi

Tanpa Internet? Bisakah?