Paris Maret 2026 H4
Minggu, 22 Maret 2026, tibalah agenda utama ke Paris yang ditunggu-tunggu. Well, utama. Sesudah salat Id di Wisma, tentunya ya. Tanpa Idulfitri, kami tak akan ke Paris. Setidaknya bukan Maret kemarin ini.
Sudah lama sekali Butet ingin mengulang ke Louvre. Ya, mengulang! Pertama kali ke Louvre adalah saat membawa Yangkung dan Yangtinya ... 15 tahun yang lalu!
![]() |
| Foto piramida Louvre diambil dari dalam museum |
Di usia 3 tahun, tentu saja dulu belum mengerti dan sekarang sudah lupa. Berlangganan kartu tahunan Louvre adalah wishlist teratasnya saat kami akan pindah ke Paris 6 tahun yang lalu. Berkunjung ke Louvre adalah permintaan terpentingnya saat kami batal (menunda) pindah, begitu kami bisa ke Paris dengan tenang.
Dan akhirnya baru terlaksana kemarin itu.
Kami membeli tiket masuk jam pertama yang tersedia: pukul 9 pagi! Itu permintaan Butet sendiri yang memang sudah biasa bangun pagi (dan tak tidur lagi) sejak kuliah untuk belajar. Butet juga meminta kami mengeblok hari Minggu karena mau di Louvre seharian. Sampai jam tutup!
Meminta saya sih, lebih tepatnya. Papanya dari awal sudah langsung komentar mau keluar duluan. Lalu sempat berniat ke Orleans menonton final Orleans Master kalau ada finalis Indonesia yang ternyata kemudian tak ada.
Kami benar-benar berangkat pagi. Kami tiba di lantai Carousel du Louvre, pintu masuk pengunjung yang sudah memegang tiket, belum jam 9 kurang seperempat. Antrian sudah panjang. Ternyata ada banyak yang lebih semangat ketimbang kami!
Jam 9 tepat, antrian mulai bergerak untuk melewati gerbang sekuriti. Tak ada pemeriksaan tiket selain oleh petugas yang berkeliling saat masih diam mengantri dan meminta pengantri menunjukkan tiketnya. Dan kami memasuki aula di bawah piramid besar.
Dari sana pengantri tersebar lagi ke antrian-antrian lain untuk memasuki sayap museum yang ingin dikunjungi. Saya sendiri awalnya tak terlalu memperhatikan. Kami fokus mencari lokasi pengambilan audio guide dan kebetulan kami mengarah ke sayap Sully di lantai 0, sejalan dengan rencana mencari prasasti Hammurabi.
Sebelum ke Louvre, saya meminta Butet dan papanya mencatat apa yang mau dilihat. Louvre kan besar sekali. Tak mungkin bisa menjelajahi semua koleksinya dalam sehari. Dari jam buka hingga jam tutup sekalipun! Dengan banyaknya ruang yang ditutup untuk pengunjung sekalipun!
Prasasti Hammurabi adalah yang dicari Paksu. Ada kaitan dengan yang terjadi di Iran saat ini, tapi saya lupa tepatnya apa. Yang jelas, Prasasti Hammurabi jadi tujuan awal karena hanya itu yang kami cari di bagian peninggalan kuno. Apalagi niatan Paksu yang mau mabal kan!?
Butet sendiri mau menjelajahi seluruh bagian lukisan. Ada banyak. Karenanya lebih baik belakangan saja, biar tenang.
Saya? Hanya satu misi: membuat ulang foto Butet di depan lukisan Pelantikan Napoleon (Le Sacre de Napoléon) oleh Jacques-Louis David seperti saat kami ke Louvre pada tahun 2011! Iseng banget ya!? Hehehe.
Pada prakteknya, kami lama juga di bagian peninggalan kuno. Tak banyak orang, Butet bisa tenang menggambar di sana. Kami mengunjungi seluruh sayap Sully dan koleksi patung. Sebelum naik ke lantai 1.
Kami dapati petunjuk arah di Louvre tidak jelas. Urutan kunjungan tidak terlihat. Penomoran ruangan di beberapa lokasi seperti acak. Atau kami saja yang terlewat dan tak paham? Lalu ada beberapa ruang yang tertutup dan mengharuskan kami balik arah.
Sudah setengah 12 saat kami memasuki bagian lukisan. Nah, di sini ada buanyaaak sekali pengunjung. Memang sudah ditambah dengan mereka yang bertiket masuk setelahnya sih ya!? Dan sepertinya mereka langsung ke sayap Denon ini. Karena di sini ada Monna Lisa!
Kami sih tak ikut antri berfoto bersama lukisan yang sungguh populer itu. Bahkan dengan slot sepi di samping sekalipun—tak dari depan seperti antrian "resmi".
Monna Lisa adalah potongan memori yang diingat Butet dari kunjungannya di usia 3 tahun. Sayangnya, kenangan buruk dengan ketidaknyamanan hiruk-pikuk pengunjung yang berdesakan. Padahal waktu itu kami tak ikut berebut berfoto juga lho! Dan Butet digendong di pundak papanya.
Namun begitulah. Butet lebih tertarik melihat-lihat lukisan yang dipamerkan di sekitarnya. Yang sayangnya ya kurang nyaman dengan keributan dan desak-desakan di sekitarnya.
Keluar dari ruang 711, kaki saya mulai terasa lelah. Saya memilih duduk, sementara Butet mengeksplorasi satu per satu lukisan ditemani audio guide. Sesekali papanya ikut menemani juga. Saya berpindah tempat duduk mengikuti perjalanan mereka. Makin jauh dari La Joconde, makin terjamin ketersediaan tempat duduknya.
Tentu saja, saya jadi bersemangat saat kami tiba di bagian lukisan Prancis. Saya berhasil membuat foto yang saya inginkan. Saking senangnya, saya lupa memfoto lukisannya sendiri untuk dipasang di sini. Heu...
Mission accomplished, lapar pun menyerang. Dan di sinilah kami makin merasakan buruknya petunjuk arah di Louvre! Lebih dari setengah jam kami berputar-putar mencari tempat makan untuk kemudian memutuskan kembali ke Café Mollien yang sebelumnya kami hindari karena antrian yang sangat panjang.
Usai makan, kami naik ke lantai 2. Lantai teratas, ceritanya. Ternyata masih ada banyak sekali yang bisa dilihat!
Di suatu sudut yang tak ada tempat duduk pengunjung, saya memanfaatkan kursi penjaga yang kosong. Seorang pemuda menghampiri saya. Saya tak menangkap apa yang diucapkannya selain Monna Lisa. Saya jawab saja dalam bahasa Inggris bahwa dia harus turun ke lantai 1 dengan menunjukkan nomor ruang 711 di denah museum yang saya pegang. Saya katakan pasti ketemu, karena ada banyak sekali orang di sana.
Dari pandangan matanya, saya merasa dia tak menangkap sepenuhnya apa yang saya jelaskan. Dia bilang "thank you" lalu beranjak. Saya baru menyadari kehadiran ibunya di belakangnya yang mengucapkan "assalamualaikum". Saya jawab refleks "waalaikum salam" sambil terbengong.
Butet yang mengamati dari jauh mendekat sambil tertawa. Bahkan di Paris pun orang memilih datang ke saya untuk bertanya? Saya katakan mungkin karena saya berkerudung, jadi mereka berharap bahwa kami berbahasa yang sama. Semoga saja mereka tak kesulitan menemukan La Gioconda ya!
Kami melanjutkan eksplorasi hingga pukul 16, saat Butet menyadari bahwa audio guide-nya lowbat!!! Ketahanan baterainya sepertinya tak sampai 8 jam. Kami pun memutuskan mengakhiri petualangan di Louvre.
Lowbat adalah salah satu alasan. Alasan kedua adalah bahwa toko suvenir museum tutup pukul 18.30, setengah jam sebelum jam tutup museum. Sebelumnya Butet sudah berniat untuk keluar maksimal pukul 18 agar ada waktu melihat-lihat toko suvenir. Alasan ketiga adalah kami semua sudah lelah!
Kami pun keluar pukul 16.30-an saat batre audio guide benar-benar mati dan tak mampu memberi penjelasan mengenai Vermeer. Kami kembalikan audio guide, lalu ke toko suvenir. Butet ingin membeli buku guide museum sebagai kenang-kenangan.
Toko suvenir museum adalah toko yang menarik. Kami tak terlalu memerhatikan pernak-pernik yang dijual di sana. Kami lebih berkeliling di bagian toko bukunya. Kalau tak ingat bahwa dia hanya membawa satu ransel, Butet pasti sudah kalap melihat beragam buku tentang seni yang tersedia.
Akhirnya Butet memboyong buku idamannya dalam bahasa Prancis. Ya, guide tersedia dalam 11 bahasa. Sayangnya (atau untungnya?) tak ada (belum?) dalam bahasa Indonesia.
Selain itu Butet juga membeli kartu pos bergambar Le Sacre de Napoléon. Mungkin suatu saat nanti kembali lagi berfoto di depannya?
Kami kembali ke La Defense dengan kaki sakit. Untung tak perlu berganti metro! Kami sempatkan makan malam dulu di pusat perbelanjaan meski belum waktunya. Bahkan kalau puasa sekalipun, alias belum Magrib. Karena yakin, kalau sudah kembali ke kamar hotel, kami tak akan berminat untuk keluar lagi!






Comments
Post a Comment