Brussels Februari 2026 H1
Kalau tahun baru dimulai 5 Januari, kali ini bulan Maret untuk kami dimulai tanggal 2. Senin ini Butet mulai kuliah lagi setelah libur selama satu minggu. Dan kami usai menghabiskan akhir pekan, Jumat–Minggu, bertiga di Brussels, Belgia.
Kenapa Brussels? Untuk konser Lauvey, tentunya. Pemanfaatan sebagian hadiah mention très bien baccalaureat yang didapatkan Butet dari pemerintah daerah.
Butet membeli tiket VIP begitu mendapatkan lampu hijau dari papanya bahwa kami akan menemaninya ke Brussels. Awalnya saya malas ikut. Jalan-jalan pas ramadan, ga asik deh, kayaknya. Ga bisa menikmati kuliner lokal dengan bebasnya, lalu pasti tak banyak tenaga juga buat kunjungan.
Namun kemudian saya memutuskan ikut. Daripada di rumah sendirian. Sekalian ganti suasana lah ya. Dan kesempatan bertemu dengan anak gadis kesayangan, tentunya!
Apalagi kemudian Paksu memutuskan untuk membeli tiket juga untuk kami berdua. Sekalian ikut menonton. Kan kami suka juga musiknya Laufey meski tak sengefan si Butet. Tiket kelas 3 di tribun saja, tentunya. Bukan kelas VIP lah ya!
![]() |
| Perjalanan udara melewati pegunungan Alpen yang masih putih bersalju |
Saya dan Paksu berangkat dari Cannes berpesawat dari bandara Nice. Butet dari Valenciennes berkereta regional, menyambung TGV di Lille. Kami bertemu di Brussels.
Paksu sengaja memilih hotel di stasiun Brussels Zuid untuk mempermudah. Itu adalah perjalanan pertama Butet berkereta api sendiri, ke luar negeri pula, sendirian. Meski jarak perjalanan cuma setengah jam TGV dari Lille sih! Hehehe.
TGV Butet mengalami keterlambatan. Jadi ada waktu ekstra setengah jam saat berganti stasiun di Lille, dari satu jam yang dijadwalkan semula. Hikmahnya: waktu menunggu kami di Brusselsnya berkurang.
Di jadwal awal, Butet akan sampai Belgia setengah jam sebelum pesawat kami mendarat. Hanya saja, kami kan masih di bandara tuh. Masih perlu sekitar setengah jam lagi untuk menuju Brussels kota. Dan benar saja: Butet sudah sampai kota sebelum kereta kami mulai berjalan.
Butet menghabiskan waktu menunggu dengan keliling stasiun. Ada banyak toko. Tapi ada banyak orang juga. Kurang nyaman, katanya. Dia pun melipir membeli pain au chocolat (chocolate croissant). Kebetulan sedang tidak puasa. Pain au chocolat-nya tidak enak. Salah sendiri beli di Carrefour demi mengirit!
Kami langsung check in dan istirahat sebentar. Menjelang jam 6 kami mulai bergerak ke luar. Tujuannya berbuka puasa di Caffé Batavia, sebuah rumah makan Indonesia. Harap maklum, memanfaatkan, karena di Cannes tak ada restoran Indonesia.
Kekhawatiran kami harus menunggu jam buka restoran—18.30 sedangkan Magrib datang 18.20—tak terjadi. Bukan. Bukan karena restoran buka lebih cepat, tapi karena kami sempat kesulitan menemukan stasiun tramway 4 atau 10 yang ternyata berada di bawah tanah. Sepertinya kami harus cek lagi definisi tramway dan subway.
Tentu saja, kami adalah pelanggan pertama yang datang. Masih kesorean. Pemilik menyambut kami yang datang kebasahan karena hujan rintik. Hanya dia dan istrinya, sang chef, yang terlihat di sana. Sang chef yang orang Indonesia langsung menanyakan apakah kami puasa dan menawarkan berbuka dengan kurma. Sayang sekali saya tak berkesempatan mengobrol dengannya karena pelanggan mulai datang dan dia sibuk di dapur.
![]() |
| Bakso malang komplit mantap disantap di malam dingin berhujan sesudah puasa seharian |
Alhamdulillah servis sigap dan makanannya enak-enak. Butet memilih mi ayam, saya bakso malang, dan paksu nasi goreng rendang plus bakso malang. Maruk, dia! Hasilnya, mi di bakso tak berhasil dihabiskannya!
Kami kembali ke hotel berjalan kaki. Lumayan, sebenarnya, 2,5 km. Masih sedikit hujan pula. Plus berangin. Niatnya sih sekalian ingin menikmati Brussels di malam hari. Eh tapi kok kami jadi harus memutar lumayan jauh karena di satu titik jalan ditutup karena ada perbaikan. Termasuk porsi trotoarnya! Waduh! Untung hujan tinggal rintik kecil.
Hasilnya, sesudah salat dan mandi, kami tidur nyenyak sekaliii .....
--- bersambung, insya Allah ---


Comments
Post a Comment