Paris Maret 2026 H3
Niat bersantai Sabtu pagi pun batal. Kami yang tak memesan sarapan di hotel, kelaparan. Sepertinya perut meminta sahur. Sedangkan ternyata tak mudah menemukan boulangerie di sekitaran.
Dari Google Map kami dapatkan, boulangerie yang sepertinya cukup memungkinkan ada tempat duduk santainya ada di 700 meter. Tak jauh sih. Ayo let's go!
Sempat urung melihat antrian. Urung juga akan dinginnya udara pagi secara hanya ada tempat duduk di trotoar, secara boulangeri-nya kecil saja. Tapi kami bertahan. Dan ternyata cukup nyaman. Mungkin karena coklat panas yang saya minum dan capuccino yang dipilih Paksu?
Usai sarapan, kami kembali ke hotel. Niatnya sih sesudah membereskan barang, kami check out saat TGV Butet berangkat dari Valenciennes. Namun Paksu minta menunda. Mau menonton semifinal Orleans Terbuka dulu. Masih ada satu ganda putra dan satu ganda putri. Baiklah.
Akhirnya kami baru keluar jam 11 lebih setelah pertandingan yang tak seru dan atlet Indonesia gugur semua. Padahal sempat ada pikiran mau ke Orleans jadi supporter tuh. Tak lama menunggu di Gare du Nord—dan bertemu keluarga Indonesia 3 generasi yang sedang berlibur dan terlihat tak suka berbincang, kereta Butet sudah datang.
Saat diputuskan ke Paris, saya langsung berencana mengajak Butet dan papanya makan di rumah makan Indonesia. Kalau kali ini saya memilih Rempah, itu bukan karena saya sudah mencicipi Makan-makan dan La Maison de l'Indonesie sebelumnya. Rempah berlokasi tak jauh dari Gare du Nord. 700 meter saja. Praktis. Kami berjalan kaki ke sana.
Kami tak memesan tempat. Saat kami tiba, restoran sudah terisi setengahnya. Ada satu meja yang dipesan untuk 4 orang. Selama kami makan, sedikit demi sedikit konsumen berdatangan hingga restoran pun penuh.
Dari Rempah kami ke hotel. Kami pindah ke sebuah appart hotel di La Defense, wilayah perkantoran berbatasan dengan Paris, yang merupakan lokasi kantor Paksu. Ceritanya sih biar tau suasana di sana. Eh tapi kok pas weekend. Nggak ada yang ngantor dong ya!? Hahaha.
La Defense hanya keluar sedikit dari Paris. Namun suasananya sudah sangat berbeda. Tidak seperti kota Paris yang mempertahankan bangunan-bangunan tuanya, kompleks La Defense modern dengan gedung-gedung tinggi pencakar langitnya. Lebih mirip Jakarta lah.
Cukup sulit menemukan pintu masuk hotel dengan adanya berbagai proyek pengembangan kompleks di sana. Kami mendapatkan kamar di lantai 9. Kamar di pojok dengan pemandangan ke ... proyek pengembangan kompleks itu tadi! Eh? Namun dari dapur, akhirnya saya bisa melihat Menara Eiffel! Hihihi.
Istirahat sejenak—saya sempat tidur, kami keluar lagi. Dua malam dengan efektif 2 siang di Paris adalah waktu yang mepet untuk mengejar semua agenda impian. First thing first: ke photobooth! Heu....
Tentu saja itu adalah agenda Butet!
Hampir setahun yang lalu, saat kami ke Paris dalam rangka wawancara untuk seleksi sekolah arsitektur, Butet sudah sempat mencoba tren foto "bersama idol" ala-ala Korea. Kebetulan Photoism baru saja buka di Carousel du Louvre Paris waktu itu. Kesempatan, lah. Butet mengambil foto dengan frame Eunchae dari Lesserafim.
Kali ini, pilihan photobooth di Paris sebenarnya sudah lebih banyak. Namun Butet masih memilih Photoisme. Yang asli dari Korea, katanya. Bedanya, kali ini Butet mengambil foto dengan frame stroberi. Tak bersama idol.
Photoisme ramai sekali. Maklum, Sabtu sore. Butet harus mengantri setengah jam. Saya memilih duduk-duduk saja menyelonjorkan kaki yang sebenarnya masih kesakitan, menolak ajakan Paksu melihat-lihat Carousel du Louvre.
Usai Photoisme, agenda selanjutnya adalah ke Sennelier. Kami pun menyeberangi sungai Seine melalui Pont du Carousel. Ini adalah rute yang sama dengan perjalanan ke Paris sebelumnya. Dan lagi-lagi, saya menyesal tak mengambil foto toko pernak-pernik melukis yang sudah berdiri sejak 1887 itu. Memang ada banyak sekali orang di jalanan berlalu-lalang di trotoar. Sulit mencari surut gambar dengan nyaman.
Di dalam sih tidak mungkin mengambil foto. Bahkan saya tak ikut masuk, mengingat tokonya yang sangat kecil dan sedang ada banyak pembeli. Butet membeli map untuk menyimpan lukisan dan spidol-kuas.
Agenda sore dilanjutkan dengan ke Shirinkam, sebuah toko kue ala Iran. Ini adalah ide Paksu yang sedang gandrung patiseri oriental. Dari Sennelier, kami berjalan sekitar 1 km.
Dalam perjalanan, kami menyempatkan mampir ke Galeri Riger Viollet yang merestorasi foto abad XIX dengan mewarnainya secara manual. Menarik sekali, kan!? Sayangnya tak ada penjelasan rinci mengenai prosedurnya. Dan memang hanya galeri kecil, terbuka gratis untuk umum.
Shirinkam terletak di pasar tertutup Saint Germain. Ada berbagai stan makanan yang berasal dari berbagai negara: Italia, Tailan, Libanon, dan tentu saja Iran. Namun kami tak menemukan tempat makan yang nyaman di sana.
Selesai membeli kue-kue, kami pun mencari di Google Map. Butet dan papanya ingin masakan Jepang. Mereka setuju untuk ke restoran udon yang muncul dari hasil pencarian.
Restoran yang bernama Manpuku itu kecil saja. Saat kami datang masih cukup luang. Saat kami makan, perlahan penuh.
Pemesanan dilakukan menggunakan tablet. Udon yang disediakan kebanyakan boga bahari. Kaldu untuk kuahnya pun begitu. Selain itu, ayam yang digunakan juga halal, seperti yang sudah banyak ditemukan di Paris.
Butet kemudian menyadari bahwa sudah pernah melihat Manpuku lewat di timeline Instagramnya. Padahal saya hanya asal menunjuk saja. Dan belakangan kami baru menyadari ternyata ada beberapa restoran Jepang lain di sekitarnya.
Tapi kami tak menyesal. Udonnya enak—takoyakinya juga. Cocok dimakan di cuaca malam Paris yang masih dingin meski sudah hangat di siang hari. Kami cukup kenyang hingga tak berminat memesan dessert. Tak ada yang menarik juga untuk kami.
Usai makan malam, kami kembali ke hotel. Oh ya, tak ada sinyal internet di dalam restoran. Saya tak tahu apakah khusus di Manpuku atau semua gedung di daerah. Sembari menunggu sinyal, kami berjalan saja menuju jalan besar di mana kami sempat melihat tanda arah menuju metro. Sambil melihat-lihat keramaian Paris di Sabtu malam.

Comments
Post a Comment