Film No Other Choice
Minggu 15 Februari yang lalu, saya dan Paksu menonton film Aucun Autre Choix (어쩔수가없다, judul internasional: No Other Choice) di bioskop Arcades Cannes. Saking pengen nontonnya, saya "mengancam" Paksu, kalau dia tak mau menonton hari Minggu, saya mau nonton sendiri Senin atau Selasa. Segitunya ya? Hahaha.
Bukan karena film yang yang baru dirilis di Prancis Rabu sebelumnya itu adalah film Korea. Memang sudah lama pengin ke bioskop saja, tapi baru kali ini menemukan film yang menarik untuk saya. Mumpung belum mulai puasa.
Emang kenapa kalau puasa?
Ya, kayaknya suka mager aja sih! Hihihi.
Persaingan Kerja
Menceritakan tentang Yoo Mansoo (diperankan oleh Lee Byunghun) yang diberhentikan dari perusahaan produsen kertas. Sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya yang cukup spesifik. Dari beberapa lowongan pekerjaan yang dilamarnya, dia selalu sukses melewati tahap berkas, tetapi gagal di tahap wawancara.
Berbagai perusahaan kertas yang ada mengalami krisis yang sama dengan perusahaan lamanya akibat modernisasi. Lapangan kerja makin sempit saja, sampai suatu saat Mansoo menyadari tinggal satu perusahaan lagi yang membuka lowongan kerja yang sesuai dengan keahliannya.
Mansoo tak mau kehilangan kesempatan ini. Dia tak bisa membiarkan istrinya bekerja. Dia tak mau menjual rumah masa kecilnya yang baru saja bisa terbeli. Dia pun memutuskan untuk menyingkirkan semua saingan dalam mendapatkan perkerjaan yang langka itu!
Humor Gelap
"Menyingkirkan" di sini adalah dalam artian ekstrem: menyingkirkan dari dunia! Serem? Dagelan, sih! Humor gelap, lah!
Tentu saja saya memilih film ini dengan mengetahui cerita besarnya. Tapi tidak detailnya! Saya pikir, menyingkirkan hanya dalam artian bahwa para saingan tidak mendapatkan pekerjaan. Karenanya saya masih "berharap" bahwa saingan pencari kerjanya ... ya paling tidak masih hidup lah. Saya penasaran, bagaimana cara Mansoo menyingkirkan mereka. Saat memahami niatnya, saya terbengong-bengong dengan berbagai strateginya juga sih! Hehehe.
Para penonton ter-"hah?", "eh?", "kok?", dan "hahaha" sepanjang film. Sambil ternyeri-nyeri ngeri (apasih?) menyimak segala strategi yang sering kali gagal. Yang penting tujuan tercapai! Heu....
Jelas, nama Park Chanwook menjadi daya tarik tersendiri. Baru satu karya dari sutradara yang sudah meraih banyak penghargaan ini: Decision to Leave—yang saya suka, di mana beliau meraih penghargaan sutradara terbaik di Festival Cannes 2022. Ditambah lagi dengan bintang-bintang yang bertaburan di sana—Son Yejin sebagai istri Mansoo yang luar biasa dedikasinya, Park Heeson sebagai salah satu saingan, juga Yoo Yeonseok sebagai dokter tempat istri Mansoo bekerja, film ini tak boleh dilewatkan!
Banyak Penghargaan
Film sepanjang 2 jam 19 menit yang terseleksi di berbagai festival film dan telah meraih banyak penghargaan ini merupakan adaptasi dari novel The Ax karya Donald E. Westlake. Sebelumnya, di tahun 2005, novel The Ax sendiri sudah sempat diadaptasi dalam film Prancis dengan judul Le Couperet yang disutradarai oleh Costas-Gravas. Sayang sekali sampai saat menulis ini saya belum berkesempatan menontonnya.
Seusai menonton, tak urung saya terpikir para Parasite dan Cobweb. Tergeli melihat akhir cerita di mana Mansook bekerja di perusahaan baru yang sepenuhnya terotomatisasi padahal dia sempat protes saat pemangkasan karyawan di perusahaannya sebelumnya oleh alasan yang sama! Ironis!
Film yang dimasukkan ke genre thriller ini mengandung adegan kekerasan yang tidak saya sarankan untuk mereka yang belum remaja.


Comments
Post a Comment