Foreshadows di Film Pavane

Salah satu kegiatan saya dalam mengisi ramadan adalah menonton film. Heu .... Hehehe. Ya daripada ngelamun ga jelas karena tak mungkin juga tidur seharian, baringan sambil menonton itu menyenangkan.

Membaca? Itu juga. Tapi posisi menonton lebih bebas kan!? Tak perlu memegang dan membalik halaman segala, pula. Alasan? Hahaha. Yah, sesuai suasana saja lah ya!

Mumpung masih hangat, dan lagi semangat nulis, saya mau cerita soal film Pavane yang saya tonton Jumat siang lalu di Netflix.

Hanya Cinta

Bercerita tentang Gyeongrok (Lee Chaemin) yang memulai kerja paruh waktu sebagai petugas parkir di sebuah pusat perbelanjaan. Di sana, dia berkenalan dengan Yohan (Byun Yohan), calon penulis novel yang unik. Mereka pun dekat, sebagai sesama penggemar David Bowie.

Beberapa hari bekerja, Gyeongrok mengamati adanya seorang pegawai perempuan yang terlihat terkucil. Pegawai lain tampak merundungnya. Gyeongrok pun membantunya saat sempat.

Yohan mengingatkannya untuk menjauh dari perempuan bernama Mijeong (Go Ahsung) itu. Tak baik mendekati Mijeong kalau dengan alasan kasihan. Itu hanya akan menyakiti hatinya. 

Perlahan Gyeongrok menyadari bahwa perasaannya bukan sekedar kasihan.

Foreshadows

Setelah baru dua minggu sebelumnya menonton Even If this Love Disappears Tonight di Netflix juga, saya berharap Pavane berakhir bahagia. Bahagia sepenuhnya. Dalam arti ... yah, tau sendiri lah! Saya pikir, mosok dua film berturut-turut pattern-nya sama?

Namun dari depan saya sudah menangkap hawa-hawa gelap yang menyelimuti....

Film dimulai dengan adegan di sebuah warung, di mana perempuan pemiliknya terlihat sudah hafal akan kedatangan salah satu pelanggan prianya. Si pelanggan pria ternyata menyatakan cinta. Adegan melompat ke beberapa tahun kemudian, di mana si pria ternyata (menjadi?) aktor ternama dengan menyembunyikan keberadaan si perempuan dan anak lelaki mereka. 

Si pria meninggalkan rumah untuk menikah dengan seorang perempuan kaya. Meninggalkan istri yang duduk kesepian di tepi ranjang di samping tas besar penuh uang dan anak lelaki yang mengintip di celah pintu kamar. Lompat waktu, anak lelaki di celah pintu menjadi dewasa. Tak dijelaskan apa yang terjadi dengan ibunya.

Berat!

Foreshadows yang tersebar di sepanjang film juga mengarah ke akhir yang tidak sepenuhnya menyenangkan. 

Percakapan tentang tak ada akhir bahagia, Yohan yang berulang kali mengatakan bahwa cinta itu hanyalah sekedar imajinasi, filosofi orang Indian yang menyempatkan berhenti saat perjalanan panjang yang bukan karena lelah atau mengistirahatkan kudanya tapi untuk memberi kesempatan pada jiwa menyusulnya. Sayangnya (atau untungnya) saya tak memahami lagu-lagu yang dipilih saat karaoke (saya belum menemukan lirik lagu 사랑뿐이다) atau yang didengarkan di toko piringan hitam, yang saya yakin mengarah ke petunjuk yang sama.

Meski demikian, saya tetap berpikir positif. Berharap akan akhir yang cerah. Dengan landasan ya itu tadi: mosok dua film berturut-turut sih? Namun harapan tinggal harapan. 

Dari judulnya, Pavane, pun sudah jelas arah ceritanya. Apalagi dikonfirmasi bahwa pavane yang "itu". Pavane-nya Maurice Ravel. Pavane untuk Putri yang Tiada. Meski jelas, saya tak akan membuka di sini siapa yang tiada.

Ada petunjuk klasik yang bisa diterapkan di drakor secara standar sih: susunan nama aktor-aktris pada credits! Hehehe.

Recommended!

Yang jelas saya menyukai film ini. Setiap elemen yang ada terkait pada jalannya cerita. Terasa bagaimana semua elemen digunakan bukan sembarangan. Bukan karena keisengan sutradara belaka. Meski beberapa hal saya baru menangkapnya di akhir cerita.

Kalau belum, simak baik-baik filmnya saat menonton nanti. Coba tangkap petunjuk-petunjuk yang mengarah ke bagaimana akhir filmnya. Tapi ya jangan lupa menikmati menonton juga ya. Jangan malah jadi bikin pusing memikirkan detilnya. Hehehe.

Oh ya, harap maklum kalau ada kesalahan dalam penggunaan istilah perfilman. Karena saya tak mengerti teori sinema dan hanya main rasa. 


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi