Film Indonesia Surat untuk Masa Mudaku

Jumat kemarin ini, saya menonton film Surat untuk Masa Mudaku di Netflix. Saya memulainya sekitar jam 10 pagi dan menyelesaikannya hampir tengah malam. Yah begitulah kalau nonton sambil-sambil. Entah terpotong berapa kali. Begitu pun, saya baru tidur lewat tengah malam! Pasalnya, sesudahnya saya menghabiskan beberapa waktu untuk googling

Saat menonton credits akhir, saya baru menyadari bahwa pemeran utama di Satu Kakak Tujuh Ponakan yang saya tonton akhir tahun lalu di Netflix juga adalah BUKAN Iqbaal Ramadhan! Dan saya baru menyadari keberadaan aktor bernama Chicco Kurniawan! CK sendiri hanya muncul sebentar di akhir film, memerankan versi dewasa dari salah satu karakter anak dalam film. Semacam bintang tamu lah ya!

Saya pun jadi mencari-cari siapa CK ini. Ternyata dia sempat meraih piala Citra tahun 2021 untuk film Penyalin Cahaya—yang sebenarnya ada juga di Netflix France tapi saya belum menontonnya karena merasa seram. Wah, ketinggalan berita, saya! Namun dari foto-foto dia sendirian, saya memang langsung terpikir pada IR. Tak bisa mengenali perbedaan mereka. 

Saat saya mencari lagi dengan kata kunci "Chicco Kurniawan Iqbaal Ramadhan", saya dapati ternyata saya tidak sendiri! Ada beberapa artikel tentang bagaimana mereka dikatakan mirip. Saya pun lega: saya tidak sendirian kudetnya! Hahaha.

Screenshot: @sim_f

Ini mengingatkan saya akan "insiden" dengan Marsha Timothy pada tahun 2017 saat Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak terseleksi dalam Quinzaine de Realisateur (sekarang Quinzaine des Cineastes) di Cannes. Betapa saya setiap kali menceritakannya, saya mendapatkan komentar kekaguman keheranan akan kekudetan saya akan dunia selebritas Indonesia. 

Namun masih banyak yang bisa memaklumi kondisi saya itu. Sudah lama saya merantau. Tak banyak film Indonesia yang bisa diakses di Prancis ini selain film-film "kelas" festival, yang itupun tidak tiap saat ada dan biasanya hanya ditayangkan ke biskop-bioskop tertentu saja. Sangat sulit meluangkan waktu ke bioskop di saat mudik dan belum tentu pas ada film yang menarik juga.

Karenanya, senang sekali saat film Indonesia mulai masuk ke platform streaming di Prancis. Ya, spesifik Prancis. Karena pada platform yang sama, katalog bisa berbeda. Tergantung pada lokalisasinya.

Mula-mulanya agak sedih karena kebanyakan film yang masuk adalah film horor. Atau film laga. Sedikit demi sedikit berdatangan film yang lebih "umum" dan populer. Kemudian belakangan ada serial juga. Meski jelas, tetap, tidak selengkap di Indonesia. Plus pilihan film dan serialnya masih sering membuat saya bertanya-tanya: mengapa yang ini, mengapa tidak yang itu?

Tapi paling tidak, dengan masuknya film dan serial Indonesia ini, khazanah perselebritasan Indonesia bisa lebih cepat ter-update. Untuk kasus Marsha Timothy, saya langsung googling setelahnya kok! Seperti kasus Chicco Kurniawan kemarin. Eh, tadi pagi! Hehehe.

Kekepoan saya diperluas menjelang Festival Film Internasional Cannes. Tak hanya mencari informasi mengenai film dan selebritas Indonesia—apalagi memang belum tentu tiap tahun ada, saya juga mencari informasi mengenai film yang akan hadir, dan terutama yang ingin saya tonton. Siapa tahu berkesempatan ketemu. Entah saat pemutaran film atau saat ke kota. Saat menyeberang jalan, seperti dengan Marsha Timothy, misalnya? Hahahaha.

Eh, lha trus, film Surat untuk Masa Mudaku-nya sendiri gimana?

Sangat menarik! Meski ternyata tidak ada hubungannya dengan time travel sama sekali! Euh, atau saya saja yang berpikir demikian ya? Hihihihi.

Saya tidak tahu persis, sasaran penonton film ini sebenarnya siapa. Di awal serasa film dewasa dengan problematika orang dewasa. Namun sebagian besar film berlangsung di panti asuhan, yang tentu saja artinya lebih ke keseharian anak-anak dan remaja penghuninya.

Tema utama yang diangkat adalah mengenai kehilangan dan bagaimana beranjak, tetap positif menghadapi masa depan. Ada tema pengambilan nyawa sendiri yang mungkin bisa jadi perhatian saat hendak mengajak anak di bawah umur untuk menonton. Di Netflix France sendiri, film ini dikategorikan 13+ untuk itu.

Saya mengagumi pilihan aktor dan aktris anak yang sejalan dengan profil dewasa mereka. Sampai-sampai di awal saya sempat berpikir apakah pemeran Kefas remaja dan dewasa adalah aktor yang sama. 

Harap diingat bahwa itu adalah pendapat dari saya yang tidak bisa membedakan Chicco Kurniawan dan Iqbaal Ramadhan ya! Hahaha!


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi