Bekal Menjadi Minoritas

"Jurusan IF terkenal banyak Cinanya." 

Seorang teman yang baru saya kenal di GSG—Gedung Serba Guna, sekarang menjadi gedung CADL (Center for Arts, Design, and Language) ITBpada acara penerimaan mahasiswa baru membisikkan kalimat itu pada saya. Saat itu, kami sedang berjalan bersama rekan satu angkatan menuju gedung Labtek V, lokasi jurusan kami, Teknik Informatika. 

Saya diam saja, tidak menjawab komentar kawan itu. Antara bertanya-tanya dan kaget dengan komentar yang tetiba dibisikkannya. Saya pun melihat sekeliling. Hmmm, mana? Rasanya tidak se-"banyak" itu. Dan saat akhirnya kami seangkatan dikumpulkan di ruang 7601, saya pun bisa menyimpulkan bahwa komentarnya berlebihan.

Belakangan saya dapati bahwa sebenarnya teman sekelas kuliah saya itu berasal dari SMA yang multietnis. Saya rasa dia sudah tak ingat lagi akan kejadian itu. Mungkin dia sekadar ingin memperingatkan saya agar tidak kaget. Belum tahu, dia!

Menjadi Minoritas

Saya adalah alumna SMA Negeri 3 Surakarta. Sekolah yang terkenal sebagai "banyak Cinanya". Paling tidak waktu itu, di tahun 90-an. Entah kalau sekarang.

Komunitas Tionghoa di Solo Raya sendiri cukup banyak. Sejak kecil, saya sudah terbiasa bergaul dengan teman-teman beretnis Cina. Menjadi siswa Smaga, tak urung saya merasa memasuki sebuah dunia baru.

Pada dasarnya etnis Tionghoa di Smaga hanya sekitar 25% saja (cmiiw). Tetap saja mayoritas Jawa-muslim. Seperti saya. Yang menarik adalah saat kelas 2, yang mana ada penjurusan. Saat itu sekolah berinovasi dalam sistem pembagian kelas. Siswa yang beragama Kristen Protestan dikumpulkan menjadi satu. Demikian pula yang Katolik, di satu kelas lain. Tujuannya adalah untuk mempermudah penjadwalan pelajaran agama. 

Untuk melengkapi agar repartisi jumlah siswa per kelas merata, ditambahkan siswa muslim di masing-masing kelas tadi. Saya adalah salah satu siswi "tambahan" ini di kelas A1-3 yang mengumpulkan siswa Protestan. 

Kelenteng Tien Kok Sie, terletak 600 meter dari Smaga (Foto: Dinas Pariwisata Solo)

Bisa dipahami bahwa kebanyakan siswa nonmuslim adalah dari etnis Tionghoa. Saya tak yakin lagi, ada berapa jumlah total siswa di kelas saya. Yang saya ingat adalah bahwa jumlah muslimnya minim. Tidak sampai sepertiga kelas. Dengan 3 muslimah, termasuk saya. Hanya ada satu siswi Kristen di kelas saya yang berdarah non-Tionghoa. Dia adalah salah satu sahabat saya yang kemudian sama-sama berjuang di Bandung untuk menjadi Mamah Gajah. Eh? Tujuan banget kan, jadi Mamah Gajah itu!? Hehehe.

Singkatnya, di kelas itu, untuk pertama kalinya saya benar-benar merasakan menjadi etnis minoritas. Minoritas dalam arti angka. Pada prakteknya, saya tak merasakan perbedaan saat berada di kelas itu dibanding di kelas 1 ataupun di kelas 3 yang kembali ke sistem pembagian kelas yang lama, di mana ada repartisi siswa muslim yang lebih merata, meski itu pasti membuat pusing penyusunan jadwal pelajaran agama.

Tak Sayang karena Tak Kenal

Meski secara garis besar semua berjalan biasa-biasa saja, di kelas 2 saya belajar banyak hal baru: saya jadi tahu saat tahun baru Cina (yang waktu itu belum diakui menjadi libur nasional) tiba, jadi tahu lagu-lagu mandarin populer, jadi ngefans dengan selebritas Cina (heu), .... dan yang paling berkesan tentunya adalah saat saya berkesempatan menghadiri beberapa pesta sweet 17 teman-teman yang berasal dari keluarga kaya raya di restoran termewah di kota Solo, yang meriahnya sudah seperti pernikahan saja. 

Kelas 2 SMA adalah masa di mana sebagian besar dari kami memasuki usia 17 tahun. Tidak semua teman mengadakan pesata besar, tentu saja. Teman-teman Tionghoa yang merayakan tibanya usia dewasa mereka itu dengan mengundang seluruh kelasnya. Bahkan kadang ditambah teman kelas 1-nya. 

Seingat saya, hanya sekali saya tidak menghadiri undangan karena bersamaan dengan perayaan ulang tahun sahabat SMP. Beberapa teman non-Tionghoa yang diundang menolak datang. Ada yang memang tak longgar (acara biasanya malam), ada yang beralasan nggak pede

Atraksi Liong pada Grebeg Sudiro yang diselenggarakan menjelang Imlek (Foto: Espos Foto)

Saya menyayangkan mereka yang takut "nggak level", takut jadi "Jawa sendirian" di pesta, dan takut-takut lain itu. Untuk saya, itu adalah kesempatan membuka wawasan. Melihat sisi yang belum biasa kita lihat sebelumnya, yang ternyata tidak menakutkan. Keluarga pengundang sudah mengantisipasi, menyediakan meja khusus yang menyajikan hidangan halal, kok!

Dan ironisnya, justru dari mereka yang takut-takut itu yang suka menanyakan susah atau tidak jadi minoritas di kelas? salting ga dikelilingi orang kaya? ngerasa saltum nggak, di pesta? 

Saat hendak mendaftar ke SMA pun, banyak yang heran dengan pilihan saya. Ada saja yang mencoba memengaruhi saya untuk mendaftar ke SMA 1 yang saat itu susul-menyusul dalam meraih ranking 1 dengan SMA 3. Memengaruhi saya dengan alasan etnisitas, yang tentu saja makin meneguhkan saya memilih SMA 3!

Bekal Keluar dari Cangkang

Semua tempat membentuk saya. Rumah, jelas. Lingkungan tempat tinggal, pasti. Sekolah, yang menjadi tempat saya banyak menghabiskan waktu, belajar, sekaligus bersosialisasi, tentu banyak memengaruhi pembentukan karakter saya. Dan SMA, di mana saya melalui masa akhir remaja, adalah salah satunya.

Hiasan Ramadan berdampingan dengan hiasan Imlek di halaman Balaikota Surakarta (Foto: Espos Foto)

Orang bilang "tak harus mengalami/merasakan untuk bisa mengerti". Memang mungkin. Namun tak bisa dipungkiri bahwa dengan mengalami sendiri, kita bisa lebih memahami. Pengalaman saya menjadi minoritas di kelas 2 SMA itu mengingatkan saya untuk selalu rendah hati saat berada di posisi mayoritas, tetap percaya diri saat berada di posisi minoritas, serta membuat saya bisa makin memahami pandangan mayoritas terhadap saya sebagai minoritas dan sebaliknya, meski mungkin saya tak sepakat dengan itu.

Tentu ini adalah porsi besar dalam bekal saya merantau. Ke Bandung untuk kuliah, lalu ke Prancis untuk berumah tangga. Keduanya adalah lingkungan baru dengan apriori menjadi minoritas—anak daerah di Bandung dan imigran di Prancis. Meski ternyata saat di ITB, mahasiswa beretnis Jawa lebih terlihat ... dari logatnya! Hahaha. Peace, ah!


---

Tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari 2026 dengan tema Tempat/Lokasi yang Membentukku yang diusung oleh Mamah Host May.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi