Butet Libur Panjang

Masa pembelajaran kelas persiapan artistik Rubika resmi usai sejak 27 Maret 2026. Butet mudik Rabu 1 April lalu. Tentu saja dia bisa mudik lebih cepat. Atau lebih lambat. Tapi hari itu, pas sekali ada tiket pesawat murah. Dengan jadwal penerbangan yang nyaman, pula: siang hari. Kebanyakan penerbangan pagi-pagi sekali, yang tidak memungkinkan Butet meraih bandara, atau malam sekali, yang menyulitkan penjemputnya.

Karena dijadwalkan sampai bandara Nice pukul 14an, diputuskan saya menjemputnya sendirian. Untuk menghemat biaya kendaraan umum karena mobil kami sedang rusak dan belum diperbaiki hingga saat saya menulis ini. Kebetulan Paksu ada agenda meeting juga.

DOMS di paha oleh-oleh dari Paris sudah hilang, saya sudah bersemangat menjemput. Paksu bahkan meminta saya tidur di kamar Butet dulu karena dia mulai batuk-batuk, sepulang dari jalan ke pasar Sabtu tanpa sweter dengan pedenya, untuk menghindari penularan. 

Saya membuat janji bertemu dengan teman di pusat kota Nice sebelum waktu menjemput. Sekalian memanfaatkan waktu dan biaya. Mumpung pengajian Rabu masih libur juga. Saya berencana menemaninya makan siang di swalayan yang menyediakan alat memasak ramen ala Korea. Saya sendiri berencana makan siang bersama Butet di fastfood favoritnya di bandara.

Manusia hanya bisa berencana. Seakan kejatuhan April Mop, saya tak bisa bangun dari tempat tidur saat hendak ke toilet, Rabu dini hari! 

Saya sakit pinggang parah. Setelah berusaha bangkit dengan berbagai posisi beberapa saat, saya pun berteriak memanggil Paksu untuk membantu saya, memapah saya berjalan, menunggui saya di depan toilet yang tak terkunci, takut saya tak bisa bangkit sendiri, dan mengantar saya kembali tidur.

Meski saya sudah bisa bangun Subuh tanpa bantuan, Paksu tak mengizinkan saya naik bus ke stasiun, naik kereta ke stasiun bandara, lalu naik tramway ke terminal siangnya. Kalau tiba-tiba kena lagi di jalan kan lebih repot lagi, tuh! 

Saya lekas membatalkan janji dengan teman. Namun kami tak langsung mengabari Butet. Kami biarkan dia melakukan perjalanan ke bandaranya yang rumit: asrama, stasiun Valenciennes, stasiun Lille, bandara. Kami sempat menawarkan alternatif naik bus direct via jalan tol atau dipanggilkan Uber. Butet mengerti kondisi saya, tetapi jelas ada nada ragu dalam suaranya. 

Akhirnya papanya tidak tega. Paksu memutuskan pergi dengan membawa perlengkapan kerja. Butet sendiri harus bersabar menunggui papanya meeting online di bandara sebelum akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah.

Saya berbincang via video call selama Paksu meeting. Menemani Butet yang batal makan di fastfood idamannya. Alhamdulillah dia cukup puas dengan temuan paket onigiri plus mochi yang katanya enak juga. 

Jelas, saya absen kursus Rabu sore itu. Padahal saya sudah sempat menyiapkan narasi kyō, musume ga ie ni kaerimashita. Rencana untuk bercerita dengan mata berbinar pun batal.

Rencana menonton film Mario Kamis sore yang sudah disusun Butet pun batal. Meski pinggang sudah enakan, kami masih belum berani mengambil resiko. Bioskop yang kami tuju cukup jauh. Perlu 40 menitan bus. Kami menggesernya ke Jumat siang. Mepet? Tak banyak sesi penayangan film dalam versi bahasa asli di siang hari!

Alhamdulillah agenda ke bioskop lancar. Namun pulangnya, saya batuk-batuk parah. Sepertinya memang sudah ada benih tertular dari Paksu. Lalu ditambah saat perjalanan bus di mana pergi dan pulang ada saja penumpang yang batuk-batuk dengan lebih parahnya ketimbang paksu dan sempat membuat saya mbatin.

Dan ternyata periode batuk saya panjang dan parah! Batuk dan pilek adalah penyakit ringan yang sangat melelahkan bagi penyandang asma seperti saya. Sepertinya sempat ada demam juga. Saya merasakan pegal-linu. Sayangnya saya baru terpikir mengukur Senin pagi, sesudah Minggu malam muntah-muntah.

Sabtu dan Minggu, saya memang masih berusaha mengerjakan pekerjaan rumah meski minimalis. Senin saya menyerah. Saya serahkan semua ke Butet dan papanya. Kebetulan libur nasional juga, Senin Paskah. Paksu tak kerja.

Senin itu, saya tidur hampir seharian. Bangun hanya untuk salat, makan, dan minum parasetamol. Ponsel saya pasang ke mode ne pas déranger. Saya lepas smartwatch untuk tidak menengok-nengok notifikasi. Tablet dibawa Butet. Saya di kamar berteman Rapijali 3 dan setumpuk tisu karena saya mulai pilek sejak Minggu.

Begitulah. Kalau selain ke bioskop Butet tak keluar rumah selama di Cannes, salah satu alasannya adalah saya. Sudah saya dorong-dorong, kasih alasan memotivasi, cuaca cerah, pula. Katanya justru itu yang membuatnya malas ke luar: toh di Cannes cerah terus, besok-besok juga bisa! Gubraks ga sih? Hahaha.

Libur Butet masih panjang. Praktis baru masuk kuliah lagi September nanti. Dia sudah melamar ke beberapa lowongan pekerjaan musiman. Sudah ada satu supermarket yang memanggil, tapi sayangnya hanya ada lowongan untuk Juli dan Agustus sedangkan dia memprioritaskan lowongan lain yang masa kerjanya di waktu yang sama.

Teman-teman SMA-nya belum libur. Tahun ajaran baru berakhir Juni. Masih jauh. Butet beruntung karena sudah diterima di bachelor yang diinginkannya sehingga bisa tenang sesudah masa persiapan artistiknya. Kalau tidak, dia masih harus berjibaku dengan portfolio dan berbagai prosedur seleksi.

Butet menghabiskan harinya dengan menggambar. Apalagi sesudah tablet—kecil, mungil, dan pink—barunya datang kemarin. Dia mengeluarkan Nintendo 3DS yang sudah lama dilupakannya. Atau menemani sambil memijat tangan dan kaki saya. Alhamdulillaah.

Hari ini saya sudah merasa jauh lebih enak. Saya sudah mampu menanak nasi dan memanaskan canard confit untuk makan siang tanpa terlalu ngos-ngosan. Saya juga yang memanaskan makanan untuk makan malam. Tapi cuma itu. 

Masih ada antrian pakaian kotor untuk dicuci. Bahkan masih ada sekeranjang cucian yang harus dijemur. Semoga saja belum bau apak. Heu.

Rapijali 3 tinggal beberapa halaman lagi. Mustinya malam ini habis. Bersamaan dengan habisnya periode sakit saya? Yah, diamini saja ya! Aamiin.


---

Update 09/04/2026: Kalau tetiba saya cerita soal sakit, ini sebenarnya adalah tulisan sayang dibuang dari draft pembuka tulisan untuk Tantangan MGN bulan April. Daripada TMI, dipecah sekalian buat tambahan setoran KLIP saja. Eh, kok malah tambah panjang! Heu. Fyi saya sudah membaik meski belum benar-benar sehat dan Rapijali 3 sudah habis sejak tanggal 7 malam. Hehehe.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi