Posts

Seni Bertahan Menjadi Perantau

Image
Setengah bulan Ramadan telah terlampaui. Hari ini kita masuk paruh kedua. Bagaimana  puasa di Prancis?  Wah, jangan tanya ke saya. Sudah 25 tahun tinggal di Negeri Napoleon ini, saya sudah merasa biasa-biasa saja, tak ada yang spesial. Ya, tahun ini adalah tahun ke-25 saya merantau. Pertama kali menginjak benua biru di bulan November 2000, sudah 25 Ramadan saya lalui jauh dari tanah air. Suami? Tambah setahun lagi. Saya tiba hanya beberapa hari sebelum Ramadan. Saat itu, saya terkaget bahwa puasa berdurasi 10 jam saja. Enak sekali. Mana hawa adem musim gugur. Dari tahun ke tahun, Ramadan makin panjang. Puncaknya saat jatuh di musim panas. Lalu perlahan memendek lagi. Saat ini, Ramadan praktis berlangsung di musim dingin. Dari negara khatulistiwa ke negara empat musim, tentu perlu beberapa penyesuaian dalam pelaksanaan Ramadan. Tak hanya tak terdengarnya azan penanda buka atau tak memungkinkannya taraweh di masjid. Atau tak ada rame-rame penjualan takjil di sore hari. Dan past...

Finalisasi Parcoursup

Image
Tanggal 2 April 2025 pukul 23.59 CEST semalam adalah batas waktu konfirmasi pilihan jurusan untuk pendaftaran perguruan tinggi melalui Parcoursup. Butet tak menunggu sampai detik terakhir. Kami sudah menyelesaikannya sebelum makan malam. Tenang, kami makan malam jam setengah 8 kok! Hehehe. Kami bahkan sudah menyelesaikan semua pembayaran sejak Selasa malam. Khawatir akan ada hambatan karena diperkirakan bakal ada banyak koneksi bersamaan di hari deadline.  Kemarin, Butet tinggal verifikasi semua isian di formulir yang disediakan.   Selasa itu pun, kami sempat mengalami kesulitan.  Memang ada banyak yang harus dibayar. Dari 10 pilihan Butet di tanggal 13 Maret, 7 di antaranya adalah pergurutan tinggi (PT) yang selektif. Ada ujian khusus. Seleksinya tak sekedar dari nilai rapor saja. Yang artinya, pendaftarannya berbayar.  Setiap ENSA memiliki sistem seleksi masing-masing. Jadi ya harus bayar di setiap ENSA yang didaftar. Selasa itu kami membayar 6: 1 ENSA-ESAD, 4 ENSA...

Rapor KLIP Maret 2025

Image
April tiba. Hari ini mendung di daerah kami. Butet memulai rangkaian ujian DS (Devoir Surveillé)-nya siang tadi. Pagi tetap pelajaran seperti biasa. Kecuali Jumat yang ujian seharian. Setelah berkali-kali mencoba telepon ibu sejak akhir Ramadan dan tak berhasil, akhirnya hari ini saya bisa melihat sekilas wajah ibu saat budhe, mbak-mbak, mas-mas, dan para keponakan berkunjung ke Kartasura. Senang sekali melihat mereka semua meski hanya dari video call. Syukur yang dalam, meski saya jauh, ibu tak kesepian.  Tak lupa saya berterima kasih kepada sepupu-sepupu saya yang sangat penuh perhatian itu. Tentu juga kepada budhe, yang tak memandang siapa yang lebih tua, tiap kali berkesempatan, pasti datang menengok dengan senyum lebarnya. Hati saya hangat. Senyum saya makin melebar saat melihat rapor KLIP bulan Maret. Ngomong-ngomong, sudah lama juga saya tak mencatat pencapaian di KLIP. Mungkin karena sudah tahun kelima. Sudah jadi rutinitas biasa. Atau karena sudah tak getol mengejar badge ...

1 Syawal 1446 H

Idulfitri tahun 1446 H ini, saya dan Paksu akhirnya ke Marseille. Ya, berdua saja. Seperti yang sempat saya singgung kemarin, kami mengambil keputusan yang sangat rumit! Mungkin harus dibahas dulu mengapa Butet tak ikut. Selain karena minggu depan yang akan berat bebannya, Butet tak enak badan sejak kemarin. Tubuhnya protes minta diistirahatkan. Memang seminggu yang lalu dia sibuk sekali. Antara berbagai evaluasi di sekolah, ujian lisan, penyusunan film pendek, plus finalisasi Parcoursup untuk pendaftaran perguruan tinggi negerinya. Dia pilek dan memang terlihat lelah. Karenanya, saya tak terlalu memaksa saat dia keberatan ikut ke Marseille. Apalagi kami harus berangkat pagi-pagi sekali. Pagi sekali, jam 4 musim panas yang baru dimulai hari ini. Dini hari jam 3 untuk jam musim dingin yang baru dilalui kemarin! Tentunya, kami harus bangun lebih pagi lagi untuk bersiap kan!? Saya dan Paksu sudah sempat menyerah untuk mengejar waktu salat Id di KJRI. Kereta dan bus pertama di hari Minggu ...

Ramadan 1446 H: Hari 29

Image
Alhamdulillah, Masjid Agung Paris bersama organisasi-organisasi Islam yang berada di Prancis telah memutuskan bahwa 1 Syawal 1446 H di Prancis bertepatan dengan Minggu, 30 Maret 2025.  Sebelum diumumkan jam 6an sore tadi, sudah banyak masjid di segala penjuru Prancis yang mengumumkan jadwal salat Id hari Minggu. Termasuk Masjid Iqraa di Cannes.  Beberapa hari yang lalu Masjid Agung Paris sempat mengingatkan bahwa penentuan hari raya belum final, menunggu sidang Isbat sore tadi. Dan ini diikuti KJRI Marseille dan KBRI Paris yang membuat pengumuman penyelenggaraan Salat Idulfitri dengan tanggal terbuka, 30 atau 31 Maret, dan mengeluarkan pengumuman lagi setelah adanya konfirmasi tanggal. Namun memang, seperti sudah sempat saya tulis sebelumnya, sudah ada hasil perhitungan dari CFTM yang menyatakan 1 Syawal jatuh tanggal 30. Dan ternyata memang benar demikian. Butet pun sempat menanyakan, kenapa tak ditentukan jauh hari? Teknologi masa kini sudah mampu. Mengapa tak dimanfaatkan?...

Ramadan 1446 H: Hari 28

Weekday terakhir sebelum Lebaran.  Seharian saya relatif santai. Menghabiskan bacaan buku , menontoni 2 episode pertama beberapa (ya, beberapa!) drakor di Viki karena mau menunggu masuk April untuk subscribe , ...   Sore-sore baru merasa menyesal, kenapa saya nggak keluar belanja untuk hidangan spesial Lebaran!? Heu.... Pasalnya kami masih belum tahu apakah bisa ke konsulat Marseille untuk merayakan Lebaran. Yang artinya, makan siang kami belum terjamin! Hahaha. Ya kalau Lebaran Senin. Kalau Minggu, berarti waktu untuk belanja tak ada lagi. Kerena besok siang ada pertemuan Club Lecture. Tentu saja paginya saya berencana untuk menghemat tenaga. Sindrom hari Jumat di mana saya merasa lelah sesudah pulang malam karena kursus Kamisnya. Lelah karena sampai malamnya, atau karena harus memeras otak intensif selama 1,5 jam? Plus seperti biasa, Kamis sepagian saya menyelesaikan PR dan menyusun cerita yang biasa disampaikan di awal kursus. Gabungan semuanya sih ya, sepertinya!?...

Ramadan 1446 H: Hari 27

Hari ini saya tak mencicil menulis draft lagi. Sore tadi saya sempat bertanya-tanya: ngapain aja saya seharian ini? Kok sampai tak sempat menulis sama sekali? Pertanyaan itu muncul saat sudah menjelang jam 5. Padahal jam 6 saya sudah harus berangkat kursus. Dan saya pun segera membuka blog ulasan buku dan menyelesaikan draft yang sudah saya mulai beberapa hari yang lalu. Tak selesai, tentu saja. Saya melanjutkannya sepulang kursus—yang hanya dihadiri 3 peserta termasuk saya—dan buka puasa—hasil belanja Paksu di fastfood Asia—, dan langsung publish reviu La Végetarienne-nya Han Kang itu sebelum malah over thinking . Tak lupa sekalian setor ke KLIP, tentunya! Pikir-pikir, sebenarnya banyak yang saya lakukan hari ini. Meski tak antar-jemput Butet, tak masak, dan sempat tidur siang satu jam, saya sempat mencuci pakaian, menjemur hasil 3 putaran cucian, melipat jemuran yang sudah kering, beberes, ... mengerjakan PR kursus, membuat rekap pilihan perguruan tinggi Butet untuk melihat syarat k...

Ramadan 1446 H: Hari 26

Dan datang juga hari di mana saya tak terbangun pada saat seharusnya bangun!  Tenaaang. Tak telat sahur kok. Hanya saja, saya bangun 15 menit lebih lambat dari "seharusnya"! Saya sudah sempat cerita kan, kalau saya mengeset 3 macam alarm selama Ramadan ? Setiap malam, saya tak lupa memajukan masing-masing alarm 1-2 menit sesuai perkembangan jam Subuh. Begitupun semalam. Salahnya, saya lupa memajukan unit jamnya! Pagi ini adalah pertama kalinya berganti jam bangun dari jam 4-an ke jam 3-an. 3.58 sih. Tapi tetap saja kan: kalau lupa memajukan satuan jam, artinya alarm pertama saya terlambat satu jam! Saya sudah sempat terbangun jam 3.11 (saya mengecek jam) dan sadar: ah, masih setengah jam lebih. Tidur lagi saja. Setelah itu sempat terbangun beberapa kali. Tapi saya langsung tidur lagi tanpa mengecek jam. Sampai akhirnya saya terdorong untuk melihat jam, dan ... lah!!! sudah jam 4.12!!! Itu artinya masih ada satu jam lebih sebelum Subuh datang. Masih ada waktu untuk salat malam...