Serial Indonesia Made with Love
Belakangan, saya melihat makin banyak serial Indonesia yang masuk ke Netflix France. Serial panjang 50an episode, tipe soap opera. Sinetron lah ya. Melihat judulnya saja, saya tidak minat menontonnya. Apalagi sepanjang itu.
15 April yang lalu, saya menemukan serial yang baru rilis Made with Love, yang dalam versi asli Indonesianya berjudul Luka, Masak, Cinta. Mini seri. Hanya 8 episode. Per episode hanya 30an menit.
Luka(,) sang Chef
Menceritakan tentang Luka Amanda (diperankan oleh Mawar de Jongh), yang belerja menjadi sous chef di restoran Umah Rasa milik Sari Saraswati (Sha Ine Febriyanti), ibunya. Luka suka memasak dan memang jago. Dia selalu memasak dengan presisi. Dia berharap suatu hari nanti menjadi head chef, menggantikan posisi ibunya.
Namun ternyata Sari memilih merekrut Dennis Surya (Deva Mahenra), seorang chef yang berpengalaman bekerja di berbagai rumah makan di segala penjuru dunia, untuk menggantikannya selama dia harus absen berobat. Sari menganggap bahwa Dennis yang mengutamakan rasa dalam masakan, lebih sesuai dengan visi Umah Rasa dibanding Luka yang mengutamakan teknik.
Tentu saja, mulanya Luka tidak menyukai Dennis. Sampai suatu hari Dennis membuat perjanjian untuk pergi dari Umah Rasa begitu bisa meraih bintang Craft. Luka pun menyetujui dan mulai bisa bekerja bersama Dennis.
![]() |
| Poster versi Indonesia |
Takarir Prancis
Saya menonton serial ini dalam bahasa Indonesia dengan takarir bahasa Prancis. Bukan hanya karena saya suka bingung dengan istilah bahasa Indonesia gaul. Atau karena penggunaan bahasanya yang campur dengan bahasa Inggris secara tak terduga untuk saya sehingga membuat bingung. Namun saya juga ingin mengecek terjemahan dalam bahasa Prancisnya.
Ngecek? Gaya amat?
Hahaha. Nggak segitunya lah yaaa. Saya cuma ingin memastikan bisa merekomendasikan serial ini untuk ditonton teman-teman Indonesia bersama keluarganya yang mungkin tak bisa berbahasa Indonesia saja. Sampai saat ini masih belum banyak film dan seri yang disajikan Netflix France dengan takarir bahasa Indonesia.
Karenanya, senang sekali menemukan serial ini. Tak hanya takarir, bahkan ada versi sulih suara dalam bahasa Prancisnya, lho!
Saya mencatat dua titik menarik di sisi penerjemahan. Di episode 4, saat Luka membicarakan tentang red flag mantan pacarnya yang sebenarnya berderet. Dia menggambarkannya seperti arak-arakan suporter Liverpool. Takarir menginterpretasikannya sebagai "ça clignotait comme un sapin de Noël", kelap-kelip seperti lampu pohon Natal. Padahal saat saya cek sulih suara, tetap mengambil terjemahan harfiah "defilé supporter Liverpool".
Di episode 6, Johana menyebutkan soal seorang kawan bernama Alan. Si Alan. Dalam takarir dituliskan "Alan la poisse", Alan sialan. Sulih suara hanya menyebutkan Alan.
![]() |
| Screenshot: Netflix France |
Kuliner Indonesia
Secara garis besar saya bisa merekomendasikan serial ini. Format pendeknya membuat nyaman ditonton. Gambarnya cukup bagus. Di beberapa titik bahkan membuat saya kagum.
Saya betah menonton saat kamera menyorot hidangan. Serial ini merupakan ajang promo kuliner khas Indonesia. Berbagai masakan disajikan secara moderen dengan platting cantik ala fine dining. Walaupun saya pribadi lebih kangen nasi bungkus yang segala di-tumplek bleg itu. Nyam.
Namun ada di beberapa detail yang membuat gemas juga: rambut Dennis yang cukup panjang yang dibiarkan tergerai saat memasak, para chef perempuan yang full make up di dapur, pesanan makanan berupa getuk lindri yang disejajarkan dengan main course, ketiadaan Gita, sahabat Luka—sedang marahan sekalipun, dan juga kru Umah Rasa pada saat-saat akhir dan kepergian Sari, ...
Meski sudah melihat di film-film dan seri, juga novel dan kumcer Indonesia sebelumnya, saya masih terkaget dengan beberapa faktor. Konsumsi alkohol yang bebas, pakaian yang menurut saya cukup terbuka dalam suasana normal di keseharian, ... yang menurut saja nggak perlu-perlu amat juga. Memang sudah umumkah, di Indonesia, sekarang ini? Karena latarnya daerah turistik di Bali? Atau untuk menarik pasar internasional?
![]() |
| Masuk jajaran Top Show di Netflix France per 18 April 2026 |
Mudah Ditebak
Saya menuntaskan serial ini dalam dua hari. Yah, total cuma 4 jam kan!? Ceritanya sederhana, tak semenarik yang saya harapkan. Selain detil ending kerja sama Luka dengan partner yang tak saya duga dan tak bisa saya mengerti, garis besar kisahnya mudah ditebak.
Netflix mengategorikan serial ini untuk penonton usia 10 tahun ke atas. Mungkin perlu dicatat bahwa ada satu adegan sensual dengan perempuan topless yang direkam dari belakang selama beberapa detik.
Sambil menunggu serial juga film Indonesia lain makin mendunia melalui Netflix dan berbagai platform streaming lain.




Comments
Post a Comment