Carcassonne H1
Hari ini kami ke Carcassonne.
Akhirnya! Demikian komentar si Ucok saat saya mengirim kabar padanya.
Memang Carcassonne sudah masuk dalam wishlist kami sejak lama. Lama sekali. Sejak perjalanan jauh pertama kami berempat di tahun ... berapa ya? Nanti dicari dulu deh.
Yang jelas saat itu si Butet belum berani jalan sendiri. Berarti belum 2 tahun. Ucok yang berjarak hampir 7 tahun lebih tua masih suka banget dengan hal-hal yang berurusan dengan antariksa, planet-planet, ... karena itulah kami ke Toulouse, ke Cité de l'Espace.
Perjalanan ke Toulouse melewati Carcassonne. Kami berpikir untuk "mampir". Tapi batal. Biasa lah, urusan budget. Jalan jauh, bawa anak kecil, nggak bisa sekedar mampir. Menginap berempat jelas biayanya tak kecil buat kami.
Sejak itu, percakapan tentang ke Carcassonne berulang secara berkala. Apalagi saat Paksu sering ditugasi ke Toulouse beberapa tahun belakangan kemarin. Dan ternyata baru terealisasi hari ini!
Begitu pewaktuan disepakati, tanpa banyak pertimbangan Paksu langsung memesan tiket kereta api berangkat Selasa pagi tanggal 5 Mei dan pulang Rabu 6 Mei sore. Plus menginap di hotel semalam. Paksu berpikir, tak perlu lama-lama, toh hanya mengunjungi kota tua.
Ternyata, pertama: saat melihat-lihat website pariwisata Carcassonne, kota "baru"-nya cukup menarik. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi. Dan kedua: Paksu tetiba diminta ke Madrid untuk meeting Kamis, 7 Mei pagi!
Singkat cerita Paksu mengatur jadwalnya untuk langsung ke Madrid dari Carcassonne. Bersyukur tiket pulangnya bisa di-cancel meski hanya sebagian—tiket Carcassonne-Marseille saja, Marseille-Cannes tak bisa. Tiket ke Madridnya sih dibayarin kantor meski harus nombokin di depan dulu.
Memang tak ada kereta api langsung ke Carcassonne. Kami harus naik TER (kereta regional, antar kota dalam provinsi) ke Marseille untuk kemudian berganti Intercité (kereta antar provinsi) ke Carcassonne. Kereta berangkat pukul 6.59 dari gare SNCF (stasiun kereta api) Cannes. Kami keluar rumah pukul 6.15, mengambil bus 6.25, berjaga-jaga dengan tak mengambil bus berikutnya yang ngepas.
Perjalanan Cannes-Marseille memakan waktu 2 jam. "Transit" kami di Marseille hanya 20 menit. Cukup untuk mampir ke toilet umum. Bersyukur tidak ada antrian.
Perjalanan Marseille-Carcassonne memakan waktu 3 jam. Kami sampai setengah 1an. Cuaca cerah. Namun kami siap dengan jaket antiair karena diprakirakan hujan di sore hari.
Masih ada 2,4 km lagi jalan kaki menuju hotel. Bus ke arah hotel jarang sekali. Kami tak mau naik taksi. Sekalian kami mau memanfaatkan kesempatan melihat-lihat pusat kota Carcassonne.
Dari stasiun kereta api, kami jalan luruuus saja di sepanjang pusat kota sebelum belok ke kiri ke arah kota tua. Mampir mengambil foto dengan memanfaatkan sisa batre yang sudah amat sangat minim dan habis saat memasuki kota lama (hiks), window shopping, beli camilan di Normal, lalu sekalian makan siang.
Sampai di hotel, kami istirahat sejenak dan salat. Saya dan Butet keluar jam 4an sore karena Paksu ada meeting setengah 5. Tujuan: Cité Médieval. Kota tua. Tak lupa kami membawa jaket. Langit mulai berawan gelap.
Kami menemukan jalan pintas menuju Porte de Narbonne, satu dari dua pintu masuk Cité, melalui lapangan parkir. Lumayan, memotong 100an meter dari 300 meter yang ditunjukkan Google Map. Ya, hotel kami memang dekat sekali dengan kota tua.
![]() |
| Porte de Narbonne, gerbang masuk kami ke Cité |
Berbeda dengan sepanjang jalan yang meski tak sepi tak bisa dibilang ramai, Cité Medieval ramai sekali! Masih banyak pengunjung meski sudah cukup sore. Sudah bukan musim liburan, pula! Kami bertemu beberapa grup anak dari TK dan SD lokal—kami melihat mereka kembali ke sekolah berjalan kaki.
Melewati gerbang Cité, Butet langsung minta ke toko suvenir resmi yang memang terletak dekat pintu masuk. Tak ada yang menarik. Lagi pula kan kami belum berkunjung juga ya!?
Kami berkeliling tanpa peta. Menyusuri jalan yang dibangun sejak abad pertengahan itu secara asal saja. Kami tak masuk kastil maupun museum. Berbayar. Dan sudah mau tutup juga.
Kami sempatkan masuk ke toko-toko suvenir untuk turis. Butet mencari lonceng untuk melengkapi koleksinya. Belum ada yang cocok ... harganya!
Butet mengatakan kalau dia sudah sempat mendapatkan informasi di internet bahwa harga suvenir di Carcassonne cukup tinggi. Tak menyangka kalau ternyata benar-benar lebih tinggi ketimbang di Cannes. Dia sudah pasrah kalau batal beli. Tak rela membelanjakan duitnya, katanya.
Di suatu sudut jalan saya mendapatkan hadiah: kotoran burung! Memang ada banyak burung kecil beterbangan di sekitaran kota tua. Untung jatuhnya di lipatan kerudung yang menutup dada. Lekas saya lap dengan tisu semaksimal mungkin dan mengikat ujung kerudung agar residunya tidak mengontaminasi yang lain.
Kami tak langsung pulang. Paksu berencana menyusul seusai meeting. Kami lanjut sampai merasa sudah cukup mengeksplorasi Cité yang ternyata tak sebesar bayangan kami.
![]() |
| Porte d'Aude, di sisi lain Cité |
Kami pun berhenti mencari smoothie sekalian duduk-duduk istirahat. Meski titik-titik hujan mulai kami rasakan, kami tetap memilih duduk di luar. Saya yang biasa minum banyak lekas menghabiskan bagian saya. Butet baru minum setengah saat tetiba ada sesuatu yang melayang jatuh.
Kami tak yakin benda apa. Kami tak yakin apakah jatuh di gelasnya. Saat itu angin mulai kencang. Gerimis makin rata. Kami memilih bangkit membuang sisa smoothie Butet dan kembali ke hotel saja. Tak lupa saya mengabari Paksu supaya tak keburu menyusul.
Dalam perjalanan, kami melihat toko-toko mulai melipat barang-barangnya. Sudah menjelang jam 6 juga. Yang jelas, hujan dan angin kencang.
Sampai hotel, Paksu belum selesai meeting. Dia mencemaskan kami, mendengar suara angin yang meniupkan hujan ke kaca jendela kamar kami, dan memahami kenapa kami balik ke hotel dan tak menunggunya menyusul seperti rencana.
Untuk makan malam, kami memilih di hotel saja, tak keluar seperti rencana. Rumah makan hotel ternyata penuh, tak ada tempat. Kami lihat isinya kebanyakan lansia. Mungkin penduduk lokal sekitaran. Memang rumah makan hotel terbuka untuk siapa saja.
Kami pun memesan susyi via Uber Eats. Sushi, sashimi, dan makinya enak. Sup misonya dingin. Tapi kami habiskan. Lapar!
Sekarang saatnya istirahat. Besok hari yang padat, memaksimalkan waktu pendek kami di kota bersejarah yang sudah dinobatkan menjadi warisan dunia oleh Unesco sejak 1997 ini. Semoga cuaca cerah, seperti yang diprakirakan. Aamiin.



Cantik banget kotanya. Namanya pun unik.
ReplyDelete