Delapan Belas Tahun

Delapan belas tahun adalah batas usia kedewasaan di Prancis. Ya, 18. Bukan 17 seperti di Indonesia. 18 tahun artinya sudah bisa ikut Pemilu. Kalau SIM mah di Prancis sudah dari umur 17, meski baru legal berkendara di luar Prancis sesudah usia 18.

Di usia 18 tahun, orang tua tak lagi punya hak untuk mengatur anak. Anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Bisa mendaftar sekolah sendiri, menyewa tempat tinggal sendiri, ... tak perlu lagi kehadiran orang tua. Secara legal. Pada prakteknya, itu cerita lain lagi.

Kebanyakan penyewa rumah masih mewajibkan adanya penjamin. Dan siapa penjamin, kalau bukan orang tua, kan!? Itupun seringkali masih tetap orang tua yang membayar. Apalagi kalau anaknya masih mahasiswa dan belum bekerja!

Di usia yang baru menginjak 18, Butet sudah hidup sendiri. Terpisah dari kami orang tuanya. Jauh dari keluarga. Urusan sewa kamar asrama, masih kami yang menangani. Langganan listrik pun masih atas nama kami. Bukan karena anaknya malas, tapi memang demikian ketentuannya sebelum anak dewasa. Tahun depan, akan beda lagi ceritanya.

Tapi itu tahun depan sajaaaa.

Sekarang, saya mau mencatat milestones Butet di usianya yang ke-18. Mungkin catatan singkat dulu saja ... yang siapa tahu, nantinya dikembangkan lebih detil. Mumpung sudah ada sedikit mood untuk menulis. Jangan sampai menyesali kelalaian mencatat seperti tahun lalu.

Diterima di Rubika Valenciennes

Rubika bukan pilihan pertamanya. Valenciennes belum pernah kami kunjungi sama sekali sebelumnya. Bahkan kami belum pernah ke wilayah Prancis ujung utara itu. Tapi Butet mantap!

Jarak 1100 km dari Cannes tak membuatnya takut. Pertanyaan penguji saat wawancara yang berkali-kali memastikan apakah yakin, mau meninggalkan keindahan Pantai Laut Tengah dan kehangatan iklim Prancis tenggara untuk bersekolah di Prancis utara yang muram, dingin, dan banyak hujan?

Sebelum ujian akhir SMA dilaksanakan, Butet sudah menentukan pilihannya: kelas persiapan sekolah animasi Rubika di Valenciennes. Bismillah.

Diterima di Belasan Perguruan Tinggi

Yang ini, saya sendiri baru menyadari kalau tak ada catatannya di blog ini. Sepertinya saya menunggu sampai prosedur Parcoursup selesai, dan akhirnya malah tak jadi menulis!

Ya, sejak hari pertama pengumuman Parcoursup, Butet sudah diterima di belasan perguruan tinggi negeri di Prancis. Hanya satu yang tidak lolos: ENSA Belleville. Yang lain masih dalam masa tunggu. Yang artinya, dia bakal diterima kalau ada tempat. Dan memang selama Juni ada saja tawaran baru.

Butet sempat bimbang karena saat-saat itu muncul isu tidak sedap mengenai sekolah-sekolah animasi di Prancis. Namun dia tak mau menunggu sampai saat terakhir untuk mengedrop tawaran. Kasihan kandidat lain yang menunggu jawaban seperti abangnya dulu. Dan sampai saat ini, Rubika tak disebutkan dalam berita negatif.

Sebagai catatan, saat mengundurkan diri dari Parcoursup Butet sudah dinyatakan diterima di 3 ENSA yang diikuti prosedurnya (kecuali ENSA Versaille yang memang mengecewakan untuknya), double degrée ENSA-ESAD, berbagai perguruan tinggi dalam jaringan Polytech, dan jurusan perfilman di Universitas Sorbonne!

Mention Très Bien Baccalaureat

Setelah tak percaya diri, ternyata Butet meraih mention très bien dengan nilai yang cukup aman. Butet pun menerima berbagai hadiah yang sampai saat ini baru dibelanjakan untuk membeli tiket konser Laufey. VIP! Hahaha.

Dia tak menyesal menolak tantangan kami untuk mendobel hadiahnya jika meraih mention TB. Katanya, kalau dulu menerima, mungkin jadi tekanan tersendiri yang membuatnya malah sulit meraih mention itu. Baiklah.

Resmi Merantau

Tanpa mengenal kotanya, dia merantau. Berbekal pemikiran bahwa tak ada daerah yang sempurna, pasti ada plus-minusnya. Dan bismillah, tentunya.

Alhamdulillah asramanya bagus, kamarnya enak, personilnya baik, dan dekat dari kampus.

Terdaftar di Klub Olahraga Impian: Ice Skating!

Awalnya Butet ingin kembali mengikuti balet. Sayang sekali latihannya malam. Tak ada transportasi umum yang bisa membawanya pulang.

Lalu dia melihat ada klub ice skating. Latihannya Minggu pagi. Kali ini, tak ada transportasi umum yang bisa membawanya berangkat!

Jadilah setiap Minggu pagi dia berjalan kaki 1,5 km menuju stasiun tram yang sudah beroperasi. Saya pun menemaninya melalui video chat di kegelapan musim dingin. Alhamdulillah tak ada hujan atau kabut tebal sampai saat ini. Semoga demikian seterusnya.

Pertama Kali Berulang Tahun Jauh dari Rumah

Kalau tahun lalu adalah pertama kalinya Butet tak ada saat saya ulang tahun, yang kemudian berlanjut tahun ini, kali ini giliran Butet yang di rumah saat dia berulang tahun. Alhamdulillah, dia tak sendiri. Ada teman-temannya yang sama-sama jalan-jalan ke Lille sehari sebelumnya, lalu nonton film bersama di hari-H. Tak ada "pesta" perayaan istimewa. Rencana makan bersama pun batal karena ada banyak tugas dan sedang musim ujian juga.

Ya, tak ada nasi kuning dan bebek madu. Tak ada pula Royal au Chocolat. Kado yang dibeli online—tahun ini Butet meminta artbook Arco, spidol gambar, serta dua figurin Funko Pop yang lagi diskon: Kuromi dan Aggretsuko—langsung dikirim ke asramanya. 

Tapi jelas, doa terlantun: semoga selalu diberi kelancaran dan kemudahan dalam perjalanannya, diberi kekuatan fisik, mental, dan imannya, sukses dalam mencapai apa yang diangankannya, dalam lindungan petunjuk dan berkah-Nya. Aamiin.

Sambil menunggu bisa memasakkan bebek dan kue kesukaannya saat dia mudik liburan akhir tahun nanti, tentunya!


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi