Carcassonne H2

Hari kedua tak kami mulai sepagi yang saya pikirkan. Heu ....

Selasa malam, Butet menyatakan tertarik untuk ke pasar ... yang tentunya terletak di pusat kota! Karena pasar hanya buka pagi dan kami harus mengejar kereta jam 5 sore, saya usulkan untuk check out pagi, ke pasar lalu ke kota tua lagi, makan siang di sana dan mengunjungi kastil, kemudian ke hotel mengambil barang-barang dan langsung ke gare.

Paksu mengatakan ada meeting pagi dan baru bisa keluar jam 10. Lah? Gimana sih ya? Dia yang memutuskan pergi, dia sendiri yang malah belum jalan-jalan sama sekali!

Ya sudah, saya dan Butet keluar berdua saja lagi.

Ternyata, Butet baru siap menjelang jam 9.

Ya sudah (lagi!).

Pemandangan jam 7 pagi ke arah Cité dari kamar hotel kami

Kami meninggalkan kamar dengan meninggalkan barang bawaan yang sudah siap angkut. Biar Paksu yang menitipkan ke resepsionis saat check out untuk kemudian menyusul kami. Off we go to the marketplace! Offline yak! Hehehe.

Jalan kaki tanpa barang bawaan memang lebih nyaman. Jelas lah ya!? Kami jalan santai menyusuri jalur yang praktis sama dengan jalur kedatangan kami. Dan saya memanfaatkan membuat foto-foto yang tak sempat diambil karna habisnya batre ponsel.

Sampai lokasi, betapa kagetnya kami karena ternyata tak ada pasar! Les Halles Prosper Montagne, satu-satunya pasar yang buka di hari Rabu karena katanya buka tiap hari kecuali Minggu dan Senin itu terlihat kosong sama sekali! Jelas bukan karena kami salah hari kalau melihat dari kaca-kaca pasar tertutup itu yang berlapis debu tebal.

Memang kami sudah menyadari bahwa peta dari dinas pariwisata tidak up to date. Ada beberapa hal yang sudah tidak ada. Karenanya kami mengecek ke website dan juga Google Map. Tak ada informasi mengenai tutupnya pasar!

Jelas, kami kecewa. Kami jalan cukup jauh kan!? Untuk tak merasa terlalu rugi, kami mencari jalur lain untuk kembali ke kota tua. Dan kami menemukan sebuah toko buku.

Librairie Papeterie Breithaupt ternyata besar juga. Cukup komplit dengan berbagai genre buku di depan—ada satu rak buku berbahasa Inggris jugadan alat tulis serta dekorasi di bagian belakang. Butet menemukan buku sketsa yang memang diinginkannya. Saya membawa pulang En Attendant Godot-nya Samuel Beckett. Buku naskah teater yang sudah sering saya dengar tetapi belum pernah saya baca sama sekali. 

Paksu mengabari kalau sudah selesai meeting. Saya minta dia untuk langsung berjalan-jalan ke Cité sambil kami menuju ke sana. Tentu saja perjalanan saya dan Butet memakan waktu karena mampir-mampir dan behenti-berhenti. Ada banyak bangunan bersejarah di pusat kota Carcassonne. Kami sempatkan berhenti membaca papan informasinya saja. Tak ada waktu. Kebanyakan juga masih tutup karena belum jam 10 pagi!

Kami sempat mampir masuk ke kantor informasi pariwisata. Namun saya enggan bertanya-tanya. Tidak juga protes akan ketidaktepatan informasi website-nya.

Saya sengaja memilih jalan lain untuk masuk ke Cité. Kalau Selasa masuk dari Porte de Narbonne, Rabu mau mencoba Porte d'Aude. Saya tahu kalau jalanan menanjak parah. Yang diproteskan Butet adalah jalurnya yang merupakan jalan berbatu. Sakit di kaki, katanya. Padahal kan sekalian pijat refleksi ya!? Hahaha.

Kami bertemu Paksu di depan katedral. Setelah istirahat sebentar, kami memutuskan untuk masuk ke kastil. 

Gerbang masuk kastil

Tiket ke kastil cukup mahal: 19 euros per orang untuk high season, 1 April hingga 30 September. Tapi gratis untuk Butet yang warga Uni Eropa usia 18-25. Untuk informasi, tiket gratis untuk di bawah 18 tahun dan tiket low season seharga 13 euros.

Kesiangan sih, sebenarnya. Sudah hampir jam 11 saat kami mulai menjelajah. Jelas tak mungkin kami mengejar jam makan siang normal. Dan benar saja.

Untuk menjelajahi kastil dalam saja, kami membutuhkan 2 jam lebih. Memang ada Butet yang memegang audio guide dan tekun mendengarkan satu per satu keterangan yang disampaikan juga sih. Namun yang namanya kastil medieval, di dalamnya banyak tangga naik turun yang sempit yang sulit diaksesnya. Apalagi untuk saya yang ada masalah dengan lutut. Alon-alon asal kelakon lah, ceritanya.

Selain kastil, ada bagian benteng yang bisa dijelajahi. Benteng Cité ini unik, ada dua lapis. Total panjang benteng bagian dalam yang bisa dikunjungi itu katanya 1,3 km. Kalau dalam kondisi normal, jarak segitu kan 15 menitan juga selesai ya!? 

Lagi-lagi, karena adanya menara pengawas yang untuk melaluinya harus naik dulu dan kemudian turun lagi, kami membutuhkan waktu 50 menit. Hanya 10 menit lebih cepat dari perkiraan panduan yang ditempelkan di awal masuk area benteng. Dan ada masa menunggu Butet menyelesaikan audio guide. Plus foto-foto, dong! Hehehe.

Lelah, tentu saja. Tapi puas juga. Cité Medieval Carcassonne menyimpan sejarah yang panjang. Tak ada bekas yang jelas terlihat sih. Dan informasi yang disampaikan di sepanjang kunjungan cukup terbatas. Ada tendensinya pula. Dan itu yang membuat makin menarik mempelajari lebih lanjut.

Keluar Kastil, setelah mengembalikan audio guide, kebanyakan rumah makan sudah tutup. Semua rumah makan dengan rating bagus di Google tutup jam 2 siang. Kami yang sudah lapar mengambil restoran pertama yang masih buka. Katanya sih kafe tertua di sana.

Sesudah makan saya iseng mengecek Google Map. Rating restoran ini hanya 2,7! Kalau tahu, sepertinya kami tak akan memilihnya! Hehehe.

Padahal kami mendapati bahwa makanannya nggak tidak enak. Mungkin karena lapar juga ya!? Kami tahu, bukan dari bahan makanan segar atau fait maison (buatan rumah, buatan sendiri). Apalagi yang saya dan Paksu pesan, yaitu cuisse de canard confit, paha bebek yang diawetkan dalam lemaknya. Butet memilih magret de canard, alias dada bebek. Memang olahan bebek adalah makanan khas daerah Prancis barat daya selain cassoulet yang tentu saja tidak bisa kami konsumsi karena kandungan babinya. 

Yang kami pesan berbeda dengan yang dikeluhkan di Google. Yang jelas, kami mendapatkan pelayanan yang ramah, tidak seperti yang dikeluhkan di Google juga. Lalu, poin tambahan untuk kami adalah adanya tanda "mengandung babi" di daftar makanan di menunya. Kami jadi lebih mudah memilah mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang tidak.

Sesudah makan, kami kembali ke hotel. Kami mengambil barang dan istirahat sebentar sebelum memanggil Uber Ride. Sudah tak mampu jalan lagi. Apalagi kalau harus membawa barang bawaan lagi!

Saya dan Butet naik kereta Intercité menuju Marseille pukul 17.29. Paksu mengambil TER menuju Toulouse 5 menit kemudian. Kebetulan di peron yang sama meski di sisi dan arah yang berbeda.

Sampai di Marseille, kami memilih ke toilet ketimbang mencari makan malam. Kami mengandalkan vending machine di dalam kereta menuju Cannes. Ternyata mesin hanya menjual minuman dan camilan manis! Kami pun mengganjal perut dengan keripik yang dibeli di Carcassonne.

Sampai di Cannes, kami lihat masih ada 17 menit sebelum bus dijadwalkan datang. Mengandalkan keberuntungan, kami membeli makan malam dulu di fastfood seberang jalan. Alhamdulillah servis cepat dan kami bisa mendapatkan bus dengan tenang.

Kami masuk rumah menjelang tengah malam. Bersamaan dengan Paksu masuk hotelnya. Kami lekas makan, mandi, salat, lalu tidur. Karena itulah, catatan hari kedua baru bisa ditulis Kamis ini. Itupun sudah siang karena saya tidur lagi pagi tadi. Hehehe.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi