Beda Kacamata
Denger nggak, berita pernikahan seorang laki-laki superkaya dengan seorang perempuan supermodel yang dilangsungkan di Abbaye Mont Saint Michel awal Juni lalu? Kabarnya, itu adalah pernikahan pertama yang diselenggarakan di sana sejak 1000 tahun. SERIBU!!!
Nggak denger? Nggak papa. Tapi kalau penasaran, silakan googling sendiri, ya! Karena saya juga tak akan menampilkan foto tentang itu di sini. Hehehe.
Berbagai feed di Instagram mengiringi berita itu selama beberapa hari. Ada yang mengomentari soal keindahan lokasi atau mewahnya dekorasi. Ada yang membincangkan kerennya para bridesmaid dan groomsmen-nya. Ada yang mengagumi desain busana pengantennya yang dari rumah mode ternama.
Namun ada pula komentar bernada negatif yang mempertanyakan mengapa Abbaye Mont Saint Michel dijadikan objek komersial? Mengapa tidak ada pengumuman dibukanya kembali biara itu untuk upacara pernikahan? Mengapa pasangan berkebangsaan Cina yang memecahkan rekor 1000 tahun? Yang kemudian berlanjut ke beberapa aspek.
![]() |
| Mont Saint Michel yang indah |
Ada yang bertanya-tanya, berapa duit yang mereka keluarkan untuk bisa menikah di sana. Tak hanya soal dekorasi atau biaya perjalanan. Tapi juga soal privatisasi cité yang tercatat sebagai salah satu Warisan Dunia oleh Unesco sejak 1979 dan selalu ramai dengan wisatawan itu. Pasti persiapannya puanjaaang.
Kemudian yang lain mempertanyakan di sisi agama. Apakah pasangan penganten benar-benar memenuhi syarat untuk bisa menikah di gereja?
Saya sendiri tak mencari lebih lanjut tentang semua itu. Yang terpikir adalah: wah, mereka sangat pemberani! Tak hanya kedua mempelai, tapi juga keluarga besarnya.
![]() |
| Gereja yang biasa penuh dengan pengunjung diprivatisasi untuk upacara pernikahan |
Betapa tidak?
Masih lekat dalam ingatan saat mengunjungi Mont Saint Michel setahun yang lalu. Kota tua yang terletak di pulau kecil itu tak bisa dijelajahi bermobil. Namanya juga "mont" alias bukit, jalanan batu yang sempit dan berkelok di sana tak rata. Batunya ada yang entah hilang, entah aus, dan medannya naik-turun di berbagai titik.
Itu baru kota tuanya!
![]() |
| Tangga dari kota menuju kompleks biara |
Untuk mengakses biaranya, tak ada jalan lain selain menaiki tangga! Tak ada pilihan jalan tak bertangga—yang tentunya menanjak—apalagi lift!
Di website resmi sudah diperingatkan bahwa kawasan Mont Saint Michel tidak ramah bagi penyandang disabilitas mobilitas terbatas. Pengunjung dengan mobilitas terbatas ini bisa meminjam joëlette, kursi satu roda. Disarankan ditemani 5 orang yang kuat untuk mengendarainya. Kalau tidak ada, bisa dihubungkan dengan asosiasi untuk membantu. Asal tak lupa memesan paling tidak 4 minggu sebelumnya!
![]() |
| Berenam pun apakah mampu menandingi mereka? (Foto: Ouest France) |
Saya kira kedua mempelai, keluarga, dan tamu undangannya tak perlu menjelajahi ruang-ruang bagian dalam biara yang kebanyakan tangganya supersempit dan supercuram. Namun untuk mengakses pintu masuk biara saja, sudah perjuangan tersendiri. Jalan kaki ataupun naik joëlette!
Karena itulah tadi saya sebutkan bahwa mereka pemberani!
Euh, pragmatis sekali, ya, pemikiran saya? Hehehe.
![]() |
| Tangga yang menghubungkan ruang utama gereja dengan kapel |
Saat melihat berbagai feed dan membaca komentar-komentar, saya sendiri sempat tercenung. Mengapa hal itu yang langsung terlintas dalam pikiran saya? Mengapa bukan soal kebudayaan, busana, dekorasi, biaya atau agama?
Di situ saya diingatkan bahwa setiap orang memandang dengan kacamata masing-masing. Ada yang melihat dengan kacamata pecinta peninggalan bersejarah, kacamata pemerhati mode, ekonomi, administrasi, selebritas, agama, ... asal bukan karena sirik saja!
![]() |
| Pemandangan ke level permukaan laut dilihat dari halaman gereja |
Apakah saya sirik?
Bisa jadi ada unsur itu sih ...
Saya nggak mau menikah ... lagi! Eh? Hahaha. Saya jelas nggak pengen nikah di biara. Beda keyakinan lah, kita. Saya nggak pengen pakaian mewah karya rumah mode ternama. Sadar diri, lha wong nggak ada usaha sama sekali buat mendekati bentuk badan sang foto model! Hihihi.
Yang saya irikan (heu) mungkin adalah keinginan membawa orang tua ke sana. Jalan-jalan melihat pulau unik yang indah itu. Pesen joëlette untuk naik ke biara. Nyumbang asosiasi karena jelas saya, Paksu, Ucok, dan Butet belum cukup, masih kurang satu. Euh, kayak kuat aja ya!? Huehehehe.
Tapi lagi-lagi, saya memandangnya dari kacamata saya: kacamata seseorang yang terengah-engah naik-turun tangga, sambil terpikir kerinduan pada orang tua.
![]() |
| Mont Saint Michel yang fotogenik sering dijadikan lokasi foto pre-wedding |
Sebelum feed tentang pernikahan itu mereda dan akhirnya hilang, ada satu feed yang menarik perhatian saya. Kali ini datang dari seorang fotografer yang katanya menerima banyak pertanyaan dari pengikutnya: kok bisa, 1000 tahun? Bukannya kamu sering menjadi fotografer untuk pasangan yang menikah di sana?
Dalam feed itu, si fotografer menjelaskan bahwa dia hanya membuat foto pre-wedding. Pernikahannya sendiri tidak dilakukan di Abbaye Mont Saint Michel.
Satu lagi bukti bahwa setiap orang mengomentari dari pengalaman dan kapasitas masing-masing. Kali ini di sisi fotografi.
Ibarat hikayat 6 orang buta yang berusaha mendeskripsikan gajah. Satu memegang belalainya, satu gadingnya, satu telinganya, satu badannya, satu kakinya, dan satu ekornya. Setiap orang mendeskripsikan dari persepsi masing-masing. Bisa beda, untuk satu objek yang sama.
Seperti bedanya pemikiran, untuk satu peristiwa pernikahan tadi.
---
Tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni 2026 dengan tema Gap/Perbedaan yang diusung oleh Mamah Host Jade.









Comments
Post a Comment