Strasbourg November 2026

Strasbourg merupakan ibukota dari Region Grand-Est (dulu: Alsace). Kota ini berbatasan dengan Luksemburg di utara, Jerman di timur, dan Swiss di selatan. 

Strasbourg terkenal dengan pasar Natalnya. Namun kami tak menunggu periode Natal. Natal adalah satu-satunya periode di mana Butet bisa pulang. Di luar itu tak bisa menjamin kelonggaran waktunya. Begitu pula si Ucok. Karenanya, kami lebih ingin berkumpul di rumah meski kami tak merayakan Natal. Pun tahun baru.

Kami hanya 3 malam di Strasbourg. Datang Kamis sore, Minggu sudah pulang. Apalagi Butet yang harus berkereta jam 6 pagi. Memang dia yang waktunya paling terbatas. Saya yang ibu rumah tangga relatif fleksibel, Paksu bisa WFH dari segala penjuru Prancis.

Kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak sekitar sebulan yang lalu. Tak menyangka akan ada demo besar-besaran yang dijadwalkan 31 Oktober. Kami pun berpikir untuk ke Colmar saja hari itu. Tapi itu ceritanya nanti saja. Kali ini, saya ingin mencatat periode kami di Strasbourg yang tadinya sudah singkat dan jadi makin singkat.

Dengan situasi yang tak bisa diduga berkaitan dengan demonstrasi, Kami tak membuat agenda yang jelas selama di Strasbourg. Tak ada tujuan wisata, kunjungan museum ataupun monumen secara spesial. Let it flow saja. Tanpa target.

Saya dan Paksu tiba di bandara Entzheim Kamis sekira jam 2 siang. Setelah 7 menit naik kereta api regional, kami langsung ke hotel yang terletak di sisi utara Grand Ile dengan berjalan kaki. Hanya 600 meter. Cuaca cerah. Tapi jauh lebih dingin ketimbang di Cannes. Suhu maksimal di Strasbourg adalah suhu minimal di Cannes!

Di perjalanan, kami mampir ke sebuah toko roti yang terkenal dengan kougelhof-nya, roti khas Alsace. Kami membeli 2 mini kougelhof dan sekantung bredel, biskuit berbumbu yang biasa dihidangkan saat Natal di Alsace.

Jam 5 Paksu ada meeting online—padahal harusnya sedang cuti—, saya keluar menjemput Butet di stasiun. Suhu udara lebih dingin lagi.

Kami ke hotel hanya untuk meletakkan barang bawaan Butet yang sebenarnya tidak berat tapi besar: map gambar ukuran A3! Lalu kami berjalan-jalan melihat-lihat kota sekalian mencari tempat untuk makan malam.

Kami berjalan-jalan ke arah Place Kleber yang menjadi pusat pasar Natal. Pohon Natal sudah dipasang lho, sejak 26 Oktober! Tapi masih polos, belum dihias. Bahkan beberapa cabangnya masih belum dipasang. Ya, cabang-cabang pohon Natal besar itu tidak asli!

Di sekitar Place Kleber, terlihat bangunan-bangunan dengan arsitektur khas Alsace. Sayang sekali sulit membuat foto karena pusat kota Strasbourg saat itu ramai sekali. Yah, namanya juga ibukota provinsi. 

Mulanya kami berniat makan di restoran Jepang dekat hotel yang sempat kami lewati. Namun urung saat melihat bahwa restoran itu tipe all you can eat. Rasanya kami tak mampu makan banyak, malam itu. Kami pun bergeser mencari burger, pilihan kedua Butet, dan makan di sebuah restoran steik halal yang jarang kami temui.

Usai makan, kami kembali ke hotel. Mandi, salat, berbincang, ... melayani keluh-kesah Butet yang tak bisa mengerjakan tugasnya karena meja di kamar kecil dan tak stabil. 

Malam itu kami sulit tidur. Kamar hotel ternyata gerah sekali. Tak terlihat termostat pengatur suhu ruang. Menjelang Subuh, saya menyalakan kipas angin yang tersedia di kamar. Lalu kami membiarkan jendela terbuka seharian. Kebetulan jendela kamar kami menghadap ruang terbuka kecil di dalam bangunan.

Jumat, Butet ada janji temu dengan kawan kuliahnya yang tinggal tak jauh dari Strasbourg. Saya dan Paksu berjalan-jalan berdua saja ke daerah Petite France. Prancis Kecil. Disebut begitu mengikuti nama rumah perawatan paliatif untuk penderita sifilis yang waktu itu disebut sebagai mal des français, "penyakit orang Prancis". Wah, bisa panjang pembahasannya ya!? Yang jelas, wilayah ini merupakan salah satu warisan dunia Unesco.

Dari hotel, kami menyusuri kanal Faux Remparts, berbelok ke sebuah jalan yang ternyata berujung ke sebuah pasar. Sayang sekali kami masih kenyang sesudah sarapan di hotel. Lalu kami ke arah Bendungan Vauban. Dari sana, kita bisa naik dan melihat pemandangan Petite France yang indah.

Dari bendungan, kami menyusuri jalan-jalan kecil Petite France. Benar-benar pemandangan yang berbeda dengan daerah kami di pesisir pantai Laut Tengah. Di sini, perpaduan budaya Prancis dan Jerman sangat terasa. Nama-nama jalan diterjemahkan dengan bahasa Jerman. Dan memang banyak terdengar orang berbincang dengan bahasa Jerman juga.

Kami melanjutkan menyusuri tepian sunga Ille, di sisi selatan Grand Ile. Hotel kami terletak di sisi utara, di tepian kanal Faux Remparts. Menyeberang Ille, lalu kembali lagi ke Grand Ile dan menuju wilayah katedral.

Sayang sekali kami sampai di sana pas tengah hari. Pas waktunya tutup. Atau paling tidak, begitulah dari dua pintu di dua sisi yang kami lihat. Karena ternyata, Butet dan kawannya sedang mengunjungi katedral pada sekitar waktu itu!

Kami pun kembali ke hotel karena Paksu keukeuh mau makan makanan Afghanistan yang hanya bisa dipesan via Uber Eats karena lokasinya yang agak jauh. Niatnya, kami kembali lagi ke katedral bersama Butet yang kawannya harus pergi sekitar jam 2-an dan naik ke menaranya bersama-sama.

Ternyata Butet sudah naik ke menara bersama kawannya. Dia juga sudah berjalan-jalan ke Petite France. Boleh dibilang dia mengunjungi lokasi yang sama dengan kami, hanya saja urutannya berbeda.

Butet bahkan sempat makan flammekueche, semacam pizza khas Alsace yang malah tak sempat saya cicipi. Rupanya, ibu temannya itu sudah berpesan untuk membawa Butet berkeliling dan makan hidangan khas. Dengan menghilangkan unsur daging babinya, tentunya.

Tak tertarik ke museum, sore itu kami jalan-jalan ke mal di seberang kanal. Membelikan stocking untuk Butet dan membeli patisserie orientale. Lho??? Biasa lah, kesukaan Paksu. Tentu saja saya ikut berpartisipasi melengkapi promo membeli 10 potong untuk mendapatkan diskon! Hihihi.

Kami menyeberangi kanal menuju pusat kota. Mampir dulu membelikan kaus untuk Butet. Mal dan toko sangat ramai. Begitu pula jalanan. Saya merasa gamang. Orang-orang seakan bersiap untuk Sabtu. Semua orang keluar rumah untuk tidak perlu keluar di hari demonstrasi. Atau justru karena esoknya ikut demonstrasi? Entahlah.

Yang jelas beberapa toko memasang papan-papan pelindung. Aneh sekali, rasanya.

Kami berjalan dengan memilih jalur yang berbeda dari Kamis malam. Mampir ke apotek membeli krim untuk tangan saya yang sudah memerah kedinginan. Lalu kami ke toko buku yang tak sempat kami masuki dan pertahanan saya runtuh, terbelilah satu buku fisik! Hehehe.

Tak tahu lagi mau ke mana tapi belum waktunya makan, kami pun memutuskan kembali ke hotel. Di tengah perjalanan, Butet meminta dibelikan es krim. Walah! Tapi kami jadi melihat sebuah warung masakan Korea di seberangnya. Dan di situlah kami makan kemudian sesudah istirahat sejenak di hotel. 

Malam itu kami tidur dengan jendela terbuka. Di Strasbourg yang suhunya 5°C!!! Sedangkan di Cannes yang masih sekitar 20an kalau siang saja kami cuma membuka sekedarnya untuk ventilasi tuh!

Sabtu pagi, kami ke Colmar. Nanti insya Allah saya tulis terpisah. Kami sudah kembali ke Strasbourg sebelum jam 4 sore. Kami dengar, demo berjalan aman. Kereta sih lancar. Hanya tram dan bus dalam kota yang sengaja dihentikan operasinya. Justru ada kabar bahwa ada isu demo diselubungi perayaan Halloween.

Kami yang mampir ke kota membeli sarung tangan untuk Butet merasakannya. Toko yang biasa tutup jam 7 malam, mengumumkan akan tutup jam 5 sore. Kami jadi harus cepat-cepat. Tapi toh sudah tau mau membeli apa. Terlihat antrian panjang di kasir.

Kami kembali ke hotel sambil memantau kabar. Butet juga perlu mencicil tugasnya. Saya menemaninya di ruang makan hotel sampai waktunya makan malam ... dan lampu ruang makan mulai dimatikan! Heu....

Kami tertarik untuk makan malam di restoran Jepang all you can eat yang berdasarkan reviu Google konsepnya menarik: pelanggan duduk, memesan 5 item per orang setiap 15 menit dengan menggunakan tablet. Jadi makanannya segar, disiapkan begitu dipesan, dan kita tak perlu mondar-mandir! Semua menu bebas, kecuali minuman dan dessert.

Namun ternyata kami sudah penuh pada pesanan kedua. Itu artinya masing-masing 10 menu sih ya!? Hahaha. Kelihatannya kecil-kecil. Tapi ternyata mengenyangkan. Pesanan ketiga hanya Butet yang penasaran dengan taiyaki dan saya mengambil yakitori untuk mencoba menghabiskan semangkuk nasi pesanan Butet sebelumnya: satu-satunya yang porsinya besar! Hahaha.

Sabtu malam kami kembali tidur dengan jendela terbuka. Setelah Butet menyelesaikan packing-nya tentunya. Hanya satu dari dua buku yang saya bawakan dari Cannes masuk ke tasnya. Padahal kami tak ada membeli oleh-oleh. Memang tak mau repot saja.

Minggu pagi, kami bangun jam 5 dan berangkat tepat saat Subuh tiba, berjalan kaki ke stasiun. Masih gelap. Dan dingin. Tidak seperti di stasiun kereta lain yang saya kenal, di Strasbourg saya bisa mengantar Butet sampai ke tempat duduknya. Saya dan Paksu menunggu hingga kereta berangkat sebelum kembali ke hotel.

Setelah salat Subuh, saya sempat tidur sejenak. Paksu mengajak jalan-jalan ke sebuah taman yang harus dicapai dengan bus sesudah sarapan. 

Butet sudah sampai Lille saat kami check-out. Kami menitipkan barang di resepsionis sebelum berangkat ke halte bus.

Parc de l'Orangerie merupakan taman terbesar di Strasbourg dan sudah ada sejak abad XVIII. Taman ini ternyata terletak berseberangan dengan The Council of Europe. Kami tak sadar padahal halte pemberhentian yang ditunjukkan Google adalah di sana!

Jam 11 lewat kami meninggalkan taman dan kembali ke hotel. Mengambil barang, lalu jalan menuju stasiun kereta. Kami mampir makan di warung wok Asiak halal, memesan nasi goreng dan mi goreng ala Singapura. Kami meminta kadar kepedasan yang sedang saja. Ternyata cukup pedas. Porsinya besar. Untung enak. Jadi ya habis juga! Hehehe.

Menjelang jam 1 kami sudah di stasiun. Pas ada kereta menuju bandara. Dan kami pun meninggalkan Strasbourg yang hari itu cerah ceria, menuju Cannes yang ternyata sedang hujan dan angin besar! Heu....


Comments

Popular posts from this blog

Blogger Curcoler? Yes!

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo