Cerita Random

Waktu diumumkan tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April 2026, saya kaget. Lho, kok Cerita Random? Saya pikir Cerita Absurd!

Tahun ini tema Tantangan Bulanan tidak lagi dikocok dari usulan tema di awal tahun. Penentuan tema jadi priviledge mamah yang sudah secara sukarela mengajukan diri menjadi mamah host tantangan tiap bulannya. Saat sempat dibahas di akhir bulan Maret, saya menangkap "absurd", bukan "random"!

Jelas, saya belum menulis lah yaaa. Tapi terus terang, saya sudah ada ide. Saya mau menulis tentang anak-anak saya yang berdarah 100% Indonesia tapi tak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Terutama si Butet.

Bisa ditangkap kan, bagaimana bahasan itu jadi terasa terlalu serius untuk tema random?

Meski sudah jelas temanya random, saya sempat mencoba menulis dua alinea. Tapi lalu saya tinggalkan. Apalagi saat kemudian menyadari sudah pernah menulis hal yang sama. Saya pun ganti beralih menulis sesuatu yang benar-benar random: yang terlintas di kepala saat itu.

Pagi ini, pikiran tentang tak bisa berbahasa Indonesianya anak-anak terlintas lagi. Pasalnya, di Instagram saya mendapati feed tentang menantu perempuan versus ibu mertua (nggak segitunya juga sih, sebenarnya) yang isinya tentang kepuasan si menantu saat dibela oleh anaknya, alias cucu si mertua. Anak-anak yang katanya Gen Z.

Saya sih tak pernah mengalaminya. Nggak pernah dibelain anak di depan mertua, maksudnya. Konflik sama ibu mertua? Pernah laaah. Hehehe.

Kalau saya tak pernah dibela terang-terangan, itu karena keterbatasan berbahasa Indonesia anak-anak tadi. Mereka sebenarnya ngomel. Tapi dalam bahasa Prancis. Dan di belakang. Hanya di depan saya dan/atau papanya.

Memang kami tanamkan juga ke anak-anak: bahwa budaya Indonesia dan Prancis berbeda; bahwa maksud eyang sebenarnya baik; bahwa eyang sensitif, tidak boleh dibantah dengan frontal; bahwa kalau ada yang tak cocok, ngadu sama mama-papa saja; dan lain-lain, dan sebagainya.

Dan itu diikuti anak-anak ... sampai mereka masuk usia remaja! Ups! Hehehe. Harap maklum, jiwa pemberontak mereka sulit dibendung menghadapi ketidakadilan pada periode itu kan!? 

Begitulah. Saya tak ingat pernah dibela anak-anak dengan kepolosan mereka. Yang ada malah justru saya yang membela anak-anak kalau mereka ngomel-ngomel dalam bahasa Prancis di depan eyang-eyangnya dan para eyang mendesak minta penjelasan. Saya pun memilih mengambil alih, memperhalus atau bahkan menyembunyikan sebagian dari yang mereka ungkapkan, daripada anak-anak berusaha menjelaskan sendiri dan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Heu....

Makin ke sini sih anak-anak kembali dan makin kalem lagi. Antara sudah mengerti dan sudah menyerah. Tak ada gunanya juga merusak masa-masa bersama keluarga besar yang hanya singkat dan belum tentu setahun sekali. Sabar-sabar saja. Kita diskusikan di belakang. Hehehe. Ya, anak-anak saya sudah dewasa.

Dari feed Instagram yang saya baca tadi saya jadi berpikir bahwa ada aspek ketidakmahiran anak-anak dalam berbahasa Indonesia yang sebenarnya bisa disyukuri—ya, salah satunya adalah menghindari perang dunia tadi. Saya bersyukur bahwa anak-anak saya masih bisa diajak bicara. Masih mau memahami adanya perbedaan budaya. Padahal anak-anak saya kan Gen Z juga tuh!

Tetap, saya menyesal karena tak bisa memberikan bekal bahasa Indonesia yang cukup ke anak-anak. Mamanya pengajar BIPA kok anaknya rabun (untuk tidak mengatakan buta sama sekali) bahasa Indonesia ya!? Hiks. 

Bukan. Bukan minta dibela di depan ibu mertua! Huehehe. Saya menyayangkan kemungkinan hilangnya lagi penutur bahasa Indonesia. Padahal saya sudah memutus rantai penutur bahasa Jawa sebelumnya.

Menikah dengan pasangan yang meski sesama WNI tapi tidak sesuku, yang Paksu sendiri sudah campuran dua suku, membuat saya dan Paksu memutuskan fokus ke menurunkan bahasa Indonesia saja ke anak-anak serta mengesampingkan bahasa daerah. Tinggal di luar Indonesia dengan lingkungan yang jarang saudara sebangsa, membuat anak-anak otomatis terpapar pada bahasa lokal. Dan tentu saja, kesalahan besar terletak di ketidakkonsistenan saya dan Paksu berbahasa Indonesia di rumah.

Yah, sudah terlanjur. Sampai sekarang si Ucok masih bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sederhana. Butet mengakui bahwa bahasa Indonesianya tingkat SD dan bertanya-tanya apakah saat kembali bertemu dengan adik sepupunya nanti mereka masih bisa berbincang lancar.

Saya sendiri berusaha mengembalikan bahasa Indonesia di rumah saat ada anak-anak. Berusaha berbahasa Indonesia sepanjang ingat. Karena entah mengapa, kalau bicara dengan anak-anak saya otomatis berbahasa Prancis. Padahal dengan suami tetap berbahasa Indonesia.

Apakah karena itu bahasa cinta saya pada mereka?


---

Hmmm. Ternyata bisa jadi tulisan random juga nggak sih? Belum deadline, pula! Hihihi.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi

Tanpa Internet? Bisakah?