Drive My Car
Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya Butet mendapatkan akreditasi 3 Jours à Cannes untuk Festival Internasional Film 2026 ini. Bertahun-tahun? 18 tahun, tepatnya. Ya karena akreditasi ini khusus untuk 18–26 tahun, dan Butet belum setengah tahun ini masuk ke dalam kriteria itu! Hehehe
Butet mengeluh kurang wawasan perfilman secara umum. Saya ajaklah dia menonton film-film "festival". Paling tidak pemenang Palm d'Or sebelumnya serta karya sutradara yang pernah ke Cannes dan akan datang lagi tahun ini lah ya.
Dan hari ini, kami menyelesaikan Drive my Car-nya Ryusuke Hamaguchi.
Sutradara Teater
Menceritakan tentang Kafuku Yusuke, seorang sutradara dan aktor teater yang sering diundang ke berbagai kota, bahkan negara, yang tetiba kembali ke rumahnya karena pesawatnya ditunda. Dia mendapati istrinya Oto yang merupakan penulis skenario selingkuh dengan seorang aktor muda. Namun dia diam saja, pergi lagi, dan tak membahasnya.
Suatu hari, sebelum berangkat bekerja, istrinya berpesan ingin membicarakan sesuatu malamnya. Yusuke takut akan bahan pembicaraannya. Dia menunda waktu pulangnya. Saat akhirnya sampai di rumah, dia menemukan istrinya pingsan. Ternyata pendarahan otak. Istrinya tidak bangun lagi hingga meninggal dunia.
Dua tahun kemudian, Yusuke diundang menyutradarai pementasan teater di sebuah festival di Hiroshima. Karena alasan asuransi, penyelenggara festival mewajibkannya menerima layanan sopir. Awalnya enggan, Yusuke menerima Misaki untuk mengendarai mobil yang biasanya tak dipercayakannya ke orang lain, selain istrinya itu.
Film 3 Jam
Ya, menyelesaikan. Bukan sekedar menonton. Kami mulai menontonnya Sabtu malam. Durasi film yang hanya kurang 1 menit dari 3 jam, melelahkan kami. Apalagi kami memang baru mulai jam 10 malam lebih. Sesudah Isya, tentunya.
Sabtu malam itu, kami menonton setengahnya. Kami melanjutkannya Minggu siang sesudah makan siang. Ya, jam tidur siang. Kami menyisakan 20 menitan untuk diselesaikan Minggu sore. Penuh perjuangan, ya!?
Saya sendiri sudah pernah menontonnya sebelumnya. Saya tak ingat apakah dulu menontonnya dalam sekali duduk. Tapi rasanya tak mungkin. Hehehe.
Hamaguchi Ryusuke akan hadir lagi ke Cannes dengan film Soudain (All of Sudden). Teman-teman Butet sesama peserta 3 Jours à Cannes yang tergabung dalam Wag menantikan pemutaran filmnya. Durasinya 196 menit! Karena itulah Butet memilih Drive my Car dan bukannya Evil does not Exist yang saya tawarkan, yang lebih baru dan cuma 106 menit! Buat latihan, katanya! Hahaha.
Bekal Festival
Sebelum Drive my Car, dalam rangka "persiapan" Festival de Cannes, Butet saya ajak menonton Volver-nya Almodovar dan It was Just an Accident-nya Jafar Panahi. Keduanya saya sudah menontonnya sebelumnya.
Butet suka It was Just an Accident, pemenang Palme d'Or 2025, yang baru saya tonton sebulan yang lalu. Volver sepertinya sudah terlalu jadul untuknya. Kualitas gambar tidak se-ngejreng dalam ingatan saya. Namun Pedro Almodovar akan hadir tahun ini.
Saya lupa detil film Drive my Car sebelum menonton ulang bersama Butet. Saya hanya mengingat bahwa film ini mengandung tema memaafkan diri sendiri, beranjak, dan memandang ke depan.
Saya cukup kaget saat melihat di awal film langsung adegan ranjang! Dan ini berulang pada 40 menit pertama, sebelum keluar credits awal! 40 menit pendahuluan yang untuk kami tidak esensial divisualkan. Sesudah itu sih "aman".
Usai menonton, dia jadi mengerti mengapa saya memintanya ekstra hati-hati dalam memilah tontonannya selama 3 hari mengikuti Festival Film nanti. Tak hanya konten seksual, tapi juga konten kekerasan yang sering kali mewarnai dengan pekatnya film-film "festival".
Konten Bahasa Indonesia
Sesudah menonton filmnya untuk kedua kalinya, saya jadi ingin membaca ulang cerpen karya Murakami Haruki yang menginspirasinya. Meski kumcernya lalu ditinggalkan begitu saja setelahnya. Heu ....
Saya tak ingat detail cerpennya. Yakin pasti ada adaptasi ke dalam film yang berbeda. Tak yakin ada detail mengenai representasi teater En Attendant Godot—ya, yang baru saja saya beli bukunya di Carcassonne—dan Uncle Vanya multibahasa. Apalagi yang pertama ditampilkan dalam dwibahasa Jepang dan Indonesia! Satu elemen menarik di 40 menit pembukaan yang menjengahkan.
Meski tak bisa dengan 100% menyatakan suka, kami mendiskusikan akhir cerita yang tak jelas dari film keluaran 2021 yang mendapatkan berbagai penghargaan ini. Mengapa Misaki berada di Korea? Mengapa membawa mobil tanpa Yusuke? Anjing siapa yang bersamanya?
Dan kami tertawa-tawa membaca berbagai teori penonton yang kami temukan di internet.

Comments
Post a Comment