Hikmah dari Kesalahan

Jumat 10 Juli yang lalu, saya bangun dengan rasa lelah. Memang Kamis malamnya saya dan Butet ke pasar malam di pusat kota. Berbelok ke dermaga, pula. Total, kami jalan kaki sampai 10 km. Padahal Selasanya kami juga sudah ke kota dengan saat pulangnya memutar terlebih dahulu ke Croisette sehingga menempuh jarak hampir sama. Tujuan utamanya adalah untuk ke pasar malam juga!

Butet memang ingin memaksimalkan ke pasar malam yang diselenggarakan Juli-Agustus itu. Memang pasar Selasa dan pasar Kamis berbeda lokasi. Namun stan yang berpartisipasi relatif sama. Mumpung bisa saja. Karena di minggu kedua Juli, Butet sudah harus memulai perjalanan liburannya.

Tapi itu cerita lain lagi....

*

Sampai di rumah menjelang jam 11 malam, saya tak bisa langsung tidur. Saya baru terlelap sekitar jam 2. Padahal di musim panas begini, Subuh sudah datang setengah 5. Dan saya kesulitan tidur kembali sesudah matahari terbit karena panasnya suhu udara.

Sepagian, saya hanya berbaring di sofa ruang utama berteman ponsel dan tablet. Dan kipas angin! 

Jam 9 Paksu mengambil alih ruang utama. Dia sulit bertahan bekerja di kamar di tengah suhu ekstrem, berteman kipas angin kecepatan penuh sekalipun. Bekerja di ruang utama yang merupakan satu-satunya ruang ber-AC di rumah kami cukup membantunya.

Saya pun mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga pelan-pelan. Sebentar-sebentar duduk, istirahat di depan kipas angin di kamar. Sebentar-sebentar minum. Saat-saat seperti ini, target 2 liter per hari dengan mudahnya terpenuhi.

Menjelang jam 11, saya mulai ke dapur. Menu siang itu: sayap ayam madu. Gampang. Tinggal cemplang-cemplung, bisa ditinggal dan hanya perlu ditengok sesekali untuk mengaduk. 

Ah, saya lupa! Tutup wajan besar masih dalam proses pencucian di mesin cuci piring. Siklusnya masih panjang. Kalau menunggu mesin selesai, saya akan terlambat masak. Yang artinya, makan siang juga akan lambat.

Tak apa lah, tanpa tutup. Saya kecilkan saja apinya. Toh ditengok-tengok ini, kan!?

Ternyata saya salah!

*

Saya merasa tak terlalu lama meninggalkan dapur untuk mendinginkan diri di depan kipas angin di kamar. Saat kemudian membuka pintu untuk ke dapur, saya langsung mencium bau gosong! Duh! Memang pintu kamar saya tutup untuk memaksimalkan fungsi AC di ruang utama. Aroma dari dapur tak sampai ke kamar!

Tanpa tutup, uap masakan tak turun lagi. Kelembaban tak tertahan di dalam wajan. Isi wajan perlahan mengering. Kerak hitam pun terbentuk di dasar wajan. Namanya juga kecap manis Indonesia. Plus madu. Dipanaskan, jadi karamel, kan!? Tapi yang ini karamel gosong!

Untungnya, tidak semua ayam gosong. Hanya yang ada di dasar wajan saja yang tertempel "karamel". Saya buang "karamel"-nya sedapat mungkin. Ayam yang masih mengandung "karamel", paling ya saya makan saja. Biasa, lah. Namanya juga emak-emak!

Saat dimakan, ternyata rasanya jadi seperti ayam bakar Indonesia. Butet pun sepakat. Sayangnya, dia bukan penggemar ayam bakar! Heu....

*

Saya jadi teringat akan dua kesalahan lain yang berkaitan dengan kejadian siang itu.

Yang pertama adalah suatu saat saya ingin memasak ayam oven andalan dan salah memasukkan bumbu. Saat itu, bukannya ketumbar, saya memasukkan jintan yang dalam bentuk bubuk warnanya hampir sama. Padahal sebenarnya ada label di botolnya! Entah mengapa waktu itu saya terburu-buru dan baru menyadari kesalahan sesudah memasukkan bumbu dan mencium aroma yang berbeda dari seharusnya.

Sesudah matang dan dimakan, ternyata enak juga. Dan anak-anak pun suka! Saat saya menceritakan kesalahan itu ke teman-teman, ada yang berkomentar kalau ada masakan ayam khas Aceh yang menggunakan jintan sebagai bumbu utama. 

Tentu saja saya tak yakin apakah ayam yang saya masak sama dengan yang dimaksud. Saya tak mencarinya juga, saat itu. Dan saya tak cukup percaya diri untuk mengulang memasak ayam dengan jintan ... dengan disengaja. Karena bisa jadi waktu itu ayamnya enak karena keberuntungan saja, kan!?

*

Kesalahan kedua menyangkut kecap manis, madu, dan gosong. Dan mungkin juga jintan. Tapi dalam kasus ini, saya tidak bisa sepenuhnya disalahkan. 

Saat itu tanpa sadar, saya terkena hiposmia setelah sakit tenggorokan, batuk, dan pegal-linu. Entah flu, entah Covid. Padahal saya terhindar dari Covid 19 di masa pandemi.

Bebek madu saya terasa aneh. Mungkin karena saya memasukkan jintan dan bukannya bubuk ngohiong. Atau mungkin karena agak gosong padahal proses memasaknya dalam pengawasan. Memang saya terlambat membalik masakan karena telat menangkap aroma khas yang menunjukkan saat yang tepat.

Atau tetap salah saya karena tak lekas menyadari terkena hiposmia?

*

Dari tiga kejadian kesalahan itu, terbukti bahwa saya sangat mengandalkan indera penciuman dalam memasak. Tanpanya, saya tersesat. Entah itu terhalang pintu, karena terburu-buru, atau karena hiposmia. Tak terbayang kalau anosmia. Aduh! Nauzubillahi min dzalik.

Sebagai penyandang asma, jelas saya sangat memperhatikan kesehatan hidung dan sering ingat bersyukur memiliki hidung yang sehat. Karena hidung untuk saya sangat penting bagi pernafasan. Namun harus diakui bahwa saya cenderung mengabaikan aspek kesehatan hidung sebagai indera penciuman. 

Yah, manusia.... Kita sering baru merasakan nikmatnya sehat saat sakit. Merasakan pentingnya sesuatu saat sesuatu itu sedang/sudah tak ada!

AstaghfiruLlaahalazhiim ....


---

Tulisan ini sedianya disusun untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli 2026 dengan tema Momen Salah yang diusung oleh Mamah Host Patricia. Namun karena tidak memenuhi syarat minimal 1000 kata, akhirnya urung disetorkan. Sayang dibuang, tetap di-publish saja lah ya!


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi