Ma Rentrée 2026

Sudah Senin lagi. Tadinya saya pikir akan keluar hari ini. Sekalian menandai "tahun ajaran baru" saya. Tapi ternyata saya masih merasa lemas. 

Belum sehat? 

Kecapean? 

Gitu doang. 

Manja, ah!

Bukaaan. Itu bukan komentar orang. Itu kata hati saya sendiri. Perasaan jadi orang kok lemes amat ya!?

Tapi dipikir-pikir, dua bulan ini memang padat sekali. Sejak Juli saja ada 4 perjalanan. Belum lagi Festival Film sepanjang Mei. Lalu Canneseries di bulan April. Dan di antaranya. Dan sebelumnya, dan sebelumnya, ... Sibuk sekali rasanya setahun ini.

Tak usah sampai jauh lah ya. Kita coba telusuri sepanjang dua bulan belakangan ini saja.

18 Juli sore hingga 22 Juli pagi, saya ke Budapest. Sebelumnya ada persiapan Butet yang melakukan perjalanan Discover EU. Pendampingannya juga, yang kebetulan ada perbedaan waktu 2 jam, Prancis lebih cepat. Lebih untuk menenangkan hati mamak-mamak yang baru pertama melepas anak gadisnya ke luar negeri benar benar sendirian ini sih.

Sesudah itu pendampingan tetap lanjut. Termasuk saat 26—29 Juli ke Paris, yang diperpanjang tanpa rencana hingga baru kembali ke Cannes 30 Juli malam. 1 Agustus menjemput Butet di stasiun kereta. Tak jauh. Tapi ada cucian yang makin menumpuk padahal tanggal 5-nya kami berangkat ke Indonesia.

Selama tak sampai seminggu di rumah itu, Prancis dilanda gelombang panas. Kami jelas enggan keluar membeli oleh-oleh. Apalagi memang lelah bertambah dengan perjalanan yang belum lama itu juga.

Tanggal 5 kami berangkat. Transit 11 jam di Zurich dengan niatan mengunjungi kota tak bisa optimal. Zurich juga panas. Kami kembali ke airport lebih cepat dari rencana.

Tanggal 6 malam kami sampai di Jakarta. Pesan mi ayam via GoFood dari warung yang hampir tutup. Lalu kami tidur karena lelah. Bangun pada jam batas tersiang jadwal sarapan.

Tanggal 10 kami ke Solo menggunakan pesawat. Hanya tanggal 11 kami di rumah saja. Istirahat yang bukan istirahat. 

Tanggal 12 ibu mertua dan adik ipar datang. Tanggal 13 ziarah makam bapak dan eyang-eyang, lalu ke Jogja sowan budhe. 14 ke Museum Keris dan Radyapustaka, 15 ke Museum Tahir. 16 pagi sowan om dan bulik, dan malamnya ke Bandung naik kereta api.

Tanggal 17 pagi sampai di Bandung. Berbincang temu kangen dengan ponakan-ponakan. Tanggal 18 saya dan Butet ke PVJ untuk ice skating. Paksu mengantar mamahnya kontrol dokter lalu menyusul ke PVJ dan makan malam bersama.

Tanggal 19 di rumah saja. Tanggal 20 kami makan siang bertiga di PVJ sebelum Butet walk in lesson di Gardenice. Lalu Paksu pulang karena ada meeting online dan saya ketemuan teman-teman MGN. Butet ice skating lagi bersama temannya yang merupakan putri dari rekan MGN. Tanggal 21 walk in lesson lagi.

Tanggal 22 ke TSM makan siang dan membeli koper. Tanggal 23—25 ke Jakarta.

Perjalanan pulang penuh tantangan. Saya hanya membawa surat keterangan izin tinggal yang diterbitkan sambil menunggu dicetaknya kartu residen. Dan ini membuat masalah baik di Jakarta maupun di Singapura. Apalagi surat keterangan itu dalam bahasa Prancis. Tak ada versi Inggrisnya. Padahal waktu transit kami sangat pendek. Walhasil, kami harus bergegas!

Beruntung di Frankfurt cepat saja saat lewat imigrasi. Sesama Uni Eropa sudah saling memahami lah ya!

Saya sendiri baru menerima notifikasi bahwa kartu residen sudah siap diambil saat berada di Jakarta. Saat itu kami pikir mengambilnya nanti saja sepulang dari Valenciennes. Namun sesampainya di Nice, kami pikir kenapa tidak langsung ambil sekalian saja? Secara dari Cannes saya harus ke arah bandara juga nantinya untuk mengambil tram ke Prefecture. Dan kebetulan kami sampai Nice masih pagi.

Itulah mengapa saya tak ikut pemeriksaan bea cukai.

Jadwal pengambilan adalah pukul 8.30—10.00. Saya sampai di Prefecture pukul 9, dan antrian sudah panjang di luar pintu masuk!

Saya baru mendapatkan giliran menjelang 10.30 untuk hanya 2 menit di loket, serah terima kartu dan tanda tangan. 1,5 jam berdiri setelah hampir 20 jam perjalanan tentu saja menguras tenaga saya yang masih tersisa. Belum lagi perjalanan kembali ke bandara untuk kemudian melanjutkan ke Cannes. Plus mungkin tertular penumpang yang batuk-batuk sepanjang perjalanan Siangpura-Frankfurt.

Sampai Rabu, Kamisnya saya mulai batuk-batuk. Jumat saya memaksakan diri ke kota menemani Butet yang kemudian merasa bersalah melihat saya pucat dan lemas. Dan memang ternyata saya demam. 

Sabtu dan Minggu saya menyerah baringan saja. Sambil packing tentunya. Packing yang tegang karena bawaan Butet banyak sekali. Dan berat sekali. Kami harus berganti koper, berganti tas, ... harus memilah barang bawaan, hingga beberapa hal penting malah akhirnya tertinggal!

Senin belum Subuh kami sudah berangkat. Ada cerita kesulitan memesan Uber Ride segala. Begitu pula sesampainya di Lille. Sengaja saya memilih Uber karena merasa tak kuat kalau harus naik bus ke kota, naik kereta ke Valenciennes, lalu naik tram lagi sampai asrama Butet.

Di Valenciennes praktis saya di kamar saja. Tidak bisa tiduran, tentu saja. Beberes sedikit demi sedikit. Saya hanya sekali ke pusat kota, di hari Minggu bersama Butet. Dan kemudian Rabunya pulang ke Cannes.

Ah, baiklah. Sepertinya saya memang perlu istirahat. Mumpung belum ada yang penting-penting amat juga ini di luar rumah. Karena di dalam rumah pun masih banyak yang harus dikerjakan. Antara lain membereskan koper bawaan dari Indonesia dan kamar Butet yang super berantakaaannn!

Bon rentrée!


Comments

Popular posts from this blog

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi