Colmar Oktober 2026

Colmar terkenal dengan keindahan kanalnya. Sesudah tiket perjalanan ke Strasbourg dibeli, Paksu baru terpikir akan Colmar. Saya bilang yah, sudahlah. Waktu sempit begitu. Kalau tak sempat, mungkin lain waktu ke Alsace lagi.

Ternyata Butet tak ada target kunjungan. Saya juga tak melihat menariknya ke museum-museum yang ada. Satu museum yang menurut kami menarik, Musée Alsacien, sedang tutup untuk renovasi.

Berbagai peringatan mengenai keamanan akibat demo, membuat kami memutuskan untuk ke Colmar hari Sabtu.

Perjalanan kereta ke Colmar hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Dua stasiun saja, dari Strasbourg. Ternyata, kereta untuk berangkat bertujuan Basel. Wah, tau gitu ke sana saja? Nggak juga. Untuk ke Basel perlu lebih dari satu jam perjalanan kereta. Sudah jadi satu tujuan tersendiri itu sih!

Kereta lumayan penuh. Terlihat banyak anak muda. Sepertinya mahasiswa yang pulang berakhir pekan. Atau bersiap kembali ke kampus Seninnya? 

Tak banyak penumpang yang turun di Colmar. Kami yang tak persiapan jadi tak bisa membuntuti turis lain. Eh? Hehehe.

Mengandalkan Google Maps, kami menuju ke Petite Venise, area wisata kanal. Saya sengaja memilih jalan besar. Ingin melihat kotanya juga lah. Jalanan cenderung sepi. Mungkin karena memang jalan besar jadi tak terlihat banyak orang di sekitarnya.

Sebelum berbelok ke kota tua, kami menuju ke jembatan. Pilihan tepat. Di situlah ujung kanal yang jadi tempat wisata. Perahu wisata balik kanan di jembatan itu. Kebetulan arah matahari juga pas untuk membuat foto.

Saat tiba di titik Petite France, ternyata sudah ada banyak sekali turis. Entah datang dari mana mereka. Atau sedemikian cepatnya mereka turun dari kereta sampai kami tak melihatnya di jalanan?

Setelah foto-foto di jembatan turis (heu) kami lanjut ke kota tua. Jalanan pedestrian batu dipagari rumah-rumah khas Alsace yang sudah mulai dihias untuk Natal. Lalu kanal kembali muncul.

Menyeberang kanal kami memasuki pasar. Di pasar tertutup yang sudah ada sejak abad XIX ini dijual berbagai produk lokal.

Kami lanjut lebih masuk ke dalam kota. Terlihat makin banyak pengunjung. Banyak toko-toko suvenir khas untuk turis. Sayang sekali Butet tak menemukan lonceng untuk ditambahkan ke koleksinya. Tapi Butet sempat membeli sepasang anting dari pasar UMKM yang sedang diadakan di sana. Anting unik terbuat dari royal icing dilapisi resine.

Kami tak masuk ke museum-museum yang ada. Tak ada yang benar-benar menarik. Lagipula Paksu sudah memesan restoran di pinggir kanal untuk makan siang. Kami pun kembali ke titik awal lagi. Dengan jalur yang berbeda, tentunya. Sempat tergoda membeli keju juga. Sayangnya ternyata pilihan kami bukan produk lokal. Yaaah....

Lokasi restoran kami sangat bagus. Kami mendapatkan meja di luar. Tadinya hangat bermatahari. Perlahan matahari bergeser dan udara jadi dingin. Dan kemudian saya pun sakit tenggorokan plus batuk-pilek. Hadeuh!

Merasa sudah cukup mengunjungi, kami memutuskan kembali ke Strasbourg. Kami berjalan ke stasiun kereta melalui jalur yang berbeda dari kedatangan. Kami melewati area perumahan yang tetap saja sesepi jalan besar. Kami hanya disambut oleh seekor kucing berbulu hitam panjang yang minta dielus dan tak mau melepaskan kami. Si kucing sempat mengikuti kami beranjak. Minta diculik? Eh? Hehehe.

Kereta kembali ke Strasbourg tidak seramai perginya. Jam tidur siang juga, mungkin. Atau orang-orang sedang berdemo?

Sepanjang perjalanan kami memantau berita demo. Alhamdulillah aman dan damai semua. Semoga aman-damai seterusnya hingga tercapai perubahan yang baik. Aamiin.  


Comments

Popular posts from this blog

Blogger Curcoler? Yes!

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo