Paris Juli 2026 – 2

Tadinya saya berniat menyelesaikan catatan dua perjalanan sebelum mulai perjalanan ketiga. Tapi apa daya. Antara kelelahan dari dua perjalanan itu sendiri dan mau tak mau kepikiran perjalanan Butet, ditambah suhu panas yang menguras tenaga, saya tak mampu melakukannya.

Ya sudahlah. Mari lanjutkan catatan perjalanan ke Paris dulu.

Hari ketiga: Selasa 28 Juli

Selasa itu saya berjanji temu dengan kawan yang paling sering saya temui di Paris. Saya ke rumahnya pada perjalanan ke Paris sebelumnya. Tadinya sempat terlontar ide untuk kami bertemu di rumahnya. Namun melihat jarak dan repotnya perjalanan dari hotel saya kali ini, kami memilih bertemu di kota saja.

Tentu saja, kawan saya itu membawa kedua putranya. Anak-anak cerdas nan soleh yang saya anggap sebagai keponakan saya di Prancis itu memanggil saya dengan sebutan Tata Alfi.

Si sulung langsung bercerita panjang lebar begitu kami bertemu. Dari soal mobil, kereta api, antariksa, ... mengingatkan saya pada Ucok saat seusianya. Sementara si bungsu tak lepas dari bukunya. Selama berjalan kaki sekalipun!

Agenda kami mulai dengan makan siang di sebuah restoran Pakistan di daerah Gare de l'Est. Satu stasiun lagi masuk ke check list saya! Menyusul Chatelet les Halles yang selama ini selalu kami hindari karena besar dan ribetnya tapi malah jadi meeting point dua hari itu dan gare Saint Lazare yang saya kunjungi Senin.

Kami melanjutkan ke Louvre. Niatnya sih mau jalan-jalan di Jardin Tuileries. Tapi ternyata, hari itu memang panas sekali! Kami urungkan jalan-jalan dan mengganti agenda menjadi makan es krim saja! Kami menuju warung es krim di daerah Perpustakaan Nasional François Mitterand.

Sesudah makan es krim, kami berjalan-jalan ke Decathlon. Dua jagoan ingin melihat-lihat koleksi skateboard di sana. Eh, malah saya yang belanja tumbler untuk mamah mertua dan beruntung mendapat t-shirt untuk ponakan pemain sepak bola!

Dari sana kami berpisah. Kawan saya dan anak-anaknya pulang. Saya yang tanggung waktu karena janjian makan malam dengan Paksu memilih menunggu waktu di masjid besar saja.

Paksu mengabari sudah keluar kantor, saya beranjak. Ke Makan-Makan lagi! Sudah sekian waktu saya ingin mengajak Paksu ke sana. Akhirnya tercapai.

Sore itu restoran penuh. Saya antara lupa dan tak sempat memesan tempat. Beruntung masih ada satu meja, meski kami dipesan untuk makan cepat. Saya sampai tak terpikir untuk memfoto soto tangkar pesanan saya dan nasi kuning pesanan Paksu.

Dari sana kami menuju hotel. Saat itulah kami menyadari bahwa tak semudah itu meraih wilayah barat Paris di bagian yang kami pilih. Hanya ada RER tiap setengah jam. Tapi itu sebenarnya sudah bagus juga kan ya!?

Hari Keempat: Rabu 29 Juli

Agenda survey kota sudah dilaksanakan Senin, hari itu kami di hotel saja sampai saatnya check out. Kami sudah meminta late check out yang diberikan gratis sampai jam 4 sore! Wah, hotel ini jelas masuk ke list favorit nih!

Sementara Paksu kerja, saya membereskan barang bawaan. Lalu saya bersantai sambil "menemani" Butet yang sedang mengunjungi Munchen. Paksu memesan Uber untuk makan siang, tak berminat dengan menu restoran hotel yang tak menarik.

Jam 4 kurang, kami meninggalkan hotel dengan Uber Ride yang kami pesan sebelumnya dan datang lebih cepat. Kami tiba di bandara Roissy Charles de Gaulle terlalu cepat dilihat dari pesawat yang baru dijadwalkan pukul 19.45. Apalagi kami mendapat kabar via e-mail kalau pesawat akan terlambat. Namun kami tetap memilih lekas masuk setelah sempat duduk sejenak untuk minum di salah satu gerai sebagai alasan untuk menumpang nge-charge. Eh? Hehehe.

Ternyata antrian security panjang juga. Enaknya di sini kita tak perlu mengeluarkan barang elektronik dan cairan dari tas. Tapi tetap ada batasan bawaan jumlah cairan, sih!

Kami langsung menuju gate. Paksu ada call. Hari itu Paris masih panas. Terasa efeknya sampai ke dalam bandara yang dilingkupi kaca meski ber-AC.

Sempat ada pemberitahuan bahwa keterlambatan berkurang. Namun kemudian bertambah lagi. Sampai 3 gadis yang duduk menunggu di sebelah kami agak ribut. Mereka membicarakan tentang pesawat yang di-cancel. Saya pun bertanya pada mereka pesawat apa. Ternyata pesawat yang sama dengan kami!

Kericuhan pun terjadi di gate. Petugas gate meminta kami mengecek di aplikasi. Aplikasi meminta kami mengecek ke petugas. Perlu beberapa waktu sampai akhirnya aplikasi berfungsi dan menyediakan kompensasi pembatalan penerbangan kami.

Maskapai menyediakan kamar hotel di sekitaran bandara untuk malam itu—yang kemudian kami dapati termasuk makan malam dan sarapan keesokan harinya. Kami mendapatkan pesawat pengganti Kamis pukul 9 malam. Lebih malam dari yang kami inginkan. Dan dari bandara Orly! 

Apa boleh buat. Tawaran lain adalah pesawat pagi dari Roissy tapi via London. Perjalanan mencapai 7 jam! Yang benar saja!

Sambil menuju hotel, kami mendiskusikan rencana untuk Kamis. Paksu harus bekerja kan!? Apa yang bisa saya lakukan mengingat udara panas Paris dan diperkirakan hujan?

Saat kami check-in dan menanyakan mengenai late check-out, tak ada ekstra waktu lebih banyak dari pukul 14. Masih terlalu jauh dari jadwal penerbangan. Saya tenangkan Paksu untuk tetap ke kantor dan akan mencoba mengontak teman-teman, mungkin ada yang bisa menampung saya.

Masuk kamar, duduk sebentar, kawan dari hari Selasa mengirim pesan, menanyakan apakah saya sudah sampai. Saya ceritakan yang terjadi dan bertanya apakah saya bisa menumpang menunggu di rumahnya yang kebetulan lebih dekat ke Orly.

Kawan saya itu, bukan hanya mempersilakan saya, tapi juga menawarkan untuk menjemput! Kebetulan suaminya ada janji temu, 15 menit dari bandara Roissy. Saya memastikan tak akan merepotkan sebelum menerima tawarannya.

Begitulah saya dan Paksu bisa turun lagi ke lantai dasar untuk menikmati makan malam buffet yang disediakan hotel.

Hari Kelima: 30 Juli 2026

Hari ekstra di Paris. Tak benar-benar di Paris sih ya. Dan tak bisa dikatakan jalan-jalan dengan kondisi lelah lahir-batin.

Paksu berangkat jam 7-an untuk meraih kantor. Selain memang jauh sekali, ada banyak proyek perbaikan di berbagai jalur metro yang membuat perjalanan jadi lebih sulit.

Saya "menemani" Butet yang berangkat ke Munich sambil merapikan barang bawaan. Butet keluar hostel di Praha, saya turun untuk sarapan. Saya selesaikan packing sampai mendapat kabar kalau kawan saya sudah dalam perjalanan menjemput.

Saat menunggu di depan hotel, saya dapati gerimis turun. Udara jadi segar, nyaman. Tak lama kemudian, saya sudah dijemput.

Hari itu saya menghabiskan seharian di rumah kawan. Saya ditawari jalan-jalan, tapi saya menolaknya. Benar-benar lelah. Dan tak tenang. Ada kekhawatiran pembatalan lagi yang tak mampu saya singkirkan.

Kejadian pembatalan ini adalah yang pertama untuk saya. Sebelumnya, Paksu dan Ucok sempat mengalami. Namun sebelum menunggu di bandara. Ada waktu merencanakan. Tidak seperti kali ini yang sudah sempat menunggu lama.

Yah, kejadian ya. Jadi sebuah cerita tersendiri. Dan saya jadi bisa puas berbincang dengan kawan saya, kedua putra jagoannya, dan berkenalan dengan suami kawan saya yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Saya diantar oleh kawan saya sekeluarga ke bandara. Pesawat malam itu lancar. Kami mendapatkan pramugara viral yang suka bercanda saat memberikan instruksi dan pengumuman di dalam pesawat. Pesawat mendarat 5 menit lebih cepat. Katanya, tolong ditabung untuk lain kali pesawat terlambat.

Jelas jauh dari "utang" pembatalan pesawat kami lah ya!

Sampai Nice larut malam, kami yang berencana naik kereta api untuk pulang pun harus berganti dengan Uber Ride karena jaringan kereta sudah tak beroperasi lagi. Beruntung mendapatkan sopir yang menyetir dengan santai dalam mobil listrik yang bagus dan nyaman. 

Disambut gelombang panas di Cannes setelah meninggalkan Paris yang cukup adem karena hujan, saya dan Paksu memutuskan membuka sofa dan tidur di ruang tamu berteman AC. Menghimpun tenaga untuk perjalanan selanjutnya!


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi