3 Serial Pendek dan René Magritte

Hari Sabtu, kami libur. Di rumah saja. Tak memanfaatkan hari ketiga Canneseries. Bukan (hanya) karena lelah. Memang tak ada seri yang menarik saja. Kami mulai lagi hari Minggu.

Butet sudah memesan tiket untuk sesi Short Form Competition, Program 1, di hari keempat. Screening serial dengan episode pendek yang masuk dalam kompetisi dibagi menjadi dua sesi. Butet juga sudah memegang tiket untuk Program 2 yang dijadwalkan Senin siang.

Minggu pagi kami lihat masih ada tiket tersedia untuk Program 1. Mumpung bukan hari kerja, kami ajaklah papanya. Ternyata berminat. Jadilah kami pergi bertiga.

Minggu 25 April 2026 bertepatan diadakannya Triathlon di Cannes. Ada sedikit perubahan jalur bus. Kami sempat khawatir akan ada keterlambatan. Ternyata lancar. Lega. Karena di hari Minggu, busnya lebih jarang. 

Saat kami berangkat, ada gerimis kecil yang masih berlanjut selama mengantri menunggu dibukanya akses ke gedung. Gerimis lembut. Deg-degan juga kalau sampai membesar. Alhamdulillah tidak. Paling tidak, sampai kami bisa masuk gedung.

Ada lebih banyak tempat duduk yang ditandai untuk sesi ini. Maklum, ada 3 serial kan!? Dan kami tahu, salah satu serial direncanakan membawa banyak krunya.

Kami duduk agak belakang. Tepat sesudah barisan reservé. Ternyata di situlah tempat duduk juri! Tapi kami ga jadi minta foto-foto atau tanda tangan juga sih. Hehehe.

Masing-masing 3 serial, ditayangkan 2 episode pertamanya. Serial pertama yang ditampilkan berjudul Ina. Meski produksi Australia, diinformasikan menggunakan bahasa Inggris dan Tagalog. Ternyata karakter utamanya berasal dari Filipina. Serial ini hanya berdurasi 7 menit per episodenya.

Serial kedua, Paradox, produk Prancis. Durasi per episodenya lebih panjang, 17 menit. Serial mengandung konten fiksi imliah ini sukses mengundang tawa penonton. Lho? Hehehe.

Serial ketiga, Sheep, membuat kami penasaran. Dari gambar yang diperlihatkan sih kambing. Dan ternyata benar menampilkan kambing-kambing yang disentuh teknik animasi untuk membuat mereka berbicara. Serial Austria ini berdurasi 20 menit tiap episodenya.

Kami suka ketiganya. Berharap bisa menonton lanjutannya. 

Kami keluar dari gedung pukul 15.20. Gerimis sudah reda. Sambil jalan ke halte bus, Butet mengecek website Canneseries. Penasaran dengan satu sesi malam non kompetisi yang langsung penuh dari awal kami mengakses. Dan dapat!

Lekas Butet memesan 2 tiket This is not a Murder Mistery. Paksu lebih memilih menonton Thomas Cup.

Begitulah. Pulang, salat, istirahat sejenak, kami makan malam kesorean untuk bisa beranjak keluar rumah lagi jam 6-an, mengejar antrian untuk sesi 19.30. Makin sore, makin besar resiko keterlambatan bus. Dan benar terlambat. Namun kali ini menguntungkan, mengurangi masa menunggu acara.

Kami sampai di antrian 20 menit sebelum seharusnya bisa masuk gedung. Seperti biasa. Hanya saja, kali ini antrian sudah sangat panjang. Lalu pintu baru dibuka pukul 19.15-an. Acara sebelumnya, dialog dengan Adam Scott molor. Kebayang, pasti seru sih ya!?

Di depan pintu, kami harus mengantri lagi. Sesudah pengecekan tiket, ditawarkan headphone spesial audio penerjemahan. Kami tidak mengambilnya. Serial dalam bahasa Inggris dengan takarir bahasa Prancis. 

Saya tak terpikir adanya kemungkinan pada dialog yang mengikutinya, kru akan berbicara dalam bahasa Flamand (? semacam bahasa Belanda). Serial produksi Belgia, ini kan!? Untungnya semua berbahasa Inggris. Dan bahkan aktor pemeran utama yang Belgia memilih berbahasa Prancis.

Butet memang penasaran, ingin sekali hadir di premier ini karena adanya sesi dialog dengan kru. Kali ini dialog yang sesungguhnya dengan alokasi waktu setengah jam. Ada slot waktu bagi penonton untuk mengajukan pertanyaan. Kami tidak ikut bertanya, sih. 

Dari penjelasan kru, kami mendapatkan banyak cerita perjalanan penyusunan serial yang tak mudah. Sudah dirintis sejak masa pandemi Covid-19 lho! Asal-usul ide cerita, pencarian dana, permohonan izin penggunaan nama artis terkenal dan berbagai karya seni yang dimunculkan, ... juga anekdot tentang adanya lukisan karya Rubens yang ada di salah satu dinding kastil lokasi rekaman, yang harganya lebih mahal dari keseluruhan biaya pembuatan serial!

Serialnya sendiri seru. Penayangan baru dimulai 15 menit sesudah yang dijadwalkan. Kami tertawa-tawa mengikuti kisah kriminal di masa kejayaan seni surealis yang sebenarnya cukup tragis dan menyeramkan itu. Penasaran ingin menonton lanjutannya.

Oh ya, karena memang tiket habis terbagi untuk acara ini dan kru film yang hadir cukup banyak, termasuk aktor/aktris yang belum muncul di episode pertama, lengkap dengan perias segala, Salle Jean Mineur kemarin malam penuh. Tak mau duduk di dua baris pertama, kami memilih lajur pinggir dengan dua kursi. Ternyata nyaman juga menonton dari sana, pandangan menyamping tak terhalang penonton di depan.

Waktu sudah lewat jauh dari jam 9 malam saat kami keluar Palais. Sesuai niat, kami pulang jalan kaki. Alhamdulillah tidak hujan. Cuaca nyaman, cukup berblazer di suhu 16°C. Jalanan juga masih ramai. 

Kami menempuh 2 km dalam 30 menit jalan santai. Sampai rumah, baru terasa lelahnya. Lelah tapi juga puas! Siap untuk hari kelima! 


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi

Tanpa Internet? Bisakah?