Penutupan Periode Menonton Bersama di Festival Cannes 2026
Di awal periode Festival Internasional Film Cannes 2026, saya sempat berpikir untuk membuat semacam catatan harian. Apalagi karena Festival kali ini spesial: untuk pertama kalinya saya bisa mengajak Butet. Butet sudah masuk usia dewasa dan sedang libur akhir tahun ajaran.
Pada kenyataannya, sulit sekali mencari waktu menulis. Jadwal kami padat sekali. Sambil menunggu masuk periode 3 Jours à Cannes-nya Butet, kami menonton film dalam seleksi paralel hampir tiap hari. Sehari bisa 2 atau bahkan 3 sesi!
Tercatat, hanya hari Minggu 17 Mei dan Rabu 20 Mei yang saya libur menonton. Itupun, yang tanggal 17 sebenarnya kami sudah memegang tiket untuk film Korea Dora. Akhirnya kami batalkan setelah melihat reviu orang-orang yang mengonfirmasi kekhawatiran saya akan konten kekerasan seksual yang brutal.
Tanggal 20 pagi Butet sudah bisa mengambil akreditasi 3 Jours à Cannes. Siangnya dia sudah bisa mulai menonton film-film yang masuk dalam seleksi resmi Festival utama. Karena belum masuk sesi 3 Jours à Cannes-nya yang resminya baru mulai tanggal 21, dia belum bisa memesan online dan hanya bisa mengakses film-film itu dengan cara mengantri last minute.
Rabu itu Butet berhasil menonton 2 film. Lumayan kan!? Apalagi yang pertama adalah Lucy Lost. Film animasi yang diincarnya tetapi sudah tak banyak diputar di akhir Festival. Yang kedua adalah Adieu Monde Cruel yang menjadi film penutup Semaine de la Critiques, yang sebenarnya sudah kami incar tetapi tak dapat juga. Rezekinya Butet dan teman-temannya yang sabar mengantri, ya!
Mulai Kamis ini Butet sudah bisa menonton film-film yang sudah dipesannya sejak Minggu. Pemesanan yang tak mudah karena peserta 3 Jours à Cannes yang mencapai 1000 orang tiap sesinya itu harus menerima sisa-sisa tempat setelah profesional perfiilman dan pers. Pemesanan tiket online untuk profesional dimulai pukul 7 pagi. Pemesanan tiket bagi pemegang akreditasi 3 Jours à Cannes dimulai mulai pukul 8 pagi. Terasa bedanya, kan!?
Tiket yang dipesan bisa dibatalkan maksimal 1 jam sebelum acara. Akibatnya, banyak yang memesan tiket sebanyak-banyaknya untuk dipilah kemudian. Untungnya sistem cukup cerdas dengan tidak membiarkan pemesanan tiket dengan jam yang beririsan.
Yang menyedihkan adalah kebijaksanaan memberikan lebih banyak tiket kepada para pemengaruh. Ya kalau mereka benar-benar menonton filmnya. Banyak kasus para pemengaruh hanya nampang di karpet merah lalu membuat foto-foto dan vlog di ruang tayang film. Saat film mulai, mereka keluar. Ngeselin, kan!?
Karena itulah Butet jadi skeptis dan tidak mengejar pemutaran film di Grand Théatre Lumiere di Palais des Festivals, apalagi yang malam hari dengan acara montée des marches. Dia memilih pemutaran film di bioskop-bioskop saja. Meski tak menutup kemungkinan menonton di Salle Lumiere ya. Seperti pagi tadi untuk menonton Notre Salut.
Sebelumnya, Butet menonton film animasi Le Vertige bersama saya di Théatre Croisette. Film ini adalah film penutup Quinzaine des Cinéastes. Film ini adalah juga film penutupan periode menonton bersama kami di Festival Cannes 2026.
Usai Le Vertige, kami berpisah arah di Croisette. Saya ke kiri, ke Salle Miramar untuk menonton pemutaran film pemenang AMI Paris Grand Prize La Gradiva yang masih wishlist saya tapi sulit mendapatkannya—memang pada dasarnya seleksi Semaine de la Critiques susah didapatkan melalui ticketing online, mungkin karena Salle Miramar yang berkapasitas terbatas—yang didahului dengan pemenang Sony Discovery Prize for Short Film Skinny Bottines yang menarik. Butet ke kanan, ke Palais untuk menonton Notre Salut.
Ada rasa haru menyelimuti. Senang, akhirnya bisa mengajak putri saya itu menonton bersama. Saya tak berkesempatan mengajak abangnya menikmati film-film kompetisi paralel karena tidak pernah libur pada periode Festival.
Entah kapan lagi kesempatan ini bisa berulang. Secara kalau sudah masuk tingkat bachelor, jurusan animasi terkenal padat programnya. Bulan Mei bukan masa libur dan justru masa sibuk menjelang akhir tahun ajaran.
Mungkin harus menunggu Butet selesai bachelor? Atau di masa dia kerja praktek? Seperti rekan-rekan sesama peserta 3 Jours à Cannes lainnya?
Atau saat film karyanya terseleksi di Festival?
Aamiin. Insya Allah....

Comments
Post a Comment