Setiap Hari: Istimewa!

Saat tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei 2026 diumumkan, saya sedang bersiap berangkat ke Carcassonne. Tentu, hari itu bukan hari biasa, kan!? Demikian pula hari selanjutnya di mana saya bersama Butet dan Papanya sedang menikmati kota abad pertengahan yang sudah kami idamkan sejak sekian lama.

Sepanjang perjalanan, saya berpikir tentang hari biasa kapan yang bisa saya ceritakan, secara agenda Mei ini cukup padat. 

Mei yang Padat

Mei 2026 ini memang istimewa. Ada Butet yang sedang di rumah karena libur akhir tahun ajaran. Ada libur nasional yang berderet panjang—1 Mei, 8 Mei, 14 Mei, dan 25 Mei. Lalu ada Festival Film Cannes mulai tanggal 12 hingga 23 Mei.

Tahun ini, untuk pertama kalinya saya bisa mengajak Butet menonton film-film yang masuk dalam seleksi paralel. Selain karena memang libur, usianya sudah 18 tahun. Sudah aman untuk menonton film-film yang kadang aneh-aneh. Meski tentu, saya tetap memilahnya juga.

Butet sendiri terseleksi untuk mendapatkan akreditasi 3 Jours à Cannes. Dia bisa menonton berbagai film yang masuk dalam seleksi resmi, 21—23 Mei. Juga 20 Mei, sesudah mengambil akreditasi. Dari awal saya sudah berpikir bahwa meski tak bisa menemani, saya bakal ikut sibuk menyiapkan bekal makan siang, memantau jadwal menontonnya, dan menjemput jika diperlukan mengingat pemutaran film bisa sampai malam. 

Mulai tanggal 8 yang lalu, jadwal pemutaran film sudah bisa dilihat dengan akun yang pembuatannya terbuka untuk umum sejak tanggal 4. Saya dan Butet mulai memilah dan menyusun agenda menonton. Pemesanan tiket baru dimulai tanggal 9 untuk penayangan tanggal 13, dimulainya kompetisi paralel. Untuk tanggal 12-nya kami sudah memesan tiket untuk menonton film pembukaan yang diputar di berbagai bioskop di Cannes dan sekitarnya.

Saya pikir, sepertinya hanya tanggal 11 yang bisa disebut hari biasa di sepanjang periode tantangan, dari tanggal 5 hingga 20. Ternyata, di akhir pekan Paksu memutuskan untuk bisa mulai mengurus masalah mobil, Senin itu.

Masalah Mobil

Mobil kami macet sejak pertengahan Februari, sehari sebelum Ramadan. Saat itu, saya hendak check-up ke dokter jantung. Mesin mobil menyala dengan lancar. Masuk gigi satu tanpa masalah. Lepas pedal kopling perlahan—ya, mobil saya manual, injak gas, mobil tak mau maju, seakan tertahan. 

Rem tangan? Sudah saya lepas. Saya coba pasang, lalu lepas, tetap tak mau maju. Coba lagi. Tetap tak bisa.

Ada yang menahan roda mobil kah? Saya keluar mobil dan memeriksa kolongnya. Tak ada apa-apa, baik di roda depan maupun belakang.

Tak ada lampu peringatan adanya masalah di dashboard.

Karena sudah mepet jadwal janji temu, saya kembali ke rumah. Saya kabarkan pada Paksu dan tinggalkan kunci mobil agar dia bisa mencobanya di sela WFH. Saya pun bergegas pergi naik bus saja. 

Baru 21000 km padahal sudah hampir 15 tahun!

Saya memang jarang menggunakan mobil. Apalagi sejak Butet kuliah. Memang mobil lebih untuk keperluan antar-jemput anak-anak.

Untuk belanja mingguan, ada swalayan yang 350 m saja dari rumah. Belanja daging halal, sejak hanya berdua Paksu, saya lebih suka sekalian olah raga jalan kaki. Tak sampai 5 km pp. Dan belakangan, malah ada toko daging halal baru yang cuma 600 m dari rumah.

Mobil baru saja diservis dan lewat uji kelayakan di bulan Desember yang wajib dilakukan 2 tahunan. Semua baik-baik saja. Dan kebetulan, di akhir pekan sebelum kejadian, mobil itu dipinjam sahabat. 

Saya sempat ragu untuk mengabari sahabat saya itu. Tapi siapa tahu saja dia mengunci mobil dengan cara khusus. Ya, saya cupu banget kalau soal mobil. Demikian juga Paksu.

Sahabat saya datang mengecek. Tak ketemu. Suaminya yang lebih mengerti soal mobil datang beberapa hari kemudian, memeriksa segala macam. Tak ketemu juga. Tak ada kebocoran, gigi persneling bisa dipindahkan tanpa masalah, cakram rem oke, roda kiri berputar lancar, ... 

Roda kanan? Sayang sekali mobil saya terpakir mepet ke tembok sebelah kanan di tempat parkir rubanah. Kami tak bisa mengeceknya. Padahal saya sendiri merasakan tertahannya di sebelah kanan belakang. Pas di pojok yang tak bisa diakses!

Tempat parkir pojok (kok ya pas lampu di sudut situ mati!)

Sedang sempit masalah dana dan sudah masuk Ramadan, saya dan Paksu memutuskan untuk mengesampingkan dulu saja masalah mobil. Apalagi kami ada beberapa agenda ke luar kota: ke Brussels akhir Februari dan ke Paris akhir Maret. Memanggil montir ke rumah tidak semudah di Indonesia. Dan mahal. Mobil 15 tahun kami diasuransikan secara minimalis yang diwajibkan peraturan pemerintah saja.

Sahabat saya menanyakan berkali-kali sambil meminta maaf. Dia sampai menawarkan untuk berbagi biaya perbaikan segala. Saya menenangkannya. Bersyukur kemacetan terjadi di rumah saya dan bukan saat dia sedang berkendara membawa anak-anak kecilnya.

Saya berusaha secara rutin memanaskan mesin mobil untuk menjaga baterainya. Saya coba untuk menjalankannya setiap kali melakukannya. Tak ada perubahan. Mobil tetap bergeming.

Sampai Senin itu!

Hari Luar Biasa

Sebelum memanggil mobil derek, saya turun ke tempat parkir untuk memanaskan mesin. Memastikan baterai mobil masih berfungsi. Saat saya coba memajukan mobil, eh bisa! Lancar! Mundur kembali pun tanpa masalah!

Saya lekas naik lagi, mengabarkan ke Paksu, mengambil tas berikut SIM dan STNK, dan turun lagi ke rubanah. Paksu ikut turun menemani saya bermobil hingga gerbang gedung apartemen. Dia kembali WFH, saya lanjut ke bengkel.

Naas, Senin pagi bengkel langganan terlihat penuh. Saya terpaksa berputar, berharap ada yang pergi saat saya mencapai bengkel lagi, sambil deg-degan takut kejadian tetiba macet lagi. Tetap tak ada, saya memepetkan mobil ke sisi bengkel dengan memasang lampu hazard.

Bengkel menolak saya. Menawarkan janji temu Selasa pagi, tak luluh dengan kekhawatiran saya kalau-kalau esoknya mobil tak mau jalan lagi. Tentu saja saya tak mengatakan kalau Selasa sore sudah ada agenda. Pikirkan nanti lagi saja.

Alhamdulillah perjalanan pulang juga lancar. Rencana memarkir di pinggir jalan saja dan tak ke rubanah tak terealisasi. Ya sudah, bismillah. Berdoa esoknya masih lancar. Tak lupa saya mengabari sahabat yang gembira sekaligus heran dan berjanji untuk mengabarinya lagi esoknya.

Setiap Hari: Istimewa!

Selasanya, saya bisa membawa mobil ke bengkel dengan lancar. Bengkel tak mendapati masalah apapun dengan mobil saya! Semua baik-baik saja, katanya. Masalah semacam itu biasa datang pada mobil yang lama tak dipakai. Padahal mobil saya kan baru saja digunakan oleh sahabat!

Bengkel tidak memungut biaya sama sekali! Sahabat saya sampai tak percaya dan berulang menanyakan berkali-kali.

Jadi begitulah. Satu-satunya hari yang saya pikir merupakan hari biasa menjadi hari yang sangat luar biasa. Namun memang saya rasa tak ada hari biasa yang biasa-biasa saja. Pasti ada kejadian yang unik, yang mungkin luput dari indera kita. Saya yakin, setiap hari adalah hari yang istimewa!

Di sela menulis ini, saya menyempatkan mengecek mobil sambil mengambil fotonya untuk ilustrasi. Saya bertemu tetangga yang mengetahui tentang masalah mobil saya. Berkat doamu, begitu kata tetangga muslimah saya itu. Mungkin mobilnya ikut puasa, tambahnya bercanda.

Saya jadi ingat komentar Butet yang mengatakan bahwa mobil kami seperti dia: kalau sakit, cukup diniatkan ke dokter, langsung sembuh sendiri. Mobil kami pun begitu: cukup diniatkan memanggil mobilderek untuk dibawa ke bengkel, beres sendiri deh! Hehehe.

Sambil berdoa, semoga mobil kami benar-benar tidak apa-apa, hanya "penyakit tua", tidak kambuh lagi, dan aman-aman selalu semuanya. Aamiin.



---

Tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Mei 2026 dengan tema Hari Biasa yang Tak Biasa yang diusung oleh Mamah Host Sari


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi