Single in Seoul dan Love Reset: Dua Film Korea yang Menemani Perjalanan Panjang dalam Pesawat

Tak terasa, sudah masuk minggu terakhir libur pergantian tahun ajaran di Prancis. Sudah hampir tiga minggu juga sejak kami kembali dari liburan di Indonesia. Tak banyak yang bisa saya ceritakan.

Boleh dibilang saya baru benar-benar keluar saat ke pameran tentang Charlie Chaplin di Palais des Festivals. Selain itu hanya ke swalayan, Senin kemarin menemani Butet ke rumah temannya sambil ke kantor pos mengirimkan titipan buku setelah sekian lama dan mampir ke boucherie. Selasa siang ini saya menonton film di bioskop bersama Butet. Tapi itu, nanti saja ceritanya.

Sebenarnya masih ada banyak yang bisa saya ceritakan dari liburan ke Indonesia. Bahkan saking banyaknya, bingung mau mulai dari mana. Perlu menyusun isi kepala dulu.

Kali ini saya mau mencatat dua film yang saya tonton selama perjalanan pesawat ke dan dari Indonesia. Kebetulan, dua-duanya film Korea. Sebenarnya tak banyak film Korea yang disediakan. Tapi cukup untuk saya yang jarang menemukan film Korea di Prancis. Dan saya rasa dua film yang ringan santai ini cocok untuk menemani perjalanan penerbangan yang panjang.

Single in Seoul

Film ini saya tonton dalam perjalanan berangkat. Saya hanya bisa menonton setengah film dalam perjalanan Nice-Abu Dhabi. Keburu mengantuk. Padahal belum waktu tidur, menurut jam manapun! Setengahnya lagi saya tonton saat Abu Dhabi-Jakarta. Seingat saya sih menjelang akhir perjalanan. 

Jalur ke Jakarta melewati semenanjung Benggala dikenal sebagai daerah dengan banyak turbulensi. Seusai dihidangkan makan malam, saya memaksa diri untuk tidur saat melewati daerah itu. Dan memang jam tidur juga, untuk waktu Prancis. 

Film ini saya pilih tentu saja selain karena casting-nya adalah temanya yang tentang menulis buku.

Menceritakan tentang Park Yeong-ho (diperankan oleh Lee Dong-wook), seorang penulis yang mengagungkan selibat, yang diminta untuk menulis buku tentang kehidupannya. Dalam prosesnya, dia bekerja sama dengan Joo Hyeon-jin (Lim Soo-jung), adik tingkatnya di masa kuliah, sebagai editornya.

Yah, sudah ditebaklah akhir ceritanya ya. Namun menarik melihat perjalanannya. Bagaimana Hyeon-jin yang mendambakan keromantisan berinteraksi dengan Yeong-ho. Atau tentang impian Hyeon-jin untuk menulis buku best seller.

Saya sendiri tersentuh dan bahkan sempat mencatat di suatu bagian saat Yeong-ho ragu untuk meneruskan bukunya yang mencatat hal-hal tidak mengenakkan dan bertemu dengan seorang penulis senior. Dia bertanya pada si senior apakah tak malu membaca kisah-kisahnya yang ditulis di masa lalu? Si senior menjawab bahwa sebenarnya dia malu akan tulisannya yang sudah lalu dan berpikir mungkin besok akan merasa malu akan tulisannya saat ini, tapi dia akan tetap menulis.

Writing is like traces of love, begitu ucapan si senior yang saya catat di note di telepon saya. Sengaja saya catat, meski mungkin redaksinya tak tepat, untuk mengingatkan kalau suatu saat merasa cemen untuk menulis curcol saja.

Love Reset

Film ini saya tonton di perjalanan Singapura-Abu Dhabi. Lho, lewat Singapura? Iyah! Tiket yang murah harus transit dan ganti pesawat di sana!

Film ini sudah saya lihat di perjalanan pergi. Saya suka sekali Jung So-min, tidak anti tapi tidak ngefans juga dengan Kang Ha-neul. Tapi saya kesampingkan. Saya memilih menonton Single in Seoul dengan resiko tak mendapatkan film ini di penerbangan pulang. Apalagi sudah ganti bulan. Ternyata eh, masih jodoh!

Tema konflik pernikahan, apalagi dengan cerita ada kecelakaan yang membuat pasangan berpikir kembali, membuat saya skeptis. Paling-paling antara amnesia atau perjalanan waktu. Dan memang, ternyata ada kejadian amnesia! Dua-duanya, pula!

Namun film ini beda. Di sini amnesia bukan dijadikan sebagai alasan untuk mengulang jatuh cinta lagi. Bukan klise tema cinta sejati. Heu, memang ada arah ke sana sih. Tapi di sini, penekanannya lebih ke alasan mereka untuk tetap bercerai. Karena mereka tetap memutuskan bercerai!

Tenang ... pada akhirnya mereka tetap bersama kok. Tak perlu saya ceritakan detilnya di sini ya. Tonton saja sendiri!

Yang jelas, film ini tetap merupakan film ringan yang enak ditonton untuk santai. Atau menyantaikan diri? Karena saya menontonnya sambil makan malam di dalam pesawat yang sudah mulai terkena turbulensi. Sambil deg-degan, takut keburu masuk daerah turbulensi parah. Alhamdulillah saya sudah bisa menidurkan diri seusai nonton filmnya ... dan makan malam, tentunya!

Menonton Film: Aktivitas dalam Penerbangan Panjang

Menonton film memang aktivitas yang pas untuk perjalanan pesawat panjang. Katalog entertainment yang disediakan dalam penerbangan adalah salah satu poin penting saat kami diminta memberi penilaian tentang suatu maskapai. Variasinya, keterbaruannya, ... Meski pada kenyataannya, dari 14 jam terbang, saya hanya menonton satu film saja!

Abu Dhabi-Nice nggak nonton kah?

Enggak! Saya sukses tidur di sepanjang perjalanan! Bahkan dari sebelum pesawat take off! Sampai-sampai saya tak tahu apakah awak pesawat menyajikan makan di awal penerbangan atau tidak! Hahaha! 

Harap maklum. Kami tiba di Abu Dhabi tengah malam, yang artinya jam 3 pagi WIB. Kami terbang lagi 3 jam kemudian. Meski sudah sempat tidur di sebagian besar dari 7,5 jam perjalanan Singapura-Abu Dhabi, tetap saja kami ngantuk dan lelah. Mungkin ada efek turbulensi yang membuat tidur tak nyaman juga ya? 

Tak cuma saya yang lelap di perjalanan menuju Nice. Paksu dan anak-anakpun nyenyak. Kami baru terbangun sekitar 1 jam menjelang mendarat di Nice. Pas saat dihidangkannya sarapan pagi. Nyam! Hehehe.


Comments

  1. Aku belum selesai nonton Single in Seoul.
    Banyak ngomongnya euii.. hihihi.. tus aga kurang sreg ama lead female-nya.
    Tapi aku mau selesein karena ka Alfi bertahan. Hahaha, motivasinya dari orang lain gatuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo lanjutin! Emang ngobrol2 aja sih. Saat ada kejadian seru pun ngobrol kalem aja. Hihihi. Dan FL-nya emang cukup ngeselin 😅

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Investasi untuk Anak

Blogger Curcoler? Yes!

Menyusun Tagihan