Valenciennes Januari 2026 H3

Hari ini tidak hujan. Tidak bisa bilang cerah juga. Awan menutup sempurna langit di atas Valenciennes. Sudah bersyukur. Karena hari ini Paksu harus ke Paris dengan TGV jam 6 pagi.

Subuh baru datang jam 7.07. Saya berencana ke asrama Butet jam 8an. Inginnya sih, sesudah matahari terbit. Namun hari ini dia mulai kelas jam 9.30, sedangkan saya ingin mampir ke pusat kota untuk melihat pasar Rabu. Tak mungkin. Terlalu mepet. Saya pun pergi saat langit terlihat agak terang.

Saat Butet menerima tawaran saya untuk membelikan pastry untuk sarapan, saya tak melewatkan kesempatan beralasan memutar ke pusat kota. Tujuan utama mencari boulangerie (toko roti), padahal penasaran dengan pasar Rabu pagi! Hahaha.

Ternyataaa ... pasarnya belum siap! Sebagian besar pedagang masih mengatur dagangannya. Padahal sudah ada beberapa pembeli di stand-stand yang sudah siap tuh!

Pencarian boulangerie juga tidak cukup berhasil. Mosok, kebanyakan baru buka jam 9??? Lha yang mau sarapan trus gimana?

Namun saya "kenal" satu boulangerie di dekat halte tramway. Dan buka! Bisa beli pain au chocolat, suisse, dan segelas besar coklat panas yang mendingin karena saya harus menunggu tram berikutnya yang baru datang 10 menit kemudian. Tapi saya jadi sempat membeli tiket transport khusus yang berlaku seharian.

Sampai asrama Butet menjelang jam 9. Saatnya mulai berbenah, bersiap berangkat kuliah. Butet membawa kantung pastry-nya ke kampus. Tak sempat lagi memakannya di rumah.

Mulanya, saya berniat absen dari kajian Rabu yang hari ini tertutup, khusus untuk anggota wag. Paling tidak absen tadarus. Namun karena dicolek, saya pun urung mangkir. Meski terlambat, saya bergabung dan menjalankan tugas sebagai co-host seperti biasa. Bahkan masih mendapat jatah tadarus segala. Alhamdulillah.

Menjelang akhir kajian saya mencuri waktu untuk memasak nasi. Kata Butet, masih ada sisa rendang yang saya bawa dari Cannes. Memang saya tak membawa banyak. Butet bilang tanggung: dimakan sekali terlalu banyak, dua kali kurang. Saya dapati kemudian ternyata tinggal dua potong kecil daging. Halah!

Sepanjang pagi saya refresh halaman mail, menunggu email konfirmasi bisa diambilnya pesanan air fryer kemarin. Saya lihat di tracking website-nya, pesanan saya sudah sampai. Namun hingga siang tak ada email juga. Saya memutuskan untuk tetap ke kota karena memang perlu belanja. 

Bukaaan. Bukan shopping fesyen walau memang sudah minggu terakhir soldes! Saya hanya ingin ke Carrefour Market membeli beras untuk "mengganti" beras yang saya makan bersama Paksu, mencari plester untuk melindungi jari-jari Butet saat mengikat tali sepatu ice skatingnya yang harus ditarik kuat-kuat, dan mencari filter untuk teko air yang rupanya habis.

Saya juga ingin membeli sarung bantal. Handuk, spresi, dan sarung bantal disediakan asrama dan diganti tiap dua minggu sekali. Saya melihat ada bercak-bercak di sarung bantal yang diberikan pagi tadi—kebetulan pas hari penggantian sprei. Saya sudah coba membilasnya dan tak berhasil. Tak tahu bercak apa, saya memilih membeli baru saja.

Sambil berangkat, saya sempatkan membuang kardus-kardus besar paket kiriman yang menumpuk. Saya berpikir untuk membuang sampah lainnya lain waktu lagi saja. Saya tak mau mengotori tangan, meski untuk sampah daur ulang sekalipun.

Sayang sekali, tak ada sarung bantal di Carrefour Market. Tak ada pula di Hema. Saya iseng masuk ke Normal juga. Baru di saat terakhir, saya terpikir pada Monoprix. Dan ada!

Masalahnya, antrian di kasir panjang sekali. Tram nomor 2 dijadwalkan segera datang. Dan saya harus segera kembali ke asrama karena Butet ada rencana makan malam di luar bersama teman-temannya. Saya sendiri tak mau kembali ke penginapan larut sendirian. 

Sarung bantal yang sudah saya pegang, saya tinggalkan di rak dekat kasir. Dan saya pun jalan cepat ke halte tram. Alhamdulillah masih dapat.

Lekas balik ke asrama, melupakan niat ke toko Asia yang kemudian saya sempatkan dalam perjalanan balik ke penginapan. Sekalian memaksimalkan tiket transport sehari! Hehehe.

Saya ingin makan mi instan Buldak. Mumpung sendirian. Yang lain tak suka Buldak yang memang limit terlalu pedas. Saya juga membeli 2 bungkus Shin Ramyeon plus 2 lagi versi cup-nya.

Paksu pulang jam 9 malam. Dia langsung memesan delivery ayam vindaloo. Meski sudah makan mi instan, saya menghabiskan satu cheese naan dicelup dalam saus vindaloo.

Besok saya berencana baru ke asrama Butet sore. Saya akan menginap di sana. Sambil berharap semoga sudah bisa membawa air fryer yang sampai malam belum ada email konfirmasi pengambilannya juga.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi