Valenciennes Januari 2026 H6

Sabtu pun tiba. Jangan harap Butet bergabung dengan kami agak siangan karena mau bersantai-santai saja! Saat saya mengirim pesan setelah Subuh, dia sudah aktif belajar. Menjaga ritme bangun pagi, katanya. Bagus juga sih ya!?

Berjanji temu untuk makan siang, saya dan Paksu keluar mencari sarapan. Hotel terletak di sebelah mall Place d'Armes. Satu-satunya mall di Valenciennes, setahu saya. 

Tepat di pintu masuk belakang, ada boulangerie. Kami sarapan di sana. Saya hanya minum coklat panas, dengan memikirkan makan siang yang tak sampai 2 jam kemudian.

Usai makan, kami keliling mall. Niat utamanua adalah membeli pakaian untuk saya. Memang kami membawa baju ganti minimalis, dengan rencana mencuci di tengah minggu. Ternyata gagal. 

Paksu yang hampir tak pernah keluar rumah sih nggak masalah memakai baju luar yang sama dua hari berturut-turut. Lha saya kan tiap hari harus "kerja". Fisik pula. Jelas tak mungkin!

Hasilnya, justru Paksu yang belanja terlebih dahulu! Hahaha. Agak saya dorong sih. Mumpung lagi soldes lah. Dan saya mendapat 1 bluse dan 1 t-shirt juga kok. Tidak mudah karena ukuran pakaian kami standar rata-rata, alias sudah ludes, tidak banyak lagi yang tersedia.

Hendak menghabiskan waktu jalan ke luar mall sebelum ke restoran, Butet mengirim pesan. Dia meminta kami mengambilkan paket yang dibelinya online dan dikirim ke kotak pos yang ada di mall. Kami pun mengambilkannya dan memutuskan untuk menyimpannya di kamar hotel sebelum kemudian keluar lagi menjumpai Butet di mall.

Kami bertiga masih sempat berjalan-jalan sejenak sebelum akhirnya ke restoran yang ternyata sudah ada pengunjungnya. Padahal baru jadwal buka.

Restoran yang kami tuju adalah restoran Korea yang sudah sempat kami datangi sebelumnya. Kami tak memesan tempat. Kami berpikir, kalau tak bisa makan siang di sana, ya pesan tempat untuk makan malam saja. Alhamdulillah masih ada. Dan kami lihat kemudian restoran menolak beberapa orang yang datang tanpa memesan.

Seperti "biasa" (baru ketiga kalinya kami ke sana), Butet memesan bibimbap ayam. Saya tertarik pada dakgalbi yang merupakan plat du jour (menu ekstra di luar yang ada di daftar menu). Paksu mengikuti saya. Enak. Tapi terlalu berlemak. 

Saya tak menyentuh porsi nasi ekstra yang terpisah dalam satu mangkuk. Sudah merasa cukup dengan yang disajikan bersama dengan ayam bersaus dan keju. Saya sendiri heran, mengapa ada nasi dan bukan tteokbokki? Lebih mahal kah? Hanya ada beberapa potong tteokbokki yang saya temukan bercampur dengan ayam.

Saya meninggalkan sedikit nasi yang berenang dalam minyak sisa dakgalbi. Tapi saya tetap memesan hidangan penutup berupa daifuku. Pasta kacang merah memang selalu mampu menggoda saya!

Usai makan, kami ke Furet du Nord mencari perlengkapan menggambar untuk Butet. Sayang kebanyakan tak ada. Kami keluar membawa satu set pensil warna aquarellable yang sebenarnya tak urgen, tapi harganya lebih murah ketimbang beli online dan tinggal satu-satunya yang tersedia.

Dari sana kami ke Monoprix. Niatnya menjemput bantalan untuk kursi yang saya lihat sebelumnya. Menurut saya cantik dan yang jelas sedang didiskon! Ternyata Butet tak suka. Memilih bantal lain yang memang lebih bagus, tapi jelas lebih mahal.

Lalu saya teringat sebelum makan siang, saat ke Hema, Butet sudah menaksir bantal Miffy. Tak kami beli karena selain berniat beli di Monoprix, kami kan mau ke restoran. Saya tawarkannya lah ke dia. Dan kami memutuskan untuk melihat lagi ke Hema. Kalau memang tak cocok, ya balik lagi saya ke Monoprix.

Kami dapati bahwa bantal Miffy memang bagus. Dan lebih murah ketimbang yang diminati Butet di Monoprix! Kami pun mengadopsinya dan mengajaknya belanja mingguan di Carrefour Market. Eh? Hahaha.

Usai belanja, kami langsung ke asrama Butet. Sambil saya menata belanjaan, Butet menyempatkan sedikit mengerjakan tugas dan menyiapkan barang-barang untuk dibawa menginap ke hotel.

Entah karena memang tempat tidurnya nyaman, Butet merasa lelah. Tak mau keluar makan di restoran. Saya dan Paksu pun keluar membeli makanan dan kami makan di kamar hotel.

Saat kami kembali ke kamar, Butet terlihat gusar. Meja yang tersedia di kamar tidak memadai untuknya mengerjakan tugas. Memang meja belajar di kamar asramanya cukup lebar. Bertingkat pula! Meja di hotel memanjang tapi tak cukup lebar untuk meletakkan laptop di depan tablet grafisnya. Kami tak memperhitungkan sama sekali soal itu. 

Kami harus menggeser meja, meletakkan beberapa bantal di bawah lengan Butet untuk mengakomodasinya. Pikir-pikir, memang saat libur Nataru kemarin Butet belajar di ruang keluarga. Dia menggunakan meja makan untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Ini menjadi sebuah catatan tersendiri jika suatu waktu nanti mengajak Butet staycation di hotel lagi pada saat masih memiliki tugas kuliah. 

Butet tak bisa banyak mengerjakan tugas juga. Dia harus lekas tidur, istirahat, bersiap tenaga untuk pergi pagi, latihan di klub ice skatingnya.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi