Kembali ke Tanah Rantau

Dan kami pun kembali ke rumah susun kami di rantau, setelah 19 hari meninggalkannya.

Kami berangkat 5 Agustus pagi. Sampai di Jakarta keesokan harinya di malam hari. Kami meninggalkan Jakarta 25 Agustus sore dan sampai di Nice 26 Agustus pagi.

Singkat, kepulangan kami kali ini. Memang niatnya daripada tidak sama sekali. Mengingat tahun lalu kami tidak ke tanah air karena kesibukan persiapan si Butet yang memulai masa perantauan dan perkuliahannya.

Dari 19 hari, kami singgah di Jakarta 4 hari. Niatnya untuk istirahat, menghilangkan jetlag. Menghimpun tenaga untuk bertemu dengan keluarga, yang sering kali membutuhkan stok kesabaran seluas samudera. Heu....

Kali ini kami ke Solo dulu, ke kampung halaman saya. Tidak seperti biasa yang selalu mendahulukan ke Bandung, ke rumah mertua, setiap kali pulkam. Sampai-sampai banyak orang mengira saya orang Bandung!

Kebetulan bapak dan ibu berulang tahun masing-masing 11 dan 12 Agustus. Kami bukan tipe yang merayakan ulang tahun secara istimewa. Namun kami selalu memperingatinya meski hanya dengan ucapan dan doa. Sebuah kesempatan langka untuk bisa sekedar bersama di hari-H seperti tahun ini.

Kenyataan ternyata lebih berat dari yang saya duga. Singkatnya, saya tak ada hati untuk mengorganisir apapun. Tak sempat membawa ibu dan bapak ke toko untuk memilih hadiah mereka sendiri. Kami hanya sempat makan bersama di sebuah rumah makan sederhana yang tak jauh dari rumah.

Hanya enam hari saya di Solo. Banyak agenda tak terlaksana. Termasuk belanja oleh-oleh. Beruntung adik ipar membantu. Semua belanjaan ditanganinya. Bahkan ditalangi pembayarannya. Untuk kemudian dikirim ke Bandung.

Kami tiba di Bandung tepat tanggal 17 Agustus. Enam hari juga di sana. Sama dengan di Solo? Tidak juga. Karena kemudian kami ke Jakarta bersama dengan ibu mertua, adik-adik ipar, dua keponakan, dan satu sepupu dari hari Minggu sampai saatnya kami berangkat kembali ke rantau.

Kunjungan singkat kali ini memang kami fokuskan ke keluarga sebatas orang tua, adik-adik, dan keponakan-keponakan saja. Kami sengaja tak berkabar ke mana-mana. Bertemu dengan teman pun sesempatnya saja. Memanfaatkan momen. Beruntung, kami memiliki teman-teman yang sangat pengertian, yang memahami keterbatasan waktu dan niat kami memanfaatkan kebersamaan dengan keluarga semaksimal mungkin.

10 ribu kilometer kembali memisahkan kami dengan keluarga besar. Sesingkat waktu itu saja mengandung banyak cerita. Perlahan akan saya coba catat. Sekalian mengejar setoran KLIP yang terbengkalai hingga sudah mendekati akhir bulan begini! Duh!


Comments

Popular posts from this blog

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi