Butet Ber-Ice Skating di Indonesia
Hari ini kursus bahasa Jepang saya mulai lagi. Saya pun menyiapkan perlengkapan. Cuma binder, kertas-kertas, dan alat tulis saja sih. Tapi yang penting adalah tasnya!
Tas hijau antiair oleh-oleh suami dari suatu perjalanannya ke Kopenhagen itu sudah biasa saya gunakan untuk kursus. Sangat praktis karena bisa memuat binder A4 dengan nyamannya. Apalagi kalau sudah mulai musim hujan. Sistem resletingnya menjamin keamanan barang bawaan.
Eh kok ya pas hari ini ekinoks musim gugur. Meski di Cannes masih bermatahari dengan suhu di atas 25°C sih.
Selain untuk kursus, tas itu saya gunakan juga saat perjalanan jauh. Ukurannya yang cukup besar tapi tetap cantik, menjadikannya andalan saya bepergian. Termasuk untuk ke Indonesia kemarin.
Kalau saja tas itu saya bawa ke Valenciennes, siang tadi saya tak perlu terlalu sibuk. Masalahnya, saya berganti tas di saat-saat terakhir karena bawaan Butet yang melebihi perkiraan. Akibatnya, tas hijau saya jadi wadah "pembuangan" barang yang tak terbawa. Padahal di dalamnya masih banyak sisa-sisa "sampah" dari Indonesia.
Sampah dengan tanda petik. Ada tisu basah dan camilan dari pesawat yang masih bisa dimanfaatkan. Ada pula berbagai struk belanja dan tanda bukti pengambilan uang dari ATM yang bisa dibuang.
Saat memilah struk—siapa tahu ada yang perlu disimpan dan benar saja ada tanda pemesanan obat yang belum sempat saya ambil—saya menemukan struk pembelian tiket ice skating selama di Indonesia: di Jakarta dan di Bandung.
Btw, kalau ada yang punya info icerink di Solo dan sekitarnya, colek-colek saya ya!
Di Jakarta, kami hanya sekali ke icerink, ke Skyrink di Mal Taman Anggrek. Hari itu kami masih jetlag berat dan sarapan kesiangan. Kami berangkat habis Zuhur, langsung ke icerink, merasa belum lapar.
Tapi setelah perjalanan dari hotel kami di Kuningan ke Skyrink di akhir pekan yang tak hanya sebentar, kami kehabisan tenaga juga. Ditambah makin banyaknya pengguna dan ukuran icerink yang tak sesuai yang dibayangkannya—dipotong untuk klub, pula!—, Butet pun hanya memanfaatkan satu dari dua jam jatah sesi ice skating-nya.
Fyi, di Skyrink tiket masuk hari Sabtu itu seharga Rp160k sudah termasuk sepatu skating-nya. Biaya yang sama dikenakan bagi pengantar yang ingin ikut masuk, baik mau ikut berseluncur atau sekedar duduk-duduk. Tentu saja saya memilih menonton dari luar, dari lantai di atas icerink.
Dari awal Butet sudah berencana ikut walk in lesson di Gardenice di Mal Paris van Java di Bandung. Maunya sih yang satu minggu penuh. Tapi apa daya, waktu seminggu lebih di Bandung terpotong dengan bertamasya sekeluarga besar ke Jakarta.
Senin sampai Bandung, Selasanya kami langsug ke PVJ. Ternyata mendapatkan coach untuk walk in lesson tidak semudah itu. Datang sesudah makan siang, tak ada coach yang available. Butet pun tetap berseluncur sendiri sementara saya mencoba mencari hari lain.
Ternyata Rabunya ada yang masih kosong. Tapi karena ada jadwal ekstra kurikuler sebuah sekolah entah apa, personil icerink tidak terlalu merekomendasikan. Singkat cerita, kami mendapatkan jadwal Kamis untuk dua sesi bersama coach. Satu sesi 30 menit saja.
Saat kami datang Kamis itu dan berkenalan dengan coach-nya yang terlihat masih muda, ternyata dia eks mahasiswa di Prancis! Bahasa Prancisnya cukup bagus. Saya yang sengaja ikut masuk untuk mungkin menjadi interpreter pun lega. Lebih enak kalau Butet bisa ngobrol langsung dengan coach-nya kan!?
Lesson hari itu lancar, Butet ingin melanjutkan lagi hari Jumatnya. Kebetulan sang coach kosong juga di jam yang sama. Jadilan dua hari berturut-turut Butet bisa mendapatkan pelajaran privat berseluncur dengan lebih baik, untuk mengejar ketinggalannya dari sebagian rekan sesama anggota klub ice skating yang dia ikuti di Valenciennes.
Saya tak menanyakan apakah Sabtunya coach masih kosong. Butet mengeluh lelah, kursus intensif dua hari berturut-turut begitu. Apalagi Minggunya kami berangkat ke Jakarta. Kami pun berpisah dengan coach, tak lupa bertukar kontak.
Fyi, di Gardenice, tiket masuk Kamis dan Jumat seharga Rp134k. Hari Selasa ada diskon untuk pelajar, Butet hanya membayar Rp93,8k. Di sini pengantar cukup membayar Rp28k dan mendapatkan satu botol air mineral. Yang main seluncur nggak dapet jatah air tuh! Hihihi.
Untuk walk in lesson, biayanya terpisah lagi. Tarifnya tergantung season dan type of coach. Kami yang tidak memilih coach, ternyata mendapatkan "gold coach" yang benar-benar "gold"!
Untuk informasi lebih lanjut, langsung ke Instagram-nya saja ya. Baik yang Gardenice maupun Skyrink. Biar lebih up to date laaah!
Eh lha kok ternyata, dapat kabar kalau kategori young adult di klub ice skating Valenciennes malah dihapus. Latihannya sementara ini digabung dengan kategori adult yang latihannya malam. Butet jadi tak bisa ikut latihan di klub lagi sampai saat ini.
Memang kelas young adult baru dibuka tahun lalu, pas Butet mau bergabung. Kami masih menunggu kabar. Masih berharap kelasnya dibuka lagi. Sementara ya harus memotivasi diri buat ke icerink sendiri. Yang itu tidak mudah karena jauh, transport terbatas, dan kesibukan kuliah yang makin padat.
Yah, kita lihat saja lagi ....
Comments
Post a Comment