Film-film yang Menemani Liburan Musim Panas 2026
Ke tanah air adalah kesempatan menonton berbagai film dan serial di platform streaming yang tak masuk dalam katalog platform di Prancis. Meski di platform streaming yang sama, tidak semua wilayah memiliki katalog film dan serial yang sama kan!? Tergantung pada jangkauan hak tayangnya.
Karena terbatasnya waktu, saya memfokuskan diri ke film-film Indonesia. Kebetulan semua film yang saya pilih, hak tayangnya dipegang oleh Netflix.
Mengingat kekurangstabilan koneksi internet dan mobilitas saya yang besar, saya mengunduh film-film itu sebelum menontonnya di tablet. Ada beberapa film yang sukses saya tonton selama di tanah air. Beberapa lagi saya simpan di tablet, lalu saya matikan koneksi internetnya untuk bisa menontonnya setelah meninggalkan Indonesia.
Sore: Istri dari Masa Depan
Film ini sangat viral di masa rilis bioskopnya. Sebegitu viralnya sampai membuat saya penasaran akut. Saat masuk Netflix, saya gemas sekali karena tak masuk ke Netflix Prancis. Untuk itulah, begitu sampai di Indonesia, film ini jadi yang pertama yang saya tonton! Dan saya tak kecewa.
Saya suka film ini. Pilihan alurnya pas banget. Sempat merasa "ah, kok gitu lagi" di suatu titik, tapi ternyata berbeda, menunjukkan rangkaian cerita yang memang perlu dan bukan sekedar pengulangan.
Sinopsis dan spoiler mah sudah banyak beredar kan ya!? Yang jelas film ini happy ending dengan manisnya.
Esok tanpa Ibu
Film ini disarankan oleh Kak Risna. Tadinya saya heran mengapa dia merekomendasikan film ini. Apa karena Dian Sastro-nya? Saya pikir lebih karena Ringo Agus yang seingat saya dia ngefan berat. Eh? Hihihi.
Saya belum tanya lagi ke Kak Risna. Tapi saya duga unsur intelegensia buatan yang jadi tema di film ini adalah salah satu alasan rekomendasinya. Dan sepertinya bakal seru kalau kami diskusikan.
Kalau saya ditanya apakah film ini happy ending? Saya akan menjawab seperti kata Kak Risna saat saya menannyakan hal yang sama: define happy ending! Hehehe.
Na Willa
Na Willa adalah film yang banyak dipuji-puji pasa saat rilisnya. Yang saya tangkap sih lebih membahas soal pendidikan, sistem sekolah, ... Nggak salah sih. Tapi saya menontonnya, saya lebih terkesan pada gambarnya.
Saya terkejut senang dengan masa tahun 60-an yang dipilih sebagai latar cerita. Gaya pop yang pernuh warna-warni ceria sungguh menarik mata. Tapi tak sampai membuat saya terlena dan melupakan tema berat yang mengiringi filmnya. Justru malah saya deg-degan sepanjang menonton, takut sad ending. Tenang, happy ending, kok!
Saya jadi penasaran dengan buku berjudul sama karya Reda Gaudiamo yang menginspirasinya. Sayang sekali saya tak menemukannya di iPusnas dan tak teringat mencarinya, dan memang tak sempat melihatnya juga di toko buku, saat pulang kampung Agustus yang baru lalu.
Tunggu Aku Sukses Nanti
Film ini saya unduh karena rilis di Netflixsaat saya sedang berada di Indonesia. Kapan lagi menonton film yang benar-benar baru gres lah ya—meski saya nggak yakin apakah rilis di France juga dan ternyata memang tidak. Dan karena ada Lulu Tobing dan Sarah Sechan yang saya kenal namanya. Yah, begitulah. Kelihatan kan, angkatan berapa? Hihihihi.
Tema yang diangkat di film ini klasik. Endingnya mudah ditebak. Bahkan jalur ceritanya juga. Tak ada kejutan. Tapi yang jelas saya jadi lebih menghayati Tante Yuli yang disebut oleh Teh Restu dalam tulisannya di Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang bertema Cerita Random.
Dan saya bersyukur sudah nonton Sore sebelumnya, jadi bisa ngerti joke pada adegan wawancara pertamanya. Tapi emang anak zaman now nggak kenal sama Abu Rizal Bakery ya?
Catatan Menantu Sinting
Film Catatan Menantu Sinting termasuk salah satu yang saya unduh awal. Saya mencoba menontonnya sesudah Na Willa. Namun, seperti buku yang menginspirasinya yang sempat saya pinjam di iPusnas bertahun-tahun yang lalu, saya kesulitan menyelesaikan film ini. Saya mencobanya berkali-kali. Ya filmnya, ya bukunya dulu.
Dulu saya memilih menyerah membaca bukunya karena terlalu putus asa dengan kelakuan sang suami. Filmnya berhasil saya selesaikan dengan susah payah karena alasan yang sama. (Itupun ditambah dorongan karena akan meninggalkan Valenciennes dan ingin mengembalikan koneksi internet ke tablet yang beresiko hilangnya hasil unduhan.) Dan keselnya, alasan itu terbukti. Well, paling tidak untuk saya!
Oh ya. Film ini saya unduh karena ada salah satu pemeran pendukungnya yang sekarang menjadi tetangga saya di Cannes coret sini. Pantes waktu itu dia mudik lama sekali! Hihihihi.
Berikutnya?
Sampai hari ini belum ada film Indonesia lagi yang saya tonton. Film Indonesia terakhir yang masuk Netflix France adalah Dilan ITB 1997. Sebenarnya saya penasaran dengan settingnya yang di ITB. Masa-masa saya kuliah, pula! Namun saya kurang sreg dengan pemeran utamanya.
Semoga makin banyak film Indonesia berkualitas yang masuk Netflix France ya. Jangan sinetron saja lah! Duh!





Comments
Post a Comment