Polemik Novel AI
Kemarin, ada pembicaraan mengenai penggunaan AI di sebuah wag yang saya ikuti, yang tak perlu saya sebutkan karena toh sebagian besar pembaca blog saya ini—yang jumlahnya hanya hitungan jari—berasal dari komunitas tersebut! Hihihihi.
Tapi tentu saja saya tak mau membahas diskusi kami di sana. Privilese anggota wag lah yaaa....
Kemarin, saya ikut nimbrung menceritakan tentang skandal novel yang dinominasikan dalam berbagai penghargaan sastra Prancis tahun ini. Novel tersebut dilaporkan oleh seorang jurnalis (yang mula-mula anonim) dideteksi oleh Pangram dibuat dengan menggunakan AI. Level tinggi. Beberapa bagian bahkan sampai 100%!
Tentu saja ini menimbulkan kehebohan besar!
Bagaimana mungkin tim juri yang terdiri dari tokoh-tokoh sastra itu kecolongan? Apakah semua buku yang masuk nominasi juga dites muatan AI-nya? Apakah Pangram, yang memang sudah sempat menimbulkan polemik karena mendeteksi karya Victor Hugo sebagai karya AI, bisa dipercaya?
Efek rasisme kah? Kebetulan penulis merupakan keturunan Haiti yang berkewarganegaraan Kanada. Polemik soal AI muncul hanya beberapa saat setelah novel diumumkan meraih penghargaan Prix du Roman Fnac—sebuah jaringan toko benda kultural ternama di Prancis. Penghargaan ini diberikan atas dasar pilihan panel pelanggan Fnac.
Apalagi saat kemudian novel tersebut dikeluarkan dari seleksi Goncourt ... dengan alasan plagiarisme!
Itu urusannya lain lagi!
Pro dan kontra mengalir. Para penulis dan pemerhati sastra mengemukakan pendapat masing-masing. Masyarakat umum juga.
Bagaimana mungkin penerbit besar bisa meloloskan naskah karya AI? Tidak semua orang bisa membuat novel yang bagus hanya dengan bermodalkan prompt, kan!? Apakah naskah yang bagus, meski dengan bantuan AI, tak boleh mendapatkan penghargaan sastra?
Dua minggu berlalu, belum ada kejelasan apakah karya tersebut memang AI atau bukan. Penulis mendapatkan kenyamanan asas praduga tak bersalah. Sementara penikmat sastra berada dalam kebimbangan ketidaknyamanan yang menyesakkan. Meski beberapa yang lain tetap memberikan dukungan penuh kepada penulis. Bahkan lebih bersemangat dengan membeli bukunya sebanyak-banyaknya, dengan alasan yang berbeda-beda.
Saya sendiri belum membaca bukunya. Saat melihatnya di toko buku—saya adalah salah satu pelanggan Fnac, saya tidak tertarik dengan temanya. Pun saat dinominasikan di mana-mana.
Seperti yang sempat saya sampaikan dalam diskusi di wag, saya menolak sama sekali menggunakan AI generatif. Untuk saya, ada penggunaan AI yang lebih tepat. Dan bidang kreatif tidak termasuk di dalamnya.
Comments
Post a Comment