Tahun Kedua di Level 3 Kursus Bahasa Jepang

Minggu ini adalah minggu kedua periode libur sekolah musim gugur. Tapi hari ini ada jadwal kursus bahasa Jepang yang biasanya juga ikut libur. Kursus kali ini diadakan untuk mengantisipasi absennya Sensei di bulan Desember nanti untuk pulang kampung ke Tokyo.

Rabu lalu sih tak ada kursus. Kebetulan. Di jam yang sama, saya mengikuti pertemuan orang tua mahasiswa dari kampus si Butet. Kalaupun ada kursus, saya bakalan absen juga.

Tak terasa sudah masuk tahun kelima saya kursus bahasa Jepang. Tetap, JANGAN ajak saya berbincang dengan bahasa Jepang! Saya masih belum bisa. Hicks.

Ini adalah tahun kedua saya di level 3 (B1). Level paripurna kursus bahasa Jepang di Cannes Université. Tak ada level lain lagi. Akibatnya, pesertanya di level 3 ini campur-campur, profilnya: ada yang baru naik dari level 2, ada yang sudah entah berapa tahun di level yang sama.

Tahun lalu, saya adalah satu dari dua peserta level 2 yang berani mencoba naik ke level 3. Hanya saya yang bertahan. Teman saya memilih turun ke level 2 lagi.

Awal tahun ajaran ini, senang sekali saya melihatnya di kelas level 3. Tapi ternyata hanya sehari itu. Di akhir kelas, dia menyatakan mau turun lagi ke level 2.

Tahun ini ada 2 peserta yang benar-benar baru. Satu sudah sempat belajar bahasa Jepang tapi sudah lama sekali sehingga ingin menyegarkan kemampuannya—yang jelas-jelas jauh di atas saya. Satu lagi adalah peserta yang baru naik dari level 2, bersama teman saya yang akhirnya turun level lagi tadi.

Nah, peserta baru yang satu ini, Rabu dua minggu yang lalu mengeluh mulai keberatan materi. Dia merasa tak mampu mengikuti dan ingin turun ke level 2.

Sensei membesarkan hatinya. Normal kalau sulit karena dia satu-satunya peserta baru dari level dua. Beliau menyayangkan kalau mau turun ke level dua lagi karena sudah dianggap menguasai. Tak ada perkembangan.

Saya ikut urun rembug membesarkan hatinya. Saya bilang, tahun lalu saya juga keteteran. Sekarang juga masih sih. Heu.... Tapi dengan ketertinggalan, saya lebih terpacu buat belajar. Kalau di level 2, tak yakin saya bakal belajar sekeras ini. Meskipun ya nggak sekeras itu juga sih. Buktinya, sampai saat ini masih belum bisa berbincang dengan bahasa Jepang. Hadeuh!

Teman-teman peserta yang lain ikut menyemangati. Lalu kami semua menunjuk satu peserta, kebetulan yang paling senior, untuk tidak dijadikan parameter. Masalahnya, dia memang sudah mahir sekali berbahasa Jepangnya. Kosa kanjinya juga sudah banyak sekali. Saya sendiri juga heran, apa nggak bosen dia belajar bersama kami yang masih nanya melulu kalau ketemu kanji ini?

Peserta baru itu tidak terlihat hadir di kelas hari ini. Sensei juga tidak ada menyebutkan apakah dia izin absen atau turun ke level 2. Dalam perjalanan pulang bersama teman-teman peserta, kami sempat membicarakan peserta baru. Salah seorang rekan yakin kalau dia kembali ke level 2.

Yah, lihat saja minggu depan. Kalau dia tak hadir, akan saya tanyakan pada Sensei. Kalau benar dia turun ke level 2, saya jadi bertanya-tanya: apakah saya memang sepemberani itu menantang diri? Atau karena tak tahu diri, tetap bertahan di level 3 meski pontang-panting begini? Heu.... Hehehe...


Comments

Popular posts from this blog

Blogger Curcoler? Yes!

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo