Seminggu setelah UM ITB 2026

Senin pagi, saat membuka Whatsapp, saya melihat ada tanda tagging di grup runners keluarga. Ah, paling "tag all", pikir saya. Saya tak langsung membuka pesan di grup. Saat kemudian membukanya, ternyata tag-nya untuk saya. Tag terima kasih atas peran saya dalam Ultra Marathon ITB 2026 yang baru seminggu berlalu.

Eits tunggu dulu!

Saya tidak mudik diam-diam. Apalagi ikut ultra marathon. Yang R16 sekalipun. Dengan jalan kaki pun!

Dan saya masuk ke dalam grup runners keluarga itu bukan sebagai pelari. Lutut sudah tak mengizinkan, sodara-sodaraaa....

Saya dimasukkan ke dalam grup karena menyanggupi untuk membantu grup runners keluarga yang mengirimkan dua tim dalam UM ITB 2026. Saya mendapatkan tugas sebagai controller, mencatat pewaktuan tiap pelari, secara daring. Controller khusus untuk tim keluarga besar anak-cucu eyang dari pihak Paksu.

Ya! Memang di keluarga besar dari jalur ibu mertua ada banyak alumni ITB. Ibu mertua saya sendiri 11 bersaudara. Dua di antaranya alumni ITB. Anak-anaknya, generasi saya dan suami, generasi 3, ada ... banyak alumni ITB. Belum lagi mantu-mantunya. 

Generasi anak saya pun, generasi 4, sudah ada beberapa yang jadi mahasiswa ITB. Nggak heran kalau ada tim R8 khusus alumni dan R16 yang campur dengan non alumni, kan!?

Pada UM ITB 2025 saya tidak mengajukan diri untuk membantu. Pasalnya, saya sudah mendaftar sebagai controller online langsung ke panitia. Sayangnya, tak ada kabar sama sekali sampai usai pelaksanaan. Demikian juga sahabat saya di Jakarta yang sudah sengaja memilih jam bertugas yang sama dengan saya. Mungkin sudah cukup banyak sukarelawan. Tapi tentu alangkah lebih baiknya kalau ada kabar kan ya!?

Tahun ini, tak terdengar pengumuman pencarian sukarelawan. Sepertinya sistem pencatatan sudah lebih tertata. Tak perlu banyak orang lagi. Karenanya, saya mengajukan diri menjadi controller untuk tim keluarga.

Saya ditugasi mengawasi pelari R16 etape 1 hingga 5, sekitar jam 9 malam hingga jam 5 pagi WIB, lalu lanjut lagi etape 14 sampai 16, sekitar jam 7 malam sampai lewat tengah malam di Bandung. Ngambil yang pas jam tidur di Indonesia, lah, ceritanya.

Prinsip tim keluarga kami adalah finis aman!

Satu pelari R8 akan mendampingi 2 pelari R16. Tim R8 yang terdiri dari pelari-pelari yang lebih berpengalaman boleh dibilang menjadi penjaga pace tim R16. Tim tak mengejar podium. Yang penting berpartisipasi, meramaikan. Targetnya menjadi finisher. Dengan aman!

Dari terlibat menjadi controller, saya mengagumi manajemen tim yang dilakukan oleh sepupu-sepupu saya itu. Semua tertata rapi. Dari monitor latihan tiap calon peserta hingga logistik. Ada pertemuan zoom koordinasi seminggu sebelum pelaksanaan. Mungkin sudah ada juga sebelum saya bergabung dalam wag. 

Saat saya menerima link google sheet, saya makin melihat bagaimana detilnya persiapan kedua tim. Ada perkiraan waktu start dan finish. Jika data start saat pelaksanaan dimasukkan, akan ada perubahan data perkiraan finish. Demikian juga saat data finish real time dimasukkan, akan ada perubahan data perkiraan untuk pelari-pelari selanjutnya.

Tim kami—boleh kan, saya menyebutkan sebagai "tim kami"?—memiliki marshall bermotor khusus. Marshall ini yang mengomunikasikan waktu start dan finish tiap pelari untuk dicatat para controller. Selain itu ada anggota keluarga lain yang mendampingi setiap etapenya. Kadang kala mereka lebih cepat mengirim data ketimbang marshall. Hehehe.

Para pelari pun bertanggung jawab dengan saling memberi kabar saat sudah siap di kolasi start. Pelari etape selanjutnya menyambut pelari etape sebelumnya, menunjukkan lokasi untuk check in jika diperlukan. Beberapa pelari juga membagikan lokasinya secara live di wag meski kita bisa mengikutinya di website yang disediakan panitia. 

Alhamdulillah partisipasi tim kami berjalan lancar. Semua berlari dengan tuntas dan aman—tentu kami tak melupakan seorang peserta muda yang berpulang di tengah partisipasinya. Hampir semua jauh lebih cepat dari perkiraan. Ada satu keponakan yang bahkan jadi lari 3 etape padahal dia masuk tim R16: satu etapenya sendiri, lalu dua lagi saat beberapa etape kemudian menemani keponakan saya yang lain lanjut bibi saya menuju finish line.

Sebuah kejutan, saat terlihat di foto yang dikirimkan salah satu sepupu saya bahwa satu tim lain yang finish hampir bersamaan adalah tim CodeRunners R8C, salah satu tim alumni jurusan saya dan Paksu, Teknik Informatika. Kebetulan yang menghangatkan hati.  

Meski UM sudah seminggu berlalu, wag masih cukup ramai. Semua saling menyemangati untuk tetap berolah raga. Lari, tentu saja. Tapi juga gym. 

Saya jadi malu. Jadi pengin lebih rajin olah raga juga. Meski yah, paling jalan kaki saja. Hehehe.

Yang jelas, saya sangat senang dan berterima kasih kepada sepupu-sepupu yang melibatkan saya dalam pelaksanaan UM tahun ini. Saya jadi merasa tetap dekat dengan mereka yang jauh secara jarak dan sangat jarang bertemu. Saya bisa melihat betapa cepat besarnya keponakan-keponakan saya. Saya juga jadi bisa berkenalan dengan beberapa sepupu baru, sepupu "mantu" seperti saya, yang belum sempat saya temui hingga saat ini. 

Meski hanya lewat komunikasi tekstual, kehangatan keluarga kami tetap terpancar melintasi batas benua....


Comments

Popular posts from this blog

Blogger Curcoler? Yes!

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo