Posts

Showing posts from 2025

Refleksi 2025

Image
Tahun baru datang dalam kurang dari dua jam lagi. Saatnya mencatat hal-hal penting yang terjadi di sepanjang 2025! 25 Tahun Pernikahan Ya, pernikahan perak! Saya teringat adik eyang yang merayakannya dengan megah. Saya pun sempat berpikir akan memperingatinya di Solo. Tanpa perayaan. Saya tak suka jadi pusat perhatian. Kumpul keluarga saja. Staycation di hotel tempat saya dan suami menikah dulu. Ternyata 25 tahun pernikahan bertepatan dengan jatuh temponya milestone besar anak-anak. Kami tak bisa ke Indonesia. Tak cukup luang waktu. Ada banyak yang harus dikerjakan. Namun saya berhasil "memaksakan" agenda kumpul berempat. Kami jalan-jalan ke Helsinki dan Talinn setelah "menjemput" si Ucok di Visby. "Memaksa", karena mengepaskan hari—H ulang tahun pernikahan pada saat berkumpul berempat dan tidak dalam perjalanan agak lebih mahal dari jadwal yang diagendakan suami sebelumnya. Yang jelas itu bisa jadi penghiburan karena impian berhaji pada tahun perak masih ...

Catatan Drakor 2025

Image
Tahun sudah akan berganti. Sudah tak ada drakor yang mungkin akan terkejar penyelesainnya lagi. Eh? Hehehe. Seperti 2024 lalu , saya mencatat drakor yang saya selesaikan setiap bulannya di tahun 2025. Kali ini ditambah catatan tanggalnya, meski sebenarnya kurang presisi karena ada beberapa yang diselesaikan tengah malam lewat sedikit dan ada satu yang lupa dicatat, saking hectic -nya musim panas kami.  Sebenarnya, selain drakor-drakor on going , masih ada Spirit Fingers yang saya tonton saat ini. Gara-gara klasemen Time Magazine yang memasukkannya ke 10 drakor terbaik 2025 tuh. Dari yang tercantum di sana, hanya 3 yang sudah saya tonton. Dan di antara yang belum saya tonton, hanya dua yang menarik saya: Spirit Fingers dan Way Back to Love yang saya selesaikan pagi tadi. Kalau saya tak mengejar menuntaskan Spirit Fingers , itu karena Butet ingin mengulang menontonnya bersama saya. Apalagi dia kena influenza saat libur Nataru ini yang membuatnya harus banyak istirahat, tak bisa k...

Delapan Belas Tahun

Delapan belas tahun adalah batas usia kedewasaan di Prancis. Ya, 18. Bukan 17 seperti di Indonesia. 18 tahun artinya sudah bisa ikut Pemilu. Kalau SIM mah di Prancis sudah dari umur 17, meski baru legal berkendara di luar Prancis sesudah usia 18. Di usia 18 tahun, orang tua tak lagi punya hak untuk mengatur anak. Anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Bisa mendaftar sekolah sendiri, menyewa tempat tinggal sendiri, ... tak perlu lagi kehadiran orang tua. Secara legal. Pada prakteknya, itu cerita lain lagi. Kebanyakan penyewa rumah masih mewajibkan adanya penjamin. Dan siapa penjamin, kalau bukan orang tua, kan!? Itupun seringkali masih tetap orang tua yang membayar. Apalagi kalau anaknya masih mahasiswa dan belum bekerja! Di usia yang baru menginjak 18, Butet sudah hidup sendiri. Terpisah dari kami orang tuanya. Jauh dari keluarga. Urusan sewa kamar asrama, masih kami yang menangani. Langganan listrik pun masih atas nama kami. Bukan karena anaknya malas, tapi memang demikian ketentua...

Relativitas Logika

Image
Sejak berakhirnya libur musim gugur kemarin , saya selalu bangun pagi dan tidak bisa tidur lagi. Pasalnya, si Butet minta ditemani untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Ditemani daring, lah. Via panggilan video. Saat bisa menemani Butet mengerjakan tugas, langsung di kamar asramanya Tugas-tugas perkuliahannya memang banyak sekali. Awalnya, Butet mengerjakannya malam. Saya sudah biasa menemaninya dengan menambah atau menggeser r itual ngobrol sore kami yang tak terhenti meski Butet merantau. Makin ke sini makin banyak tugas, Butet pun menambah jam belajarnya dengan pagi sesudah Subuh. Dan belakangan dia mendapati lebih efektif di pagi hari. Untuk info, Subuh di Prancis saat ini baru datang menjelang jam 7 pagi. Jadi ya nggak pagi-pagi amat, sebenarnya, ya!? Perkuliahan Butet dimulai sekitar jam 9.30—10.30. Lumayan ada waktu kan!? Apalagi kampusnya hanya 500 meter dari asrama! Berbeda dengan ritual mengobrol sore, saat video call untuk belajar, kami minim berbincang. Butet mengerjakan tugas...

Omaha

Image
Film keempat yang saya tonton di Rencontres Cinématographiques de Cannes 2025 adalah Omaha . Film asal Amerika Serikat ini merupakan film pertama yang saya masukkan ke watchlist . Langsung mantap, tak berubah sampai akhir dan sukses menontonnya. Foto: Sanctuary Perjalanan Keluarga Menceritakan tentang seorang ayah yang tetiba mengajak kedua anaknya melakukan perjalanan. Dia menggendong Charlie yang masih tertidur ke dalam mobil, lalu membangunkan Ella dan memintanya bersiap. Tak lupa mereka membawa Rex, si anjing. Si ayah tidak mengatakan mereka mau ke mana. Apa maksud dari perjalanan itu. Hanya nama kota: Omaha. Mereka bertiga menyusuri jalan sepanjang hari dengan mobil yang harus didorong untuk membantu start-nya. Istirahat mengisi bahan bakar, makan, dan suatu kali bermain layang-layang. Mereka bermalam di motel untuk kemudian melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Ella perlahan menyadari bahwa perjalanan itu bukanlah sekedar trip biasa. Namun ayahnya tetap tidak mau memberikan pe...

The Voice of Hind Rajab

Image
Film ketiga yang saya tonton dalam rangka Rencontres Cinématographiques de Cannes 2025 adalah The Voice of Hind Rajab . Pernah dengar beritanya kan!? Lupa? Saat baca judulnya, saya sendiri juga tak langsung terpikir. Tapi sesudah mulai membaca sinopsisnya, saya jadi teringat. Film ini menceritakan tragedi Hind Rajab dari sisi tim Bulan Sabit Merah. Misi Penyelamatan Hind Rajab Omar, salah satu sukarelawan Bulan Sabit Merah (BSM), menerima telepon permohonan bantuan evakuasi dari Gaza utara. Awalnya dia sempat agak gusar karena penelepon terdeteksi berasal dari Jerman. Namun si penelepon menjelaskan bahwa dia adalah anggota keluarga dari yang dimintakan bantuan evakuasinya. Si penelepon memberikan nomor ponsel yang bisa dihubungi. Saat Omar menelepon, penerimanya adalah seorang anak perempuan. Si anak menjelaskan bahwa mereka berada di dalam sebuah mobil tetapi terhentikan oleh tembakan tentara. Tak lama berbincang, terdengar suara tembakan dan telepon terputus. Omar mencoba menelepon l...

Furcy: Né Libre

Image
Hari kedua Rencotres Cinematographiques de Cannes (RCC), saya ragu. Mau menonton film Furcy: Né Libre yang dijadwalkan dihadiri oleh kru filmnya, atau Follemente yang pasti lebih ringan dan sudah dikabarkan merupakan komedi yang menyegarkan? Pilihan akhirnya jatuh ke Furcy , dan saya tak menyesalinya! Furcy: Lahir Merdeka Menceritakan tentang Furcy, seorang budak di salah satu koloni Prancis yang ibunya baru saja meninggal dunia. Saat melihat-lihat barang simpanan sang ibu, Furcy menemukan surat pembebasan ibunya dari majikan sebelumnya. Yang itu artinya Furcy pun sebagai anak adalah manusia merdeka. Bukan budak! Furcy melarikan diri dan mencari bantuan kepada jaksa setempat untuk meresmikan kemerdekaannya. Namun tuannya tak mau melepaskannya begitu saja. Furcy malah dituntut karena melarikan diri dari kewajibannya sebagai budak.  Pengadilan memutuskan bahwa Furcy adalah manusia merdeka. Sayangnya kebebasan itu tidak berlangsung lama. Furcy kembali ditangkap dan dijebloskan ke pe...

The Tasters

Image
Setelah dengan bangga menonton Autobiography pada tahun 2023 dan menikmati The Last Stop in Yuma County tahun lalu, Rencontres Cinematographiques de Cannes (RCC) kali ini pun saya berencana menonton lebih banyak lagi.  Saya menjadwalkan untuk menonton paling tidak 4 film. Satu film per hari kerja, kecuali Rabu yang padat untuk saya. Memang harga tiketnya murah saja. Ada diskon untuk anggota Cannes Université, pula! Tapi rasanya akan melelahkan menonton lebih banyak lagi. Saya mengkhawatirkan kebutuhan ekstra kerja neuron untuk mencerna film festival. Heu.... Film pertama yang saya tonton adalah Les Gouteuses d'Hitler , para juru cicip Hitler. Ya, Hitler yang itu! Pencicip untuk sang Führer Menceritakan tentang Rosa Sauer yang mengungsi ke rumah mertuanya, mengikuti saran suaminya. Sedianya Rosa tinggal sendirian di Berlin semenjak suaminya pergi berperang. Dia tak memiliki keluarga lain.  Ternyata daerah asal suaminya itu adalah tempat salah satu bunker Hitler berlokasi! B...

25 Tahun Merantau

Image
Hari ini tepat seperempat abad sejak saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Prancis. Ya, dua puluh lima tahun!  Sudah 25 tahun, atau baru 25 tahun? Yang jelas, sudah berulang kali saya menuliskan tentang awal-awal perantauan saya itu. Saya sendiri tak mencatatnya kapan saja dan di mana saja menulisnya. Karena tentu, tak setiap 13 November saya mengulang cerita yang sama. Ada beberapa catatan yang berkesan untuk saya. Lho? Hehehe. Yang pertama adalah tulisan di Facebook 5 tahun yang lalu. Saya membaginya dalam dua tulisan: saat meninggalkan Indonesia tanggal 12 November dan saat tiba di Prancis tanggal 13-nya . Saya menuliskannya dalam bahasa Prancis. Singkat saja. Tapi rasanya sudah menyimpulkan semua yang saya alami dan rasakan saat bersejarah itu. Yang kedua adalah tulisan di blog ini, yang saya ikutkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog November 2023. Ya, tepat 2 tahun yang lalu! Saat itu temanya adalah pilihan antara di luar nalar, idola, dan resensi. Karena...

Rentrée Automne 2025

Image
Seminggu sudah berlalu sejak saya meninggalkan Butet lagi di rantaunya. Udah kangen? Nggak terlalu terasa sih. Ya, kami masih kontak tiap hari. Tapi seminggu ini lebih intensif lagi! Alasan utama Butet tak mau pulang saat liburan adalah karena tak mau memotong ritme adaptasinya. Alasan lain adalah karena tugasnya banyak. Banyaaak sekali! Butet mengalokasikan minggu pertama liburannya untuk istirahat. Apalagi ada agenda ke Lille sepanjang akhir pekan. Istirahat bukan berarti bersantai penuh. Butet tetap mencari referensi, misalnya. Begitulah. Sekalian memanfaatkan keberadaan kartu debit saya untuk membayar buku-buku dan perlengkapan kuliah yang diperlukannya! Hahaha. Butet mengalokasikan minggu kedua untuk mengerjakan tugas. Semaksimal mungkin di kampus. Pikirnya adalah untuk memanfaatkan ruang yang lebih bebas karena semua tingkat sudah dijadwalkan libur. Dan komputer lebih canggih dengan dua layarnya, tentunya! Namun ternyata di akhir pekan pertama ada pengumuman bahwa ruangan kelas d...

Fansign Katseye di Cannes

Image
Beberapa saat setelah tiba di Valenciennes, Butet mengabarkan bahwa ada global group Katseye yang datang ke Cannes untuk menghadiri NRJ Music Awards. Saya pun mempertanyakan, "Bukannya kamu nggak ngefans mereka?" Rupanya banyak Eyekons di antara teman-teman sekelasnya. Jadilah Butet terimbas. Namun Butet tetap tak berminat saat saya tawari untuk ikut saya kembali ke Cannes. Toh bakal tak bisa mengakses acara juga. Tiket gratis ke NRJ Music Awards hanya dibagikan ke pelajar yang bersekolah di Cannes. Teman-teman Butet dari lycée pun hanya segelintir yang masuk kategori itu. Pendiriannya sempat goyah, saat Selasa saya mendapati pengumuman fansigning Katseye di Fnac Cannes, sehari sebelum penyelenggaraan NRJ Music Awards, tepat sehari sesudah jadwal saya kembali ke Cannes. Namun Butet teguh untuk tidak ikut pulang. Tugasnya ada buanyaaak sekali. Tak akan mungkin dia sanggup menyelesaikannya kalau pulang dadakan dan datang di acara segala, sedangkan praktis dia menjadwalkan pen...