Senyapkan Notifikasi demi Kewarasan
Saat tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan September 2026 diumumkan tanggal 5 lalu, saya mengerutkan kening. Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup? Apa ya? Rasanya perubahan dalam hidup saya terjadi karena keputusan-keputusan besar, deh.
Lalu dipikir-pikir lagi, semua keputusan yang kita ambil bukannya mengubah hidup ya!? Soal kita makan atau tidak makan dan apa yang kita makan pun berefek ke dalam tubuh dan hidup kita. Kita bangkit dari duduk atau memilih tetap baringan pun ada pengaruhnya. Meski memang mungkin tak langsung terasa tepat sesudah aksi kita. Seperti efek kupu-kupu lah ya. Semoga nggak sampai mendatangkan badai saja!
Namun kedua pemikiran itu tak menyelesaikan masalah saya: apa yang akan saya tulis untuk tantangan? Heu ....
Seusai menulis soal penyelundupan kemarin, barulah saya mendapat ide. Agak jauh sih, kalau dilihat permukaannya saja. Tapi nyambung dengan kondisi di mana saya tidak bisa berbohong.
Jadi begini....
Pernah nggak, menerima pesan dari seseorang dan kita enggan banget menjawabnya? Kalau jawab jujur, dia bakal marah. Kalau dijelasin, dia bakal menyangkal. Serba salah lah. Malesin banget, kan, yang kayak gitu!?
Mau bohong, kok ada rasa berdosa. Dan yang kayak gini ini adalah tipe yang suka ngejar-ngejar. Mau pembuktian kebenaran perkataan kita. Cape deeeh....
Paksu bilang sih yang kayak gitu cuekin aja. Nggak usah dijawab. Apalagi dia tau gimana saya nggak bisa bohong. Dia khawatir kalau saya menjawab—yang tentunya dengan jujur—, beresiko menimbulkan Perang Dunia III!
Cuek itu buat saya gampang di teori, tapi susah di prakteknya. Apalagi dengan notifikasi yang berdatangan, yang membuat penasaran; apa lagi sih, yang ditulis? Eh? Walhasil, menjawab atau tidak, pikiran saya jadi tak tenang.
Menyenyapkan notifikasi Whatsapp atau sekalian menyenyapkan ponsel adalah salah satu solusi. Ini sudah biasa saya lakukan kalau sedang benar-benar tak mau diganggu. Saat kursus, pertemuan klub buku, atau dalam pertemuan luring lainnya, misalnya. Atau kalau sedang ingin istirahat dan suami serta anak-anak ada di rumah.
Kalau ketiga orang tersayang itu tak ada di dekat saya, saya memilih menggunakan fitur Jangan ganggu. Hanya telepon dan pesan dari mereka yang bisa membunyikan notifikasi ponsel. Plus adik-adik di Indonesia.
Kedua fitur itu memang membantu. Namun, notifikasi teks tetap muncul meski tanpa suara, kan!? Kalau mata tak bisa diajak kerja sama, tetap saja melirik-lirik. Apalagi kalau tangan sudah terlalu refleksnya meraih ponsel tiap beberapa menit. Duh!
Yah, aplikasi Whatsapp kan bukan hanya untuk satu orang "itu". Ada saatnya juga saya perlu menunggu kabar penting di Whatsapp—yang tentunya dari orang lain. Tak mungkin kan, menyenyapkan notifikasi!?
Kalau sudah begini, saya pun memilih memanfaatkan fitur Senyapkan notifikasi di Whatsapp secara selektif. Diskusi yang tak dikehendaki, tak akan muncul notifikasinya, baik dalam bentuk suara maupun teks. Meski kalau kita buka Whatsapp untuk membaca suatu pesan, mata kan tetap saja melihat pesan yang belum terbaca biar tak sepenuhnya? Termasuk pesan orang "itu". Ujian akan keistikomahan kita, ceritanya, tuh!
Tapi paling tidak itu bisa mengurangi tekanan batin akan pesan-pesan yang tak diinginkan. Penyenyapan demi menjaga kewarasan!
Kenapa tak diblok saja sekalian?
Ah, saya belum merasa perlu sampai segitunya. Saya hanya perlu menunggu sampai kalem saja. Kalau sudah kalem, ya teror pesannya, ya perasaan dan pikiran saya, saya hilangkan fitur Senyapkan notifikasi tadi.
Begitulah. Aksi kecil menyenyapkan notifikasi secara selektif itu terbukti membantu menjaga kewarasan saya!
Menjaga kewarasan? Ya!
Apakah sampai mengubah hidup? Tentu saja!
Mood kita memengaruhi segala aksi kita. Bahkan aksi orang-orang di sekitar kita. Dan apapun aksi kita, bakal ada efeknya ke kehidupan kan!? Aksi sekecil apapun.
Aksi menyenyapkan notifikasi pun begitu. Meski hanya sementara dalam kasus-kasus saya. Belum ada yang benar-benar sampai permanen. Dan semoga tak akan ada yang sampai ke sana ya!
Namun saya sendiri sudah biasa menyenyapkan notifikasi grup Whatsapp. Apalagi grup yang sebagian besar anggotanya berada di Indonesia. Yah, harap maklum. Grup yang begini biasanya lebih aktif di pagi hari, saat kami di Eropa sedang nyenyak-nyenyaknya! Nah, yang ini benar-benar langsung terasa mengubah hidup, sih! Hahaha.
Jadi, kalau ada pesan penting, japri saja ya. Jangan via grup, dengan tag sekalipun! Asal nggak nanya yang aneh-aneh atau jualan atau pinjam uang, nggak akan saya senyapkan secara selektif laaah! Dan tentu saja, kalau mengirim pesan sebelum tengah hari WIB, harap sabar menunggu sampai saya bangun untuk jawabannya ya! Hehehe.
---
Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup ini diusung oleh Mamah Host Shanty yang dengan baik hati mengizinkan saya menggunakan arsip diskusi Whatsapp kami sebagai ilustrasi. Dan tentu saja, selain untuk membuat ilustrasi itu, saya tidak pernah menyenyapkan Teh Shanty secara selektif ... sampai saat ini. Eh? Hihihihi.











Bener teh, aku pun sudah menerapkan mematikan notifikasi ini kayanya sudah hampir setahun. Memang bikin hidup lebih tenang. Waah teh Alfie mau mute teh Shanty kah? Hihi becanda teh :))
ReplyDeleteSama Teh. Aku nonaktifkan semua notifikasi kecuali aplikasi azan. HP itu sumber ketidakwarasan kalau semua hal dicek terus menerus 😆
ReplyDeleteTos sama nih teh Alfi.
ReplyDeleteAku buka wag kelas di pagi hari dan saat mengajar
Jadi mahasiswa yang wa after jam 5 sore. Bersabar tunggu besok pagi.