Mengapa Pulkam Pendek?

Kenapa mudiknya pendek sekali?

Begitu pertanyaan yang sering saya terima pada periode pulang kampung kali ini.

Memang, biasanya, paling tidak saya berada di Indonesia tiga minggu penuh. Kali ini, tiga minggunya masih dipotong waktu perjalanan, yang pulang pergi memakan praktis total 2 hari 2 malam. Tentu saja itu bukan yang kami inginkan.

Standar 3 minggu diambil berdasar jatah cuti Paksu, yang meskipun total ada 5 minggu per tahun, hanya boleh digunakan secara berturut-turut 3x5 hari kerja. Biasanya kami akali dengan mencari tanggal yang melewati akhir pekan dan/atau libur nasional. Nasionalnya Prancis, tentu saja. Dengan demikian, kami bisa mendapatkan "bonus" liburan tambahan dari 15 hari kerja tadi.

Kali ini ada faktor eksternal yang tak terduga....

Karena Butet sudah libur sejak April dan Butet mendapat undangan mengikuti 3 Days in Cannes di bulan Mei, kami berencana ke Indonesia bulan Juni. Harga tiket bulan Juni masih cukup murah. Belum masuk periode harga melonjak di puncak libur musim panas. Lagipula, Juli-Agustus Butet berniat mencoba kerja musiman.

Kami sudah melihat-lihat berbagai maskapai sejak awal bulan Februari. Sudah bersiap untuk membeli. Tinggal menunggu gajian untuk lebih menenangkan rekening hati. Dan terjadilah penyerangan di penghujung Februari!

Kami jadi urung. Kami biasa mengambil maskapai Timur Tengah. Pesawat yang kami naiki transit di daerah konflik yang menutup bandaranya. Beberapa situs penjualan tiket pun menutup penjualan. Yang lain memberi peringatan kemungkinan pembatalan penerbangan.

Kami menunggu-nunggu kabar perbaikan situasi. Butet sampai tak bisa menerima tawaran pekerjaan musim panas—yang meminta 2 bulan Juli-Agustus penuh—karenanya. Namun kemudian ternyata dia mendapatkan tiket kereta api gratis untuk keliling Eropa di bulan Juli yang membuat kami memantapkan untuk pulkam di bulan Agustus saja. Tak bisa lebih. Butet sudah harus kembali ke kampus 1 September!

Di situasi normal saja, harga tiket pesawat Agustus sangat tinggi. Semua negara Eropa masuk masa libur musim panas di bulan ini. Apalagi dalam kondisi konflik seperti saat ini.

Maskapai Timur Tengah belum sepenuhnya kembali beroperasi. Kami sendiri memilih maskapai Eropa untuk menghindari daerah konflik. Tentu saja ini membuat alternatif pilihan menyempit.

Kami pun mengambil tanggal keberangkatan dan tanggal kembali yang paling terjangkau oleh dana kami saja. Kebetulan kami mendapat tanggal yang sayangnya tak sampai 3 minggu itu. Geser sehari-dua maju atau mundur untuk mengais waktu, harga melonjak tak masuk akal.

Sempat terpikir untuk menunda kepulangan. Namun mengingat sudah tak ke tanah air tahun lalu, kami putuskan untuk tetap berangkat. Apalagi kita tak bisa tahu bagaimana kondisi tahun depan juga kan!? 

Begitulah ceritanya, mengapa kami pulkam kilat khusus di bulan Agustus tahun ini....


Comments

Popular posts from this blog

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi