Agenda yang Terlaksana

Banyak agenda tak terlaksana pada periode mudik kemarin. Agenda, berarti yang dianggap penting untuk dilaksanakan. Itu di luar bertemu dengan teman dan keluarga sangat besar. Bukan berarti mereka tak penting ya. Apa daya waktu yang memang tak memungkinkan saja.

Entah berapa "maaf" yang saya sampaikan selama dua minggu ini karenanya. Maaf tak bisa bertemu, juga maaf tak mengabari. Mengabari, untuk beberapa orang membawa tuntutan untuk bertemu. 

Saya memilih mengabari mereka yang lain. Mereka yang menanyakan apakah sempat dan meminta saling mengontak jika kebetulan sama-sama berada di suatu tempat. Mereka ini terbukti bisa memahami saat akhirnya kami belum berjodoh untuk bersua.

Ah, sudah lah. Sekarang mikirin yang positif saja. Mari kita mencatat hal-hal yang bisa saya capai selama liburan saja!

Singgah di Jakarta 

Dua tahun yang lalu, kami singgah di Jakarta sebelum bertemu dengan keluarga. Dan kami merasakan manfaatnya: kami sempat sedikit-banyak menghilangkan jetlag, plus sempat bersenang-senang sebelum ... ah, sudah lah! Hehehe.

Kali ini kami mengulang pattern yang sama.

Sampai Jakarta menjelang jam 8 malam, kami baru masuk hotel jam 10an. Kami hanya makan—terima kasih GoFood—bebersih, salat, lalu tidur.

Agenda-agenda di Jakarta sukses terlaksana: Jumat menemani Butet ke salon—bonus bertemu seorang adik, eks mahasiswi Prancis yang menyempatkan menyamperi saat jam istirahat makan siangnya; Sabtu makan siang di Surya Bendungan Hilir, naik Trans Jakarta (karena salah belok, niatnya menvoba MRT), ke Museum Nasional, lalu foto-foto di Bundaran HI; Minggu ice skating di MTA.

Ke Solo Dulu

Saya meminta ke Solo untuk membersamai ibu saat ulang tahunnya. Pada akhirnya tak ada yang benar-benar istimewa. Yang penting kami kumpul. Dan makan. Tak ada cerita mangan ra mangan sing penting ngumpul! Hahaha.

Di Solo saya dikunjungi sahabat SD yang kebetulan sedang ada keperluan di kota kami. Lalu ada sobat kuliah yang jauh-jauh menyetir dari Kediri, membawa sobat satu lagi yang datang khusus dari Lampung. Ah, senangnya.

Saya mengabari para sepupu via wag kalau kami tak sempat berkunjung-kunjung karena keterbatasan waktu. Dan mereka memahami.

Kami sempat nyekar bapak dan eyang-eyang, lalu sowan ke budhe di Jogja. Sebelum ke Bandung malamnya, pagi kami sowan ke om di Klaten.

Kami juga sempat membawa ibu ke Museum Keris dan Museum Tahir, meski ibu kebanyakan hanya duduk-duduk saja.

Ke Bandung Kemudian

Kami tiba di Bandung pas 17 Agustus. Adik-adik dan ponakan-ponakan sedang berkumpul di rumah mertua. Tak lama. Esoknya mereka sudah harus kembali beraktivitas.

Selasa, Kamis, dan Jumat Butet ice skating di PVJ, yang diikuti dengan jalan-jalan, tentunya! Kamisnya sekalian dimanfaatkan untuk bertemu mamah-mamah anggota Mamah Gajah Ngeblog. Selain itu saya memang tak banyak berkabar. Satu kawan yang saya kabari ternyata bersiap ke Jakarta dan kami sepakat untuk bertemu di sana saja dengan mengajak satu kawan lain.

Sabtu siang akhirnya bisa membawa mamah mertua makan siang di TSM. Sekalian kami mencari koper tambahan untuk kembali ke rantau. Meski tak banyak belanja-belanja, tetap saja bawaan kami membengkak! Hehehe.

Membawa Keponakan Jalan-jalan

Ini adalah alasan lain mengapa saya menjadwalkan ke Solo dulu sebelum ke Bandung: agar hari kejepit Maulid Nabi bisa bersama keluarga Bandung!

Kenapa tidak dengan keluarga Solo? Karena keponakan-keponakan di Solo tidak available. Satu di China, satu panitia PMB, satu jadi peserta PMB, satu di Tebuireng, satu di Gontor, tinggal satu yang masih di Solo. Insya Allah lain waktu gantian.

Bersama keluarga Bandung kami ke Jakarta mengunjungi Perpusnas dan naik ke Thamrin 9. Plus pada jalan-jalan malam ke Monas yang tidak saya ikuti karena menemani Butet yang sedang tidak sehat.

Malam pertama di Jakarta saya sempat bertemu beberapa kawan kuliah. Agak surprise karena ternyata tidak hanya dua kawan seperti yang saya pikirkan, tapi ada tujuh! Senang sekali bertemu mereka, yang ada yang sudah lebih dari 25 tahun tak bersua, meski tak bisa lama.

Malam kedua di Jakarta, seorang sahabat menemui saya di hotel. Kami mengobrol hingga lewat tengah malam. Sampai sopir GoCar menyapanya dengan "Selamat pagi". Heu ....

Man Purposes, God Disposes

Kami berpisah dengan keluarga Bandung di hotel. Jadwal kereta api mereka jelang jam 2 siang. Kami sendiri harus ke bandara karena pesawat kami dijadwalkan jam 5 sore.

Ada kebahagiaan berhasil mengumpulkan semua bertamasya bersama. Ada keputusasaan atas agenda yang tak terlaksana. Akan oleh-oleh yang tak sempat terbeli, akan hidangan yang yak sempat disantap. Eh? Hehehe.

Tapi apa daya. 

Fokus pada yang sudah bisa tercapai dan syukuri, ya! Insya Allah....


Comments

Popular posts from this blog

Blogger Curcoler? Yes!

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo