Museum Indonesia 2026
Tentu saja kami tak hanya ke mal selama di Indonesia! Hehehe.
Kami sempat mengunjungi museum-museum yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya di tiap kota yang kami singgahi. Kecuali Bandung.
Museum Nasional
Saat ke Indonesia 2024 lalu, kami sudah ingin mengunjungi museum ini. Sayangnya, waktu itu Museum Nasional sedang ditutup untuk renovasi setelah terjadinya musibah kebakaran. Karenanya, Museum Nasional jadi satu target kunjungan kami saat di Jakarta.
Untuk ke museum ini kami menggunakan bus Trans Jakarta. Terima kasih untuk kakak petugas di halte Bendungan Hilir yang telah sabar menjelaskan moda pembayaran, juga "Mas Pisang" yang memecah uang kami sehingga kami bisa membeli kartu Jaklingo tanpa menggunakan Qris ataupun e-money.
Saat kami ke sana 8 Agustus itu, Museum Nasional ramai sekali. Maklum, Sabtu ya. Kami agak susah menjelajahi, apalagi dengan pengunjung yang berfoto di sana-sini.
Entah karena perasaan kekurangnyamanan berkunjung itu tadi, masih adanya pekerjaan renovasi di berbagai lokasi, atau memang penataan yang kurang pas, saya tak menangkap alur sejarah Indonesia seperti yang saya harapkan pada sebuah museum nasional. Sepertinya saya harus ke sana lagi, suatu saat renovasi sudah rampung sepenuhnya.
Museum Keris
Museum Keris Solo jadi target kunjungan, salah satunya dalam rangka pencarian objek gambar untuk Butet. Dia memang sudah pernah memasukkan keris sebagai bahan tugas kuliahnya. Saat itu referensinya hanya foto di internet. Kali ini dia ingin melihat langsung.
Kami sudah sempat ke Museum Keris di awal pembukaannya dulu. Butet masih kecil. Sudah tak banyak memori tertinggal. Kali ini dia bisa mengamati satu per satu, memindai qr code untuk membaca penjelasan dalam bahasa Inggris. Tiket masuknya masih tetap hanya 10 ribu!
Kami bisa mengunjungi museum dengan nyaman. Sepi. Mungkin karena Jumat. Saya menemani Butet menggambar sementara papa dan eyang-eyangnya pulang menjelang jam salat Jumat.
Museum Radya Pustaka
Kami tak berencana ke museum ini. Dari Museum Keris, kami berjalan kaki menuju Museum Batik Danar Hadi ... untuk makan siang! Butet tak mau masuk karena museum batik ini hanya bisa dikunjungi secara berkelompok dengan pemandu. Bukan hanya soal bahasa, tapi soal pewaktuan yang terbatas yang tak memungkinkan untuk menggambar.
Untuk ke Museum Batik itu, kami melewati Museum Radya Pustaka. Kami ke sana sesudah makan siang. Museum yang dikelola Pemda Surakarta ini memasang tiket masuk 10 ribu saja per orang.
Museum tertua di Indonesia ini ... memang tua! Rasanya tak ada perubahan dari saat kami mengunjunginya waktu Butet kecil. Atau waktu saya kecil! Hihihi. Temboknya tetap putih dengan kayu-kayu biru yang sama, lantainya tetap ubin tua yang makin usang saja.
Ada banyak benda menarik di sana. Sayangnya keterangannya tak rinci. "Keris", "tombak", "mangkuk", ... ya itu mah saya juga tau. Tak dijelaskan asal-usulnya, terbuat dari apa, ...
Hanya ada sedikit koleksi yang dipasangi keterangan dalam bahasa Inggris. Walhasil, kami tak lama di sana karena ... yah, tak mengerti!
Tak ada pengunjung selain kami di museum ini. Tapi ada banyak orang di sana. Saya duga para mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan mencari referensi.
Museum Tahir
Museum ini baru saja diresmikan di Solo. Promosinya gencar, paling tidak di feed instagram saya. Hehehe. Bangunannya megah. Membuat penasaran. Apalagi dipamerkan fosil asli dinosaurus pinjaman dari Tiongkok sampai awal September saja!
Untuk masuk ke museum yang dikelola swasta ini, pengunjung umum dikenai biaya 50 ribu rupiah. 30 ribu saja untuk pelajar.
Ternyata tak cuma fosil yang dari Tiongkok. Keseluruhan pameran berdasar ke sana. Replika pesawat ulang-aliknya, stasiun luar angkasanya, pakaian astronot taikonotnya, ...
Museum ini saya rasa menarik untuk anak-anak. Ada banyak permainan sains yang bisa dicoba di satu lantai khusus. Untuk anak remaja rasanya sudah terlalu mudah untuk diajari tentang lapisan bumi dan tata surya.
Saya penasaran, apa yang akan dipamerkan di sana saat pinjaman fosil aslinya harus dikembalikan ke negaranya.
Monumen Lainnya
Tadinya saya berencana ke Museum ITB saat di Bandung. Namun kemudian sulit mencari waktu. Dilihat dari tujuan ke museum untuk mencari objek gambar juga rasanya kurang mendorong ke sana. Ya sudah lah. Mungkin lain waktu.
Selain museum-museum tadi, kami sempat mengunjungi Perpustakaan Nasional meski hanya lantai 21, 24, dan tentu saja 4 untuk makan, naik ke puncak Thamrin 9, ... dan Balai Soedjatmoko? Heu ... itu sih Gramedia Solo! Hahaha....
Comments
Post a Comment