Pertama ke Dokter Sendiri

Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya Butet ke dokter sendirian. Dokter mata. Biasanya saya selalu menemaninya. Kali ini tak mungkin.

Dari pengalaman sakit punggung akibat jatuh saat main ice skating, mencari dokter umum saja sulit sekali, di Valenciennes. Apalagi spesialis mata! Karenanya, meski sudah mencari sejak saya masih di Valenciennes, baru kemarin ini janji temunya.

Sejak kembali dari Indonesia, Butet mengeluh matanya kering. Lalu dia mendapati ada bintil di kelopak bawah mata kanannya. Sebelumnya sudah pernah dapat juga dan hilang sendiri. Kali ini saya minta dia langsung membuat janji temu, mengingat susahnya mendapat slot dokter mata. Kalau kemudian ternyata bintilnya hilang ya syukur. Janji temu kan masih bisa dibatalkan.

Mencari dokter makin sulit dengan kriteria harus di luar jam kuliah. Kebanyakan jam praktek dokter di yang ada di platform Doctolib sama dengan jam kerja. Jarang sekali yang buka Sabtu. Atau yah, sudah penuh dan harus menunggu minimal 2 bulan! 

Dari pecarian Google, ada beberapa dokter mata yang tak masuk dalam platform Doctolib. Namun Butet tak mau repot menelepon satu per satu. Apalagi melihat ratingnya yang tidak meyakinkan. Juga dari komentar-komentar yang ada. 

Butet menemukan satu slot dokter mata hari Sabtu yang tercepat: kemarin itu. Dokter yang praktek di sebuah pusat oftalmologi di pusat kota. Platform tidak menjelaskan siapa. Yah, yang penting dapet dulu lah!

Janji temu jam 12 siang sebenarnya bukan ideal. Butet biasa belanja mingguan hari Sabtu jam 11-an. Ada agenda pertemuan perkenalan dengan mahasiswa lintas angkatan jurusan Animasi 3D siang itu—yang Butet masih ragu mau ikut atau tidak. Tapi apa boleh buat.  

Hari janji temu pun tiba.

Butet sudah menyiapkan carte vitale (semacam BPJS, kartu jaminan kesehatan)-nya. Dia juga sudah meminta saya mengirimkan surat asuransi kesehatan tambahan dari kantor papanya (karena jaminan kesehatan nasional tidak mencakup keseluruhan biaya periksa dokter di luar rumah sakit pemerintah) dan resep kacamata yang diperoleh dari dokter mata di Cannes sebelumnya. Eh, dia salah melihat jadwal tram dan terlambat sampai tujuan.

Saya tenangkan Butet yang panik. Paling buruk konsekuensinya adalah ditolak dan harus membuat janji temu lagi. Tapi standarnya tak akan diterima pada jam janjian karena pasti ada antrian.

Dan benar saja. Meski tak lama, tetap saja ada periode menunggu. Butet bahkan dipanggil lebih dulu ketimbang salah satu pasien yang sudah menunggu sebelumnya. Entah mengapa.

Butet cerita bahwa personil yang menerimanya ramah. Demikian pula asisten yang memeriksa pengelihatannya. Sayangnya, tidak demikian dengan dokternya sendiri!

Seorang dokter muda menerima Butet dengan pakaian yang sangat santai. Tidak mengenakan blus putih seperti standar dokter yang biasa kami temui. Sang dokter tidak banyak bertanya. Pertanyaan yang diajukan tidak sesuai dengan informasi yang telah diberikan Butet sebelumnya baik di resepsionis maupun saat pemeriksaan pengelihatan.

Di akhir konsultasi yang kilat, dokter tidak memberikan obat atau memberi rekomendasi apapun untuk bintil di kelopak matanya. Dia malah meminta Butet untuk mencari sendiri dengan bantuan Google atau Youtube mengenai memijat mata untuk mengurangi iritasi! Lah??? 

Butet yang sudah merasa kurang nyaman dengan Pak Dokter, makin malas mengobrol karena beliau terlihat tak mahir mengoperasikan alat-alat pemeriksaan pengelihatan. Belum lagi soal bahwa Butet tak melihat proses desinfektasi tangan dan perlengkapannya.

Saat Pak Dokter mengucapkan sampai bertemu pada konsultasi setahun lagi, Butet hanya menjawab dengan terima kasih dan selamat tinggal.

Keluar dari gedung pusat oftalmologie, Butet langsung menelepon dan menceritakan itu semua. Singkatnya, Butet tak mau lagi ke sana! Apalagi saat melihat bahwa kop kertas di mana dicetak resep kacamatanya menggunakan nama yang berbeda dengan dokter yang bertanda tangan. 

Jadi, siapa dokter muda tadi?

Dokter pengganti? Koas?

Memang itu resiko berkonsultasi ke pusat kesehatan: belum tentu kita diterima oleh dokter "betulan". Bisa jadi dokter pengganti atau malah koas. Demikian juga di rumah sakit kan ya!?

Saya minta Butet mengambil kejadian itu sebagai pengalaman. Saya sarankan untuk segera membuat janji temu dengan dokter lain lagi, yang jelas-jelas memiliki tempat praktek sendiri. Tak apa menunggu lama. Kan nanti bisa dibatalkan, kalau memang ternyata sudah merasa tak perlu.

Namun Butet tak mau. Dia yang masih mode emosi, merajuk memilih menunggu periode liburan saja untuk ke dokter di Cannes ... dengan saya temani!

Hahaha ....


Comments

Popular posts from this blog

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Blogger Curcoler? Yes!

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo