Aku dan Senyum

"Bar nikah Mbak Alfi ketok tambah sumringah lho!" Bulik Ning menyenggolku.

"Iyo. Dadi grapyak!" Om Sugeng menambahi.

Aku senyum-senyum saja waktu itu. Antara malu-malu kucing, sekaligus benar-benar malu diingatkan akan masa kecilku yang anti sosial.

default = cemberut

Alfi kecil adalah si Kutu Buku. Semua orang mengenaliku sebagai anak yang membawa buku ke di berbagai suasana, lalu mojok membaca, tak berbaur dengan lainnya. Anak yang mengaum kalau ditegur, diminta meletakkan bukunya, kemudian datang bergabung ogah-ogahan dengan wajah cemberut, nyata karena terpaksa.

Saat kuliah, teman-temanku melabeliku sebagai seseorang dengan default = cemberut. Perlu dilakukan aksi untuk membuat ekspresi wajahku berubah. Tak harus sampai tertawa, untuk netral pun juga harus ada usaha! Kata mereka, algoritma ini sangat sulit dieksekusi: 

Algoritma membuat_alfi_tersenyum:
Initial State: cemberut
Final State: tersenyum

Padahal sebenarnya tidak demikian. Sekali dicolek, ekspresi wajahku sudah bisa berubah, kok! Mohon maaf saja kalau bentuk wajahku dulu begitu.

Seorang teman mengungkapkan, "Alfi itu, pandangan pertama memang menakutkan. Tapi ternyata asik diajak ngobrol, kok!" 

Itu dikatakannya dalam kehadiranku. Dan kami tertawa bersama.

Sebelumnya, aku sendiri tak membayangkan akan bisa akrab dengannya yang begitu modis dan gaul. Namun seperti halnya yang dia katakan: aku sendiri baru menyadari bahwa setelah mengenalnya, ternyata kami nyambung-nyambung saja. Bahkan dia adalah satu dari sedikit yang benar-benar menjaga kontak saat aku mulai merantau.

Senyum sebagai Senjata

Merantau ke Prancis, ceritanya lain lagi. Aku jadi jauh lebih banyak senyum. Bahkan pernah ditegur orang, "Et vous, vous souriez toujours?"

Ceritanya saat itu kami sedang di halte, menunggu bus yang jelas-jelas terlambat. Beberapa calon penumpang sudah mulai mengomel. Raler! Khas orang Prancis! Karenanya, mereka mungkin menganggapku aneh, senyum-senyum dalam suasana seperti itu.

Bukan aneh ajaib atau ganjil, ya! Aneh, tidak biasa saja. Saat itu aku bersama si Ucok kecil. Mereka pasti berpikir bahwa aku berusaha tenang untuk tidak membuat khawatir anakku.

Halte bus ini hanya ilustrasi saja

Mereka tak sadar bahwa senyum adalah senjataku saat tak tahu mau bilang apa. Tak tahu karena bingung, atau tak tahu karena tak berhasil memahami kalimat dalam bahasa Prancis mereka yang terlalu cepat untukku saat itu.

Kalau sekarang sih, aku sudah mahir diajak ngomel. Tapi aku tetap bertahan tak mengeluarkan kata makian yang sudah jadi kelumrahan di Prancis. Dan ... tetap diiringi senyum! Eh? Hehehe.

Relatif

Kalau kata Kak Risna, dulu aku lebih suka cemberut karena dikelilingi orang Indonesia yang terlalu ramah. Saking "ramah"-nya sampai bikin kesel. Kalau di Prancis kan orang-orangnya lebih kaku. Jadi untuk ukuran Prancis aku sudah termasuk murah senyum, meski sebenarnya aku nggak sebanyak senyum itu.

Jadi, relatif, ya!? Bisa jadi sih!

Halte bus yang sama dengan foto sebelumnya dari sudut pandang dan waktu yang berbeda. Masih sekedar ilustrasi saja

Kalau kebiasaan senyumku di Prancis terbawa sampai saat kembali ke Indonesia, bukan berarti lalu aku jadi se-sumringah dan se-grapyak itu. Komentar om dan bulikku tadi hanyalah perbandingan, relatif antara aku dulu dan aku sekarang. 

Membawa Bahagia

Namun Om Sugeng dan Bulik Ning benar: aku memang lebih sumringah dan lebih grapyak. Lebih bahagia. Setelah menikah? Setelah merantau? Setelah punya anak?

Atau setelah terbiasa banyak senyum?

Kebetulan belum lama ini aku membaca buku Marigold Mind Laundry karya Jungeun Yun yang diterjemahkan oleh Shanna Tan dalam bahasa Inggris. Dari sana aku mencatat kutipan ini:

The human brain is naive. It can’t distinguish between real and imaginary happiness. As long as you smile, your brain will process that as happiness. 
(Chapter IV, page 79)

Nah!

Dalam Islam pun dituntunkan bahwa senyum adalah sedekah (H.R. Tirmidzi).

Yuk yuk, lebih banyak tersenyum. Asal bukan saat membuat foto identitas saja, ya!



Catatan:

  • Bar nikah Mbak Alfi ketok tambah sumringah, lho!: Sesudah menikah, Mbak Alfi terlihat  tambah murah senyum, lho!
  • Iyo. Dadi grapyak!: Iya. Jadi ramah (suka bergaul)!
  • Et vous, vous souriez toujours?: Dan Anda tetap tersenyum (dalam situasi seperti ini)?

---

Tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Marert 2026 dengan tema Aku Dulu vs Aku Sekarang yang diusung oleh Mamah Host Ririn.



Comments

  1. Awas! Jangan senyum-senyum sendiri... ^^

    ReplyDelete
  2. Kebayang teh Alfi itu kayak Teteh, anakku yang pemalu jaman cilik susah kali senyum atau berbaur dengan orang baru.

    Aku sampai harus kossul psikolog, ini kudu kumaha? Hehehe....

    Semangat menebar senyum ya Teh

    ReplyDelete
  3. Cemberut karena di sekitar udah terlalu ramah :)) maksudnya mungkin annoying ya tuh karena kebanyakan diramahin. Atau mungkin terlalu banyak basa-basi ya teh

    ReplyDelete
  4. Waah semangat menebar senyumm 🤗

    ReplyDelete
  5. Dulu, waktu aku kecil juga kikuk banget kalau ikut kumpul-kumpul keluarga. Cuma duduk diem, gak ngomong apa-apa. Kalau di kasus Teh Alfi jadi keliatannya cemberut, di aku malah keliatan bengong wkwkwk

    Menikah, punya anak, merantau => buatku jadi dinamika kehidupan yang banyak mengubah sikap dan membantuku jadi lebih luwes dalam bersosialisasi. Relate banget sama pengalaman Teh Alfi :D

    ReplyDelete
  6. Mba Alfi.... default-nya cemberut? Iyakah? Rasanya aku gak percaya ahahaha. Pasalnya beberapa kali lihat wajah Teteh di ZOOM, gak pernah cemberut. Pun kalo baca isi chat di WA, yang terbayang di otakku adalah Mba Alfi ngetiknya sambil senyum ehehe. Eh iya deng, default cemberut Mba Alfi kan pas dulu ya. Sekarang sudah grapyak ehehe.

    Senyuuuummmmm...

    ReplyDelete
  7. Saya kecil suka disebut "perengut" di rumah. Ya gitu mgkn wajah saya kalau diam kayak orang marah. Padahal saya itu diam karena mikir dan ngamatin. Kalau dituduh negatif gitu siapa yg gak kesel

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi