Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang
Akhirnya Rabu sore ini saya memilih absen ke kursus bahasa Jepang lagi. Saya absen tadarus dan menyimak kajian Rabu pagi sambil baringan. Makan siang pun kembali memanfaatkan layanan pesan antar. Rasanya terlalu maksa kalau saya malah tetap pergi kursus.
Meski sudah jauh lebih enak, nafas saya masih berat. Badan masih lekas lelah. Narasi kyō, musume ga ie ni kaerimashita dari Rabu lalu yang sudah saya siapkan adaptasinya dengan mengganti kyō menjadi senshū no suiyōbi pun batal saya presentasikan.
Cukup berat untuk absen lagi. Mengingat bahwa Rabu ini merupakan kursus terakhir sebelum masuk periode libur musim semi selama dua minggu ke depan. Total, saya tidak kursus 4 minggu berturut-turut sebelum masuk lagi 29 April nanti. Insya Allah. Semoga sehat, aamiin.
Sambil memasak ayam oven untuk makan malam, saya membuka-buka bahan pelajaran sebelumnya. Bukan, bukan untuk belajar. Saya ingin menyusun kertas-kertas fotokopian dan catatan yang masih lepas ke dalam binder. Saya jadi teringat akan satu materi beberapa waktu lalu.
Saat itu, kami membahas tentang penggunaan ~ことはない yang kurang lebih maknanya saya tangkap sebagai "nggak perlu ~", "nggak usah ~ lah", "nggak ada gunanya ~", gitu. Dengan ~ adalah verba. Kami pun diminta untuk melanjutkan kalimat dalam latihan soal.
Pada soal ノートなら、机の中を探せば絶対あるから、わざわざ___ことはなかったのに。(mengenai buku catatan, aku yakin kau bisa menemukannya di laci meja, jadi kau tak perlu sampai ___) rekan saya yang kebagian giliran menjawab mengusulkan isian hoka no noto o kau (membeli buku catatan baru). Hohooo, ide bagus, pikir saya.
Namun saya terpikir hal lain dan mengusulkan denwa suru (menelepon). Seorang teman yang ibu-ibu sepantaran saya langsung membelalakkan mata dengan ekspresi "a ha!" (heu, susah mendeskripsikannya) dan menyahut, "Bener banget itu!"
Dan mengalirlah obrolan seru. Kelas yang waktu itu dihadiri empat ibu-ibu plus sensei dan dua bapak-bapak—peserta-peserta mudanya sudah berguguran—berbagi pengalaman tentang anak-anak yang menelepon saat kehilangan barang pada saat kami tidak sedang berada di tempat.
Saya sendiri terpikir akan contoh itu karena teringat suatu hari Butet menelepon "tidak pada waktunya". Saat saya tanya kenapa, kok tumben, dia menjawab karena kehilangan sesuatu. Jelas saja saya tertawa. Dia di Valenciennes, saya di Cannes. Kami berjarak 1000 km. Bagaimana saya bisa membantu?
Dengan santainya dia berargumen kalau biasanya, hanya dengan menanyakan di mana barang yang dicarinya ke saya, sudah cukup untuk membuatnya menemukan barangnya. Tanpa menunggu jawaban saya sekalipun! Karenanya, mustinya menelepon saja pun cukup.
Dan memang, dia bisa menemukan yang dicarinya selama kami bertelepon itu!
Dan itu terjadi tidak hanya sekali!
Dan rupanya, teman-teman kursus saya pun mengalaminya!
Memang sudah jadi rahasia umum sih ya, kesaktian emak-emak dalam menemukan barang hilang. Atau di sisi lain, bahwa barang-barang sedemikian segannya pada emak-emak, sehingga mereka yang ingin sembunyi pun memunculkan diri saat emak ikut turun tangan mencari! Hahaha.
Saya sempat membaca komik pendek soal itu. Di Facebook, kalau tidak salah. Sayang sekali saya belum berhasil menemukannya kembali sampai saat menulis ini.
Kesaktian saya sepertinya ada di level yang lebih tinggi. Cukup ditelepon, tak perlu ikut mencari, barang pun muncul sendiri!
Beberapa kali kejadian malah Butet cukup menulis pesan Whatsapp dan berhasil menemukan yang dicarinya, bahkan tanpa saya sempat membacanya! Saya hanya menemukan pesan yang dihapus. Saat saya tanya menulis pesan apa sebelumnya, dia menjawab, "Sudah ketemu!" Lah??? Hahaha.
Mamah-mamah sendiri bagaimana? Di tingkat mana kesaktian mamah dalam menemukan barang yang hilang?
P.S.: Semua tulisan dalam kana dan kanji adalah hasil capture Google Lens dari materi kursus. Saya pribadi masih menggunakan romaji karena belum bisa mengejar kecepatan pelajaran. Hehehe.
Harap maklum jika ada kesalahan penulisan dan/atau penerjemahan kata/kalimat dalam bahasa Jepang. Bisa jadi lost in translation karena tentu saja saya kursus dengan bahasa Prancis sebagai pengantar, atau bisa jadi juga memang sayanya yang pada dasarnya salah tangkap. Heu .... Jangan sungkan untuk mengoreksinya di kolom komentar, ya!
---
Tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April 2026 dengan tema Cerita Random yang diusung oleh Mamah Host Lenny.






わざわざ世界中に知らせることなかったのに (waza-waza sekai juu ni shiraseru koto nakatta no ni)....repot-repot beru tahu ke seantero dunia segala! Haha....ini sih lebay banget ya. Pasti gak ada yang ketawa deh..
ReplyDeleteBelum sampe situ kosa kata kami, deh! Hahaha ✌️
DeleteHaha, ini ternyata universal ya Teh. Sama lho, ini anak sama suami ku sama aja, nyari barang repot sendiri, dan bener harus whatsapp dulu baru ketemu
ReplyDeleteNah kaaan. Terbukti! Hahaha 😂
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteUu どこで日本語を勉強しているですか?楽しそうですね!フランス語も話せるですね。すごい!ماشاءالله! 😍
ReplyDeleteAlhamdulillah. Watashi wa Furansu ni 25-nenkan sunde imasu 😉
DeleteAku baca artikel teh Alfi, auto kepo ... Open G-Map: copas nama kota tempat kuliah Butet dan kota tempat tinggal teh Alfi. Wow .... Benar 1.000 km lebih. Jawaban dengan menelepon itu relate banget.
ReplyDeleteJadi ingat pas lagi di luar kota, beberapa kali dapat wa atau telpon dari anak atau suami, bertanya soal di mana barang yang sedang di cari?
Yes, satu lagi! Hihihi 😁
DeleteKayanya levelku belum sampai setinggi teh Alfi. Mungkin karena mager aku suka biarin cari sendiri dulu, haha..
ReplyDeleteKayanya teh itu anak-anak modal nanya doang udah ketemu cuma kaya perasaan 'harus nanya Ibu dulu, nanti ketemu' mungkin ya??
Perlu dukungan moral aja, kayaknya mereka 🤔🤭🤭
DeleteWah seru Teh, belajar bahasa Jepang pakai pengantar bahasa Perancis 😄
ReplyDeleteDisuruh nyariin barang itu salah satu request yang paling sering aku tolak hahaha. Kalau anakku minta, aku suruh dia cari sendiri. Kalau sampai merengek, aku ancam, "Hayo, kalau Mama nemuin barangnya duluan, Mama gelitikin sampai nangis" Wkwkwk
Itu masih soft. Kl aku dah di tahap "kalau mama duluan yang nemu di tempatnya, mama buang!" 😈😈 Tapi anak2ku dah gede2 sih 😁✌️
DeleteTeh Alfi, sakit apa? Semoga per hari ini sudah sehat dan bugar ya Teh. Wah keren dan produktif, Teh Alfi menambahkan sesi belajar bahasa Jepang dalam kesehariannya.
ReplyDeleteSemoga lancar selalu aktivitasnya ya, Teh.
ini relate banget Teh, kalau ada barang yang raib di rumah, pasti ibu yang harus turun tangan biar ketemu. tapi... aku sendiri sering lupa naruh barangku dimana seperti hp, ikat rambut, smartband sampe suami terheran-heran barang itu terus yang nyelip
ReplyDelete