Bule Bernama Yanto

Selain empat film pendek yang masuk dalam program Next Step Studio, ada satu lagi film pendek "Indonesia" yang masuk dalam seleksi Semaine de la Critics (Critics' Week): „Vaterland“ oder Ein Bule Namens Yanto ("Vaterland" or A Bule Named Yanto). 

Indonesia dengan tanda petik, karena film ini merupakan hasil produksi Madfilms Jerman yang bekerja sama dengan Alergikerfilm Jerman serta Aftersun Creative Indonesia. Sutradaranya sendiri, Berthold Wahjudi, berdarah campuran Indonesia—Jerman.

Euh.... Kok saya jadi ikut mengilustrasi kisah dikotomi dalam filmnya ya?

Dua Identitas

Menceritakan tentang Yanto (diperankan oleh Aggai Saibuma), pemuda berdarah Indonesia—Jerman yang tinggal di Munchen. Dia mengunjungi adiknya, Sara (Sarah Muckarin Röser), yang berkuliah di Jogja.

Yanto yang masih saja dipandang imigran di Jerman, dilihat sebagai turis asing di mata orang Indonesia. Di Jogja, Yanto melihat adiknya bisa membaur dengan baik dengan penduduk setempat, tak dipandang bule sepertinya.

Meski tetap aktif berinteraksi dengan keluarga dan penduduk setempat, Yanto melalui hari-harinya di Indonesia dengan banyak diam. Selain karena kemampuan bahasa Indonesianya yang terbatas, dia berpikir tentang identitasnya sendiri. Terutama saat dia berkunjung ke rumah Bulik Rini, adik dari bapaknya, dan melihat foto-foto yang dipajang di dinding rumahnya. 

Tiket Keberuntungan

Saya mendapatkan tiket untuk menonton film ini dengan keberuntungan besar. Seperti screening Semaine dela Critics lainnya, tiket untuk Grand Public hanya tersedia jika ada sisa dari para profesional. Screening film pendek yang tergabung dalam Short Films 02 mencakup 5 film. Dengan 5 kubu suporter yang berebut mendapatkan tiketnya, jelas persaingan lebih ketat.

Selasa itu saya hanya memiliki agenda screening sore pukul 17 bersama Butet. Screening Short Films 02 dijadwalkan pukul 14.30. Jelas tak bisa last minute secara harfiah seperti saat menonton film-film pendek Indonesia di mana kami sudah praktis berada di tempat. Secara untuk menuju lokasi, dari rumah memerlukan perjalanan 20 menit sedangkan penonton harus datang 40 menit sebelumnya. Tapi saya tak mau menunggu untuk kemudian tak mendapatkan tiket juga.

Saat pertama mendapati ada tiket tersedia, saya tak langsung mengambilnya. Ragu. Namun Butet mendorong untuk mengambil saja kalau tersedia lagi. Karena tentu saja, tiket yang pertama tadi langsung lenyap saat saya tinggal pertimbangan dengan Butet.

Ketika akhirnya saya berhasil mendapatkannya, saya ragu apakah akan tetap pergi sendiri kalau Butet tak mendapatkan tiket. Ternyata Butet sendiri kurang berniat. Dia tak mau mencari-cari (dengan me-refresh website online ticketing) seperti biasanya.

Saya sendiri menyimpan keraguan lain untuk menonton. Dari 5 film dalam Shorts Films 02 ini, ada satu film yang mengandung tema yang tidak cocok dengan prinsip saya. Namun saya tetap berangkat. Penasaran dengan Yanto. Dan saya tak menyesal. Meski banyak merem di film pendek kedua (heuuu). 

Relate

Dari awal film, saya langsung merasa relate dengan Yanto. Saya mengerti benar apa yang dirasakannya, meski saya bukan keturunan campuran. Saya memprojeksikan perjalanan Yanto ke anak-anak saya, yang bukan keturunan campuran juga. Hehehe. 

Seperti Yanto, keluarga selalu menyiapkan tisu toilet saat kami berkunjung. Padahal seperti Yanto, kami juga sudah biasa menggunakan bidet. 

Karena tak mahir berbahasa Indonesia, anak-anak saya sempat beberapa kali dikira bule saat mudik. Apalagi karena di Butet berkulit cukup terang dan saat si Ucok berambut merah. Dan saya yang menemani mereka dianggap guide belaka! Hahaha.

Banyak hal yang saya merasa cocok. Beberapa saya rasa agak berlebihan. Seperti kontrol militer di dalam kereta yang alhamdulillah kami belum pernah mengalami dan belum pernah menyaksikan. Tapi mungkin memang jamak terjadi di Jerman? Entahlah.

Saat Yanto diminta berfoto dengan anak-anak SD juga saya rasa karikatural. Kalau di kampung-kampung, memang mungkin masih begitu. Kalau di sekitaran keraton Jogja, dengan bule yang bertebaran, masihkah begitu?

Paling Ng-Indonesia

Di antara yang ditampilkan di Cannes 2026, menurut saya, film ini adalah yang paling ng-Indonesia. Pemandangan Jogja, stasiunnya, perkampungannya, keseharian penduduknya, Merapi-Merbabunya, membuat saya kangen kampung halaman saya di Jawa Tengah. Apalagi timpalan bahasa Jawa di sana-sini.

Judul utama dan judul-judul bab yang membagi filmnya—dalam 3 bagian, kalau saya tak salah ingat—, selain dituliskan dalam bahasa Jerman dan bahasa Inggris, ada bahasa Jawanya juga. Dengan aksara Jawa! Dan saya tergemas, putus asa karena tak berhasil membacanya! Tapi memang sebagian tertutup sih (alasan!). 

Film ini ditayangkan dengan takarir bahasa Prancis dan bahasa Inggris. Beberapa ucapan dalam bahasa Jawa tidak diterjemahkan. Karenanya, saya rasa, saya adalah satu di antara sedikit penonton yang bisa 100% menikmati filmnya! Hihihi.

Karenanya, meski tidak bisa dibilang sepenuhnya mewakili nama Indonesia, saya turut bangga saat mendengar bahwa film ini meraih penghargaan Canal+ Award untuk film pendek.

Sambil berharap, semoga ke depannya makin banyak film Indonesia (dan "Indonesia") yang menampilkan warna Indonesia yang sebenarnya, seperti film ini.


Comments

Popular posts from this blog

Berbagai Hidangan Kambing Khas Solo

Tanpa Internet? Bisakah?

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi