Heatwave Akhir Mei 2026
Sudah sejak hari Minggu yang lalu, Prancis panas sekali. Suhu udara jauh di atas rata-rata normal akhir Mei. Panas datang, pas sesudah Festival Film usai.
Sudah jadi candaan berulang bahwa tiap kali Festival, cuaca di Cannes berhujan. Yang biasanya sudah cerah hangat sejak akhir Maret, tau-tau mendung dingin begitu karpet merah digelar. Tak jarang acara montée des marches di bawah gerimis, bahkan hujan.
Tahun ini berbeda. Sepanjang Festival, Cannes kering kerontang. Udara hangat, cuaca cerah. Seakan menyambut si Butet, mempersilakannya menikmati Festival pertamanya dengan nyaman dan tenang. Dan saya yang menunggunya pulang malam juga tenang.
![]() |
| Pertambahan suhu hari ini dibanding rata-rata normal |
Hari Minggu saya masih keluar bersama Paksu. Berjalan kaki ke pasar, seperti biasa di akhur pekan. Kami keluar jam 10 dan sudah merasa kepanasan. Tapi kami tetap semangat pulang berjalan kaki. Meski kami melipir, memilih sisi jalan yang terlindung keteduhan bayangan gedung-gedung.
Malamnya Butet dan Paksu menonton screening spesial pemenang Palme d'Or di Grand Theatre Lumiere. Kebetulan ada teman college Butet yang memiliki ekstra tiket dari ayahnya yang bekerja di kantor walikota Cannes. Secara memang screening itu spesial untuk penduduk Cannes sedangkan kami di Cannes coret. Kebetulan juga Butet tidak berkesempatan menonton Fjord selama 3 Jours à Cannes-nya.
Tapi tidak. Kali ini pun—seperti saat 3 Jours à Cannes—Butet tak mau membuat foto di karpet merah. Dia tetap lebih memprioritaskan cepat-cepat masuk Palais untuk bisa memilih tempat duduk yang nyaman!
Senin siang saya mengantar Butet kontrol ke dokter gigi. Hari Pentakosta adalah hari setengah libur. Penjelasannya panjang. Lain waktu lagi saja, atau silakan googling. Bus menggunakan jadwal Sabtu. Kami memilih berangkat berjalan kaki. Kami baru bertemu bus saat menjelang sampai tujuan. Hanya 1 km, tapi jalan menanjak.
Pulangnya yang menurun, kami memilih sisi yang teduh. Saya sempatkan sekalian ke boucherie. Apalagi diramalkan suhu udara akan makin tinggi.
Mulai Selasa memang terasa sekali. Setiap habis Zuhur, tenaga seakan menguap karena panasnya cuaca. Bergerak sedikit saja sudah bersimbah keringat. Mandi jadi 3 kali sehari. Padahal biasanya cuma sekali. Heu... Hihihihi.
![]() |
| Pertambahan suhu di Prancis bagian utara lebih parah, termasuk di kota rantau Butet, Valenciennes |
Selasa itu sebenarnya Butet mengusulkan untuk ke bioskop. Dia penasaran dengan Bitter Christmas-nya Pedro Almodovar yang masuk dalam seleksi resmi dalam kompetisi Festival 2026 yang lalu dan tak sempat ditontonnya. Namun kami tunda. Papanya juga tertarik. Kami pun memutuskan menonton Sabtu. Dengan syarat bahwa cuaca tidak terlalu panas.
Hari Jumat, suhu merendah. Diramalkan hujan, tapi tak terlihat turun. Mungkin di daerah pegunungan sana. Kami tetap tak berani memesan tiket. Takutnya cuaca terlalu panas dan kami batal keluar. Tapi kami tetap membeli Ciné Cheque, semacam voucher diskon untuk tiket bioskop. Dari 13,5€ ke 6,95€ kan lumayan tuh! Nantinya tinggal menukarkannya dengan tiket film sesuai pilihan.
Ternyata Sabtu tidak parah. Kami berangkat lebih awal untuk makan siang terlebih dahulu. Film dijadwalkan mulai 13.05. Saat kami membeli tiket, terlihat belum ada penonton lain untuk film yang dikabarkan mengecewakan piblik Cannes itu. Kami pun bisa memilih tempat duduk dengan bebas.
Ternyata, memang tak ada penonton lain selain kami bertiga! Serasa menyewa satu ruang bioskop dengan harga yang sangat murah sekali! Hahaha. Dan kami bertiga sepakat suka filmnya!
Oh ya. Kalau kami ke bioskop hari ini, selain untuk ngadem penasaran dengan film yang dalam judul Prancisnya diterjemahkan sebagai Autofiction itu, saya ingin mengecek mobil juga. Alhamdulillah lancar pergi dan pulang. Hanya lampu penanda masalah pada sabuk pengaman penumpang yang masih saja menyala. Saya lupa akan hal itu. Dan memang belum ada waktu juga.
Sabuk pengaman penumpang depan dan belakang kanan-kiri bisa digunakan tanpa masalah. Kebetulan Paksu yang duduk di belakang sempat berpindah tempat. Dia hanya tidak mencoba kursi belakang tengah saja—nggak seiseng itu juga lah!
Cuaca pulang lebih panas daripada saat pergi. Ditambah jalanan macet oleh orang-orang yang berakhir pekan.
Sampai saat menulis ini, kami masih bertahan menggunakan kipas angin saja di rumah. Ngeri membayangkan bulan Juni—di mana musim panas baru resmi datang, apalagi Juli dan Agustus yang merupakan bulan-bulan wajar untuk panas. Dan begini pun, masih ada yang menyangkal terjadinya pemanasan global!
Karenanya, kami simpan penggunaan AC untuk nanti-nanti saja, kalau sudah benar-benar tak tahan lagi. Sambil tetap berharap, semoga hari-hari ke depan tidak ada kenaikan suhu yang ekstrem lagi....


Comments
Post a Comment