Pesan yang Menghangatkan

Kemarin saya berjanji temu dengan sahabat Indonesia saya di Cannes. Senang sekali bisa bertemu kembali dengannya setelah ... ah, entah berapa lama. Hitungan bulan, jelas! Karena kami tak ada bertemu sepanjang musim panas sama sekali.

Kami tak bisa bertemu karena dia bekerja. Dia pekerja kontrak di restoran hotel di Cannes. Seiring makin sibuknya hotel-hotel mewah itu di musim panas, makan panjang juga jam kerja sahabat saya itu.

Tentu saja, dia tak bekerja 7 hari per minggu. Ada hari libur. Dia suka meminta libur saat akhir pekan. Atau hari Rabu di saat anaknya yang masih elementaire tidak ada sekolah. 

Saya tak mau mengganggunya di hari liburnya. Biarkan dia berkumpul dengan keluarganya. Atau kalau ternyata liburnya tak pas dengan libur anak-anaknya, paling tidak dia bisa istirahat.

Pada prakteknya, sering kali saat liburnya digunakan untuk mengurus ini-itu. Dari belanja hingga janji temu dengan dokter. Makin sulitlah kami bertemu.

Beberapa kali kejadian dia libur dan sayanya yang tak longgar. Entah sudah terlanjur ada janji temu atau pernah juga saat saya menengok si Butet. Atau saat ngintil suami perjalanan dinas. Hihihi.

Meski jarang bertemu, kami tetap menjaga komunikasi. Kami selalu saling berkabar. Saling berkirim pesan jika membutuhkan informasi. Namun kami jarang bertelepon, tuh! Seakan ada konsensus bahwa curhat panjang-lebarnya disimpan saja untuk nanti, saat kami bertemu secara langsung.

Dan begitulah. Kami bertemu di boulangerie yang tak jauh dari rumah. Dari sarapan, makan siang, hingga sesudahnya. Jadi terpikir: kemarin tidak terlalu ramai saat jam makan siang. Mungkin karena siswa-siswi SMA negeri terdekat sedang ikut demo.

Kami ngobrol ngalor-ngidul, menceritakan semua yang terjadi sejak berbulan-bulan kami tak bertemu. Sebagian cerita sudah sempat kami bagi dalam pesan pun tetap kami ceritakan. Tak terasa lebih dari 6 jam kami ngetem di meja yang sama. Personil boulangerie-nya sudah hafal. Asal nggak ada pelanggan yang sampai nggak kebagian tempat duduk saja. Lagian kami konsumsi kok!

Saya sempatkan menyampaikan oleh-oleh dari Indonesia. Hanya dia dan satu sahabat lagi yang saya khususkan membeli oleh-oleh. Hanya mereka berdua pula yang saya kabari dan tawari untuk menitipkan barang untuk keluarga di Indonesia, atau dibawakan sesuatu dari Indonesia. Asal bukan uang tunai dan barang mewah. Bukan rokok dan minuman beralkohol. 

Mereka sudah paham. Titipan juga tak boleh berat dan/atau besar. Mereka tahu kami suka perjalanan praktis, tak biasa membawa banyak barang bawaan. Dan mereka mengerti, bisa menerima kalau request titipan saya tolak.

Kali ini, oleh-oleh yang biasanya sudah minim makin mepet lagi karena saya tak ada waktu berbelanja. Selain abon yang dibelikan oleh adik ipar dan teh hasil belanja online, saya hanya sempat membelikan buku untuk sahabat saya dan Oreo BTS yang sangat sulit ditemukan di Prancis untuk anak-anaknya yang memang Army.

Sorenya, saya menerima pesan dari putri sulung sahabat saya itu. Dia berterima kasih atas biskuit yang dibeli Butet dari Alfamart dekat rumah mertua itu.

Pesan kecil yang membuat saya merasa hangat....


Comments

Popular posts from this blog

Kesaktian Emak-emak dalam Menemukan Barang Hilang

Blogger Curcoler? Yes!

7 Alasan Merantau selain Perbaikan Ekonomi